Masjid Agung Demak di Desa Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jateng. (pusakaindonesia.org) Masjid Agung Demak di Desa Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jateng. (pusakaindonesia.org)
Rabu, 28 Desember 2016 18:50 WIB R. Wibisono/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

WISATA DEMAK
Inilah 5 Objek Wisata Religi di Kota Wali

Pariwisata di Kabupaten Demak menyuguhkan beberapa destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi pada waktu tertentu.

Solopos.com, DEMAK – Demak kental dengan sejarah penyiaran Islam di Pulau Jawa. Satu dari 35 kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) itu bahkan dijuluki sebagai Kota Wali karena kaya jejak peninggalan wali sanga atau wali sembilan yang aktif berdakwah pada masa awal penyiaran Islam di Pulau Jawa.

Banyaknya jejak peninggalan para wali itu membuat Demak kaya destinasi wisata religi atau wisata ziarah yang hingga kini ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah. Semarangpos.com merangkum beberapa objek daya tarik wisata religi di Kabupaten Demak tersebut dalam paparan berikut ini:

Jemaah keluar dari kompleks Masjid Agung Demak di Bintoro, Demak. (JIBI/Solopos/Antara)

Jemaah keluar dari kompleks Masjid Agung Demak di Bintoro, Demak. (JIBI/Solopos/Antara)

Masjid Agung Demak
Masjid Agung Demak adalah salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia. Masjid ini terletak di Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Masjid ini dipercayai pernah menjadi tempat berkumpulnya para ulama yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa yang disebut dengan wali sanga atau kerap pula ditulis dengan ejaan walisongo.

Masjid Agung Demak berada di tengah kota dan menghadap ke alun-alun yang luas. Seperti dikutip Semarangpos.com dari pusakaindonesia.org, Masjid Agung Demak didirikan dalam tiga tahap. Tahap pertama pembangunan adalah pada 1466. Kala itu masjid tersebut masih berupa bangunan Pondok Pesantren Glagahwangi yang diasuh Sunan Ampel. Pada 1477, masjid ini dibangun kembali sebagai masjid Kadipaten Glagahwangi Demak. Pada 1478, ketika Raden Patah diangkat sebagai Sultan I Demak, masjid ini kembali direnovasi dengan penambahan luas bangunan.

Masjid bersejarah itu, kini menjadi tujuan utama wisatawan dalam menjalani wisata religi di Kabupaten Demak. Pada hari-hari tertentu seperti malam Jumat dan hari-hari besar Islam, masjid ini makin penuh wisatawan yang berdatangan dari berbagai daerah.

Museum Masjid Agung Demak. (Panoramio.com)

Museum Masjid Agung Demak. (Panoramio.com)

Museum Masjid Agung Demak
Museum Masjid Agung Demak didirikan tak jauh dari Masjid Agung Demak, tepatnya di sisi utara masjid bersejarah itu. Mudahnya akses ke museum tersebut memungkinkan wisatawan Masjid Agung Demak senantiasa menyempatkan diri singgah pula di Museum Masjid Agung Demak.

Sebagaimana dilansir museumindonesia.com, Museum Masjid Agung Demak memiliki banyak koleksi menarik terkait sejarah siar Islam di Pulau Jawa, seperti serat-serat dan kitab kuno yang ditulis oleh para wali. Di antara koleksi pustaka bersejarah itu terdapat kitab tulisan tangan tafsir juz 15-30 Alquran karya Sunan Bonang.

Disimpan pula di museum tersebut artefak terkait Masjid Agung Demak seperti beduk dan kentongan wali dari abad XV. Bahkan sakatatal atau saka guru Masjid Agung Demak yang konon dibikin Sunan Kalijaga dari tatal atau potongan-potongan kayu kecil juga disimpan di museum itu. Disimpan pula Pintu Bledeg karya Ki Ageng Sela.

Peranti pendukung Masjid Agung Demak yang kini tidak lagi dipakai, seperti gentong Tiongkok dari masa Dinasti Ming dan gentong asal Campa, juga disimpan di museum tersebut. Divisualisasikan pula di museum itu bentuk masjid sejak 500 tahun lalu sampai dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada bangunan tersebut setelah direnovasi.

Makam raja-raja Demak di Bintoro, Demak. (blog.uad.ac.id)

Makam raja-raja Demak di Bintoro, Demak. (blog.uad.ac.id)

Makam Raja-Raja Demak
Demak di Bintoro menurut Babad Tanah Jawi merupaka kerajaan Islam pertama di Tanah Jawa yang muncul setelah surutnya pengaruh Kerajaan Majapahit. Posisi itu membuat raja-raja Kasultanan Demak menjadi penting dalam catatan sejarah siar Islam di Pulau Jawa. Tak heran, makam raja-raja Demak juga kerap menjadi tujuan para wisatawan penziarah yang singgah ke kabupaten Demak.

Makam raja-raja Demak, sebagaimana diulas tempatwisataunik.com, terletak di bagian utara Masjid Agung Demak, masih di Kauman, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak. Saat memasuk area dalam Masjid Demak, wisatawan harus memilih arah kiri sesampai serambi yang berada di kolam untuk tempat wudu untuk menemukan makam raja raja Demak terdahulu itu.

Makam raja-raja Demak itu terawat dengan baik karena adanya juru kuni yang selalu menjaga permakaman tersebut. Di permakaman itu, antara lain antara lain dikuburkan Pangeran Trenggono, Raden Patah, Syekh Maulana Maghribi, sampai dengan Arya Penangsang. Wisatawan bisa beristirahat di pendapa dan paseban yang menghadap permakaman jika mengunjungi objek daya wisata ini.

Para peziarah dari berbagai daerah di Jateng dan luar provinsi sedang melantukan zikir dan berdoa di depan makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Demak. (Insetyonoto/JIBI/Semarangpos.com)

Para peziarah dari berbagai daerah di Jateng dan luar provinsi sedang melantukan zikir dan berdoa di depan makam Sunan Kalijaga, Kadilangu, Demak. (Insetyonoto/JIBI/Semarangpos.com)

Makam Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga—atau kerap pula ditulis dengan ejaan Kalijogo—adalah salah seorang dari wali sanga yang kerap pula ditulis dengan ejaan wali songo. Wali sanga atau wali sembilan itu dianggap sebagai tokoh sentral dalam catatan sejarah persebaran Islam di Pulau Jawa. Kalijaga dianggap istimewa di antara kesembilan wali tersebut karena kental memanfaatkan tradisi Jawa dalam penyiaran agama baru di tanah yang sebelumnya telah mengenal agama Hindu dan Buddha.

Kalijaga lahir dengan nama Raden Said, putra adipati Tuban. Meski lahir sebagai bangsawan di Tuban, ia dimakamkan di Demak, tepatnya di permakaman Kadilangu, Desa Kadilangu, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng). Makam salah satu dari wali sanga ini ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah setiap malam Jumat.

Sebagaimana dilansir nasirullahsitam.com, Makam Sunan Kalijaga tak akan sepi jika hari Kamis tiba. Dari pagi hingga malam makam tersebut selalu dipenuhi peziarah. Lantunan ayat-ayat Alquran dan doa terdengar dari berbagai sudut. Peziarah sebagian besar adalah para orangtua yang berasal dari berbagai kelompok pengajian.

Wisatawan menyusuri jembatan beton yang menghubungkan daratan dengan lokasi makam Wali Syeh Abdullah Mudzakir di tengah laut Desa Bedono, Sayung, Kabupaten Demak, Jateng. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

Wisatawan menyusuri jembatan beton yang menghubungkan daratan dengan lokasi makam Wali Syeh Abdullah Mudzakir di tengah laut Desa Bedono, Sayung, Kabupaten Demak, Jateng. (JIBI/Solopos/Antara/Aditya Pradana Putra)

Makam Syekh Abdullah Mudzakir
Makam Syekh Abdullah Mudzakir terletak di Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Jateng), belakangan hari ini juga ramai didatangani wisatawan yang bermaksud melakukan wisata religius atau wisata ziarah ke Kabupaten Demak. Menurut cerita rakyat, Syech Abdullah Mudzakir sebagaimana dilansir wisatademak.wordpress.com, adalah seseorang pejuang kemerdekaan Indonesia.

Syekh Abdullah Mudzakir hidup antara 1900 hingga 1960-an. Ia berasal dari kampung Wringinjajar, Kecamatan Mranggen kemudian menetap dan menumbuhkan ajaran Islam di pesisir Pantai Sayung. Namun, kondangnya makam Syekh Abdullah Mudzakir tak semata-mata karena kiprahnya dalam penyiaran Islam, melainkan karena makamnya terbilang unik.

Makam Syekh Abdullah Mudzakir kini terletak di tengah laut sehingga tak sedikit wisatawan yang menjuluki objek wisata ini sebagai makam terapung. Makam ini sejatinya berada di daratan seperti makam lainnya. Namun karena abrasi, maka daratan di sekitar makam tenggelam oleh air laut. (Ginanjar Saputra/JIBI/Semarangpos.com)

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

lowongan kerja
lowongan kerja PT. SEJATI CIPTA MEBEL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…