Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Nasional menyurvei kondisi tanah di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Ponorogo, yang terdampak bencana tanah gerak, Selasa (10/1/2017) siang. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Nasional menyurvei kondisi tanah di Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung, Ponorogo, yang terdampak bencana tanah gerak, Selasa (10/1/2017) siang. (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Selasa, 10 Januari 2017 16:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

BENCANA PONOROGO
Tanah Bergerak, Pusat Vulkanologi Rekomendasikan Rumah di 4 Desa Direlokasi

Bencana Ponorogo, tim dari Pusat Vulkanologi merekomendasikan supaya rumah yang terdampak dalam bencana tanah gerak untuk direlokasi.

Solopos.com, PONOROGO — Tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Nasional merekomendasikan warga yang berada di daerah rawan tanah gerak di empat kecamatan se-Ponorogo untuk pindah atau direlokasi ke tempat yang aman.

Hal ini menjadi rekomendasi tim Pusat Vulkanologi setelah tiga hari melakukan survei dan penelitian di beberapa titik terjadinya bencana tanah gerak di Ponorogo.

Empat desa tersebut adalah Desa Talun, Kecamatan Ngebel, Desa Bekiring Kecamatan Pulung, Desa Sriti Kecamatan Sawoo, dan Desa Tugurejo Kecamatan Slahung. Empat desa tersebut diteliti dan disurvei karena kerap terjadi tanah gerak dengan berbagai intensitas.

Kepala Tim Penanggulangan Bencana Tanah Longsor, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Nasional, Heri Purnomo, mengatakan setelah tiga hari melakukan penelitian dan survei di empat desa di empat kecamatan yang berbeda itu, rekomendasi yang dikeluarkan dari tim ada dua hal pokok.

Untuk rekomendasi jangka pendek yaitu seluruh warga yang ada di lereng bukit dan daerah rawan bencana tanah gerak supaya mengungsi saat hujan mengguyur.

Sedangkan untuk rekomendasi jangka panjang yaitu dengan merelokasi rumah warga yang terdampak bencana alam itu. Relokasi menjadi pilihan terakhir ketika kondisi tanah di lokasi tetsebut terus menerus mengalami pergerakan.

Dia menyampaikan tanah gerak pada awal tahun 2017 lebih parah dibandingkan awal tahun 2016. Belum ada setahun ukuran rekahan yang ada di empat desa itu mencapai sudah berkali-kali lipat. Padahal sebelumnya panjang rekahan dalam satu titik hanya 40 cm hingga 50 cm.

“Dari empat desa yang kami survei, dua desa yang paling parah yaitu Desa Tugurejo dan Desa Talun,” kata dia kepada wartawan seusai melakukan survei di Desa Tugurejo, Selasa (10/1/2017) siang.

Menurut dia, ancaman tanah gerak hingga longsor masih akan terus terjadi di wilayah tersebut, khususnya saat musim penghujan. Hal ini karena saat hujan tanah dari atas bisa saja bergerak dan turun ke bawah menerjang rumah warga.

“Di empat desa itu sebenarnya tidak layak untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Karena kondisinya yang membahayakan dan kerap terjadi bencana,” jelas dia.

Pihaknya bersama BPBD Ponorogo secara rutin akan melakukan pengawasan dan pemantauan mengenai kondisi tanah di desa tersebut. Selain itu, sosialisasi dan peringatan dini terhadap bencana alam juga akan terus digalakkan supaya masyarakat sadar dan bisa siap siaga menghadapi bencana alam.

lowongan pekerjaan
STAFF SURVEY,MARKETING,SPG,SPB, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…