Mantan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto menunjukkan disain masjid yang akan ia bangun bersama keluarga besarnya di Jalan Malioboro saat ditemui di kediamannya di Golo, Umbulharjo, Yogyakarta, Selasa (27/12/2016). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja) Mantan Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto menunjukkan disain masjid yang akan ia bangun bersama keluarga besarnya di Jalan Malioboro saat ditemui di kediamannya di Golo, Umbulharjo, Yogyakarta, Selasa (27/12/2016). (Desi Suryanto/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 28 Desember 2016 12:55 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Wujud Bakti Kepada Ibu, HZ Bangun Masjid di Malioboro

Herry Zudianto membangun masjid dengan nama ibunya

Solopos.com, JOGJA-Malioboro menjadi pusat perekonomian di DIY. Tak heran sejengkal tanah pun dipertaruhkan di sumbu filosofi ini. Namun ada beberapa orang yang rela menghibahkan lahan di kawasan ini sebagai tempat ibadah.

Tak sedikit orang berkepentingan di Malioboro. Maklum kawasan ini bisa mendulang banyak rupiah. Di garis imajiner antara Tugu hingga Kraton ini juga berdiri perkantoran eksekutif dan legislatif yang bisa menaikkan sahwat siapa saja untuk berkuasa. Kawasan ini konon dikenal sebagai lahan godaan duniawi.

Akantetapi ada segelintir orang mengajak masyarakat untuk sejenak melupakan duniawi di sumbu filosofi tersebut. Ia mengupayakan fasilitas tempat ibadah berupa Masjid dengan harapan pengunjung sejenak berhenti dari hiruk pikuk Malioboro, lalu beribadah.

Dia adalah Herry Zudianto, pengusaha yang juga mantan Walikota Jogja. Pria kelahiran Jogja, 31 Maret 1955 ini bersama dua adik kandungnya, Ellys Yudhiantie dan Rudi Sastyawan bermufakat untuk mendirikan Masjid dengan nama Masjid Siti Djirzanah. Nama itu sengaja dipakai sebagai wujud baktinya kepada orangtua.

“Kami namakan Masjid Siti Djirzanah, [nama] ibu saya, kami bangun bertiga, saya dan adik-adik. Sebagai wujud bakti untuk orangtua yang telah mendidik kami,” ucap Herry saat ditemui Harianjogja.com di kediamannya Jalan Golo, Pandean, Umbulharjo, Kota Jogja, Selasa (27/12/2016).

Herry menyadari kawasan tersebut merupakan sumbu filosofis Kota Jogja. Ia bertekad akan membuat tempat ibadah itu tidak kalah dengan sejumlah kemewahan dunia yang ada di kawasan Malioboro, baik pusat perbelanjaan maupun lainnya. Agar pengunjung Malioboro tertarik untuk singgah meluangkan waktu beribadah dengan aman dan nyaman.

Ia berpikir merasa perlu didirikan tempat ibadah di Malioboro karena memiliki ikatan emosional kuat dengan kawasan itu. Bukan tanpa survei, kebutuhan akan beribadah salat bagi pengunjung maupun masyarakat yang beraktivitas di Malioboro tergolong tinggi.

Fakta itu bisa dilihat dari sejumlah toko yang menyediakan musala selalu berjejalan di saat waktu salat. Masjid terdekat di kawasan itu hanya ada di Komplek Kepatihan Kantor Gubernur DIY dan di Kantor DPRD DIY.

“Saya dibesarkan di Malioboro, adik-adik saya juga, saya ikut eyang, ikut orangtua juga [di Malioboro]. Semoga [masjid itu] makin menjadikan Malioboro cantik berseri dari semua aspek,” ucap dia.

Keinginan untuk membangun tempat ibadah itu datang secara spontan sejak setahun silam setelah melihat tingginya kebutuhan salat bagi pengunjung dan masyarakat yang beraktivitas di Malioboro. Ia pun bermusyawarah dengan kedua adiknya untuk menyatukan cita-cita itu.

Lowongan Pekerjaan
PT. KARTINI TEH NASIONAL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…