Mahasiswa dari berbagai universitas di Soloraya terlibat aksi dorong dengan polisi saat berunjuk rasa di depan Balai Kota Solo, Senin (9/1/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos) Mahasiswa dari berbagai universitas di Soloraya terlibat aksi dorong dengan polisi saat berunjuk rasa di depan Balai Kota Solo, Senin (9/1/2017). (Nicolous Irawan/JIBI/Solopos)
Senin, 9 Januari 2017 22:38 WIB Cahyadi Kurniawan/JIBI/Solopos Solo Share :

Demo Kenaikan Harga BBM, Aliansi Mahasiswa Solo Terlibat Saling Dorong

Aliansi mahasiswa Solo menggelar aksi demo memprotes kenaikan harga BBM.

Solopos.com, SOLO — Aliansi Mahasiswa Soloraya menggelar unjuk rasa di bundaran Gladak dan depan Balai Kota, Solo, Senin (9/1/2017). Massa menuntut pemerintah menurunkan harga BBM, mengembalikan subsidi tarif dasar listrik 900 VA, dan membatalkan kenaikan tarif penerbitan STNK/BPKB.

Sempat terjadi insiden saling dorong antara pengunjuk rasa dengan polisi. Mahasiswa juga sempat membakar ban dan menyegel pintu Balai Kota Solo.

Unjuk rasa dimulai ketika sekitar 350 mahasiswa dari berbagai universitas dan organisasi mahasiswa di Soloraya itu berorasi sembari membentuk lingkaran besar pukul 10.00  WIB di Bundaran Gladak depan patung Slamet Riyadi. Mahasiswa berorasi menggunakan pengeras suara dari bak pikap.

Mahasiswa juga membentangkan spanduk dan MMT berisi kecaman dan berbagai tuntutan. Aksi tersebut dikawal ratusan aparat Polresta Solo yang bersiaga sembari mengatur lalu lintas.

Seusai orasi, pukul 10.45 WIB, massa dari BEM UNS, BEM UMS, KAMMI, Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), dan lainnya itu bergerak menuju Tugu Pamandengan depan Balai Kota. Di sana, massa kembali membentuk lingkaran besar untuk melangsungkan orasi. Akibat aksi tersebut, arus lalu lintas sempat terganggu.

Di tengah-tengah orasi, mahasiswa sempat membakar ban di depan Balai Kota. Sempat terjadi insiden saling dorong saat polisi berusaha memadamkan api. Tak lama kemudian api padam.

Aksi kembali memanas, saat pengunjuk rasa¬† berusaha “menyegel” Balai Kota dengan menutup pintu gerbang besi. Aksi saling dorong dengan aparat kembali terjadi. Kericuhan reda ketika tuntutan menutup gerbang besi dikabulkan dan mahasiswa menempel spanduk dan MMT berisi kecaman pada pintu gerbang itu.

Pintu gerbang tertutup selama sekitar 30 menit. Aksi itu bubar seiring terdengarnya azan zuhur di masjid Balai Kota.

Koordinator Umum Aksi, Okta Nama Putra, mengatakan ada lima tuntutan mahasiswa yakni pemerintah mencabut kenaikan harga BBM, listrik, dan biaya tarif penerbitan STNK/BPKB.

“Kami menuntut agar pemerintah hadir sebagai solusi terhadap permasalahan yang ada dan menetapkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan kepentingan orang banyak,” kata Okta, kepada wartawan di sela-sela aksi, Senin.

LOWONGAN PEKERJAAN
Taman Pelangi Jurug, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
AMS Solo, Pendidikan Multikultur Pertama

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (27/11/2017). Esai inikarya Heri Priyatmoko, dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Menarik menyimak esai Bandung Mawardi berjudul Mengenang (Pendidikan) Guru (Solopos, edisi 24 November…