Ilustrasi aksi sosialisasi tentang bahaya penyakit tuberculosis (TBC) (JIBI/Solopos/Dok.)
Rabu, 11 Januari 2017 16:15 WIB Indah Septiyaning W./JIBI/Solopos Solo Share :

Bak Fenomena Gunung Es, DKK Solo Sebut Kasus TBC Baru Terungkap 10%

Kasus TBC di Solo ibarat fenomena gunung es.

Solopos.com, SOLO — Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo meyakini penyebaran penyakit tuberkulosis (TBC) di Kota Bengawan ibarat fenomena gunung es.

Sekretaris DKK Solo, Purwanti, menyebutkan sesuai hasil temuan di Puskesmas jumlah kasus TBC masih sedikit. Padahal seharusnya jumlah kasus tiga kali lipat dari yang ditemukan.

“Sekarang baru ketemu 10 persennya saja,” ungkap Purwanti ketika dijumpai wartawan di Balai Kota, Selasa (10/1/2017). Padahal, kata dia, potensi penularan penyakit TBC sangat berbahaya di banding HIV, bahkan bisa mematikan.

Penyebab TBC adalah bakteri yang menyebar di udara melalui semburan air liur dari batuk atau bersin pengidap TBC. Nama bakteri tersebut adalah mycobacterium tuberculosis. “Di dunia kasus penyakit TBC menjadi isu seksi seperti HIV,” kata dia.

Sejauh ini, ungkap Purwanti, banyak penderita penyakit TBC yang enggan melaporkan kasusnya ke Puskesmas maupun layanan kesehatan lain. Sebagian lagi bahkan takut memeriksakan penyakit tersebut. Mereka khawatir vonis penyakit TBC bisa berdampak pada nasib pekerjaannya, yaitu diberhentikan dari tempatnya bekerja.

“Dua bulan pertama pegidap TBC masih berpotensi menular. Jadi mereka harus diistirahatkan. Tapi perusahaan tempat ia bekerja tidak mau tahu dan mereka akhirnya diberhentikan,” katanya.

Dengan kondisi ini, Purwanti berharap perusahaan tidak asal memberhentikan para pekerjanya yang diketahui mengidap penyakit TBC. Namun perusahaan harus kooperatif terkait program pengendalian penyakit TBC.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Penyakit dan Penyehatan DKK Solo, Efi S. Pertiwi mengatakan akan mengintensifkan pemeriksaan TBC. Pihaknya bertekad menemukan pengidap sebanyak-banyaknya untuk kemudian diobati. “Kuncinya TOSS, yaitu temukan obati sampai sembuh,” katanya.

Efi juga mengimbau masyarakat yang mengalami batuk dua pekan agar segera periksa. Beragam upaya terus dilakukan Pemkot untuk menekan kasus penyebaran TBC. Salah satunya Pemkot memberi layanan kesehatan secara gratis untuk penderita TBC di puskesmas.

“TBC itu bisa sembuh tidak seperti HIV yang tidak bisa disembuhkan. Yang penting rutin berobat enam bulan terus menerus,” jelas Efi.

Untuk mencegah penularan TBC, sebaiknya jika batuk menutup dengan lengan tangan dan bukan telapak tangan. Apabila dengan telapak tangan virus berpotensi menular saat bersalaman. “Kalau batuk kita terapkan etika. Jangan menutup pakai telapak tangan, tapi pakai lengan,” kata dia.

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…