Soloraya
Minggu, 5 Februari 2017 - 13:40 WIB

BENCANA KARANGANYAR : BPBD Usulkan Relokasi Warga Sejumlah Wilayah Rawan Longsor

Redaksi Solopos.com  /  Suharsih  | SOLOPOS.com

SOLOPOS.COM - Jajaran Muspida mengunjungi lokasi terjadinnya longsor di Banaran, Kerjo, Karanganyar. Sabtu (3/12/2016) pagi. (JIBI/Solopos/Istimewa/Polres Kerjo)

Bencana Karanganyar, BPBD mengusulkan agar warga di lokasi rawan bencana direlokasi.

Solopos.com, KARANGANYAR — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar mengusulkan relokasi warga di sejumlah wilayah rawan bencana longsor.

Advertisement

Beberapa di antara mereka tersebar di Gerdu Karangpandan, Trengguli Jenawi, Plosorejo Kerjo, Wonorejo Jatiyoso, dan lain-lain. Warga yang akan direlokasi adalah warga yang menjadi korban longsor maupun berada di lokasi rawan longsor.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar, Nugroho, menyampaikan hal itu saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (4/2/2017). “Ya kan tahun lalu ada longsor di Plosorejo. Itu dekat tebing. Beberapa lokasi itu kami ajukan [relokasi] ke provinsi. Saran kami untuk relokasi. Kalau jumlah warga, sedang pendataan dan verifikasi,” kata Nugroho.

Nugroho menceritakan kondisi lokasi rawan longsor di Plosorejo, Kerjo. Menurut dia, masih ada lokasi menyerupai ceruk yang terdapat air menggenang. (Baca: 24 Rumah di Kerjo Retak-Retak, 10 Keluarga Mengungsi)

Advertisement

Nugroho menyebutnya menyerupai rawa dan masih aktif atau air mengalir ke ceruk tersebut. Lokasinya berada di atas permukiman. Bahkan jalan di dekat balai desa itu sudah bergeser tiga kali. Tetapi, Nugroho menjelaskan tidak bisa merelokasi seluruh warga yang menginginkan relokasi.

“Ada belasan orang mengajukan relokasi. Tetapi kan enggak bisa serta merta disetujui. Harus ada verifikasi. Kami pertimbangkan lokasi dan tingkat kerawanan,” tutur dia.

Dia berharap warga tidak menjadikan relokasi sebagai satu-satunya solusi. Nugroho kembali mengingatkan peran masyarakat peduli terhadap lingkungan sekitar. Masyarakat harus memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Misalnya, menanam pohon yang dapat menyerap air, membenahi saluran serta mengubah pola hidup.

Advertisement

Nugroho kembali mengingatkan peran pemerintah desa mengingatkan warga melakukan mitigasi bencana secara sederhana. Dia mengklaim sudah menyosialisasikan mitigasi bencana sederhana kepada warga di lokasi rawan bencana.

Menurut dia, sejumlah warga sudah mulai mawas, terutama saat musim penghujan. Bencana tanah longsor tidak selalu terjadi di lokasi berbukit tinggi maupun lembah. Longsor dapat terjadi di lokasi dengan bentuk bukit landai.

“Bisa saja terjadi di wilayah dengan bukit yang landai. Kan tergantung kontur tanah dan kemiringan. Desa yang memiliki kontur bukit dan lembah harus mawas diri. Jangan lelah mengingatkan warga untuk peduli dan tanggap terhadap kondisi lingkungan. Sekali lagi budaya masyarakat. Kalau masyarakat peduli, ya aman.”

Advertisement
Advertisement
Berita Terkait
Advertisement

Hanya Untuk Anda

Inspiratif & Informatif