Salah seorang petugas Jasa Marga Semarang (kanan) tengah memergoki salah seorang bocah pemburu klakson telolet di ruas Jalan Tol Semarang, beberapa waktu lalu. (JIBI/Semarangpos.com/Istimewa)
Kamis, 26 Januari 2017 10:50 WIB Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

DEMAM TELOLET SEMARANG
Razia Bocah Telolet, Jasa Marga Gandeng Polisi

Demam telolet melanda sejumlah bocah di Semarang hingga nekat menerobos jalan tol.

Solopos.com, SEMARANG – PT Jasa Marga Semarang, selaku pengelola jalan tol di Semarang, akan menggandeng aparat Satlantas Polrestabes Semarang guna mengatasi gangguan di jalan tol yang akhir-akhir ini kerap ditimbulkan oleh para bocah pemburu bunyi klakson telolet. Dengan melibatkan aparat kepolisian, Jasa Marga Semarang berharap aksi bocah yang terkena demam telolet itu bisa teratasi.

Management Traffic Manager Jasa Marga Semarang, Manyu Irwan Danu, menyebutkan selama ini pihaknya sudah berusaha merazia para bocah pemburu telot yang kerap berkeliaran di jalan tol. Meski demikian, razianya itu tak berjalan efektif.

“Dalam razia yang kami gelar beberapa kali itu memang berhasil menjaring para bocah yang kerap berkeliaran dan mengganggu pengguna jalan tol. Tapi, setelah itu mereka seperti tidak kapok dan kembali memburu klakson telolet di jalan tol. Bahkan, aksinya jadi lebih nekat dari sebelumnya,” ujar Irwan saat dijumpai Semarangpos.com di ruang kerjanya di Plaza Tol Manyaran, Semarang, Rabu (25/1/2017).

Irwan menyebutkan, bocah pemburu telolet yang terjaring razia anggota patroli jalan tol (PJT) itu diberikan pembinaan dan pengertian tentang bahaya berkeliaran di jalan tol. Meski demikian, langkah itu dinilai kurang efektif karena tidak memberikan efek jera bagi para pelaku yang rata-rata masih duduk di bangku kelas SD.

“Kalau menggandeng aparat polisi kan siapa tahu mereka jadi lebih takut dan tidak berani lagi berkeliaran di jalan tol. Apalagi, setelah itu orang tuanya turut dipanggil. Tapi, kalau seperti itu kan harus bekerja sama dengan aparat kepolisian karena mereka yang lebih berwenang. Kalau kami ini hanya petugas sipil,” beber Irwan.

Irwan membenarkan jika aksi para bocah pemburu telolet di jalan tol itu memang sudah sangat meresahkan. Terlebih lagi, para bocah itu berani berbuat nekat dengan berdiri di tengah jalan tol guna mendapatkan bunyi klakson telolet dari bus-bus yang melintas.

Para bocah itu seakan tidak memedulikan keselamatannya. Padahal jika sampat tertabrak kendaraan yang melintas di jalan tol, pihak pengendara maupun pengelola jalan tol idak bisa bisa disalahkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) No. 15 Tahun 2005 tentang Jalan Tol.

“Di peraturan itu sudah jelas diatur, barangsiapa mengganggu pengguna jalan tol jika terjadi kecelakaan tidak bisa disalahkan,” beber Irwan.

Irwan menyebutkan di jalan tol Semarang setidaknya ada tiga titik yang kerap dijadikan tempat berkumpul para bocah pemburu telolet. Ketiga lokasi itu, yakni di ruas jalan tol Tandang, Mrican, dan Gayamsari.

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…