Sejumlah pengunjung melihat keindahan alam di sekitar Pantai Timang, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Jumat (13/5/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Sejumlah pengunjung melihat keindahan alam di sekitar Pantai Timang, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus. Jumat (13/5/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 12 Januari 2017 01:40 WIB Bhekti Suryani/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KAWASAN PESISIR GUNUNGKIDUL
Kebutuhan Dasar Belum Terpenuhi Maksimal, Masih Memperihatinkan

Warga harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli air.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL– Kebutuhan dasar warga seperti air dan listrik hingga komunikasi di kawasan wisata Pantai Gesing dan Buron Desa Girikarto, Panggang, Gunungkidul masih memprihatinkan. Warga harus mengeluarkan biaya ratusan ribu rupiah hanya untuk membeli air.

Pengelola wisata Pantai Gesing dan Pantai Buron Jamuz mengatakan, aliran listrik dan air belum mencapai ke wilayah ini. Demikian pula sinyal telepon seluler. “Telepon itu hanya Telkomsel itu pun putus-putus tidak lancar, kadang bisa kadang enggak. Operator lain enggak bisa,” ungkap Jamuz Rabu (11/1).

Sedangkan air kata dia sama sekali tidak ada aliran dari Perusahaan daerah Air Minum (PDAM). Sementara air tanah tidak dapat diandalkan. Warga terpaksa membeli air setiap tiga hari sekali. Sekali membeli wargi harus mengeluarkan uang senilai Rp200.000 untuk membeli lima ribu liter atau satu tangki air.

Dahulu kata Jamuz sekitar dua tahun lalu, pernah dibangun jaringan PDAM di kawasan Pantai Gesing. Saat itu warga bahkan sudah membayar biaya pemasangan instalasi air ke rumah-rumah. Namun, pipa-pipa air menuju rumah itu hancur saat ada pembangunan jalan. “Sampai sekarang enggak diapa-apakan. Enggak jadi mengalir airnya. Padahal warga sudah bayar,” paparnya lagi.

Sementara kebutuhan dasar listrik tidak kalah memprihatinkan. Ratusan warga tidak mendapat listrik secara maksimal. Sejatinya kata dia, sudah ada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Pantai Gesing. Namun karena keterbatasan kapasitas, energi terbarukan itu hanya mampu memenuhi kebutuhan warga untuk penerangan.

Padahal, kawasan wisata serta adanya perkampungan nelayan seperti di Girikarto membutuhkan pasokan listrik berlebih. “Selain penerangan warga juga butuh untuk lemari es, juga freezer pengawet ikan. Itu enggak cukup kalau hanya PLTS,” tutur dia. Para nelayan yang membutuhkan es untuk pengawetan ikan terpaksa harus membelinya ke daerah lain hingga ke Kabupaten Bantul. Kawasan Pantai Gesing dan Buron dihuni sekitar 200-an penduduk. Baik itu penduduk asli sekitar 50 keluarga lainnya pendatang dan nelayan.

Saat ini lanjutnya, pembangunan jaringan listrik baru dimulai di Pantai Gesing. Namun pengerjaannya baru mencapai sekitar 70%. Setelah jaringan dibangun, listrik baru dapat dialirkan ke rumah-rumah warga.

Kawasan Pantai Gesing dan Buron berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Wonosari serta 12 kilometer dari Kota Kecamatan Panggang. Jamuz berharap, pemerintah memprioritaskan pembangunan di kawasan pesisir untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.

Terpisah, Manager PLN Rayon Wonosari Anang Kriswanto membenarkan buruknya fasilitas infrastruktur di kawasan pesisir Gunungkidul. Sejatinya kata Anang ada program Lisdes atau listrik pedesaan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar listrik. Namun tiap pembangunan jaringan listrik harus diajukan terlebih dahulu ke Pemerintah DIY melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). “Tahun lalu kami mengajukan penerangan di wilayah Tepus, tapi itu baru pengajuan entah direalisasikan atau tidak belum tahu sampai sekarang,” jelas Anang Kriswanto.

lowongan kerja
lowongan kerja Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Kasus Klaten Mengingat Pejabat Pengingkar Amanat

Gagasan Solopos ini telah terbit di HU Solopos Edisi Rabu (4/1/2017). Buah gagasan Muhammad Milkhan, pengurus cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten yang beralamat email di milkopolo@rocketmail.com. Solopos.com, SOLO — Predikat laknat memang pantas disematkan kepada para pejabat yang mengingkari amanat. Para pejabat…