Orang-orang yang mengaku sebagai warga Kabupaten Rembang pendukung pembangunan pabrik semen membentangkan spanduk dan poster saat berunjuk rasa di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (27/12/2016). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo) Orang-orang yang mengaku sebagai warga Kabupaten Rembang pendukung pembangunan pabrik semen membentangkan spanduk dan poster saat berunjuk rasa di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (27/12/2016). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)
Rabu, 28 Desember 2016 10:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PABRIK SEMEN PATI
Pendukung dan Penolak Saling Berhadapan

Pabrik semen di eks Karesidenan Pati yang menimbulkan pro dan kontra membuat pendukung dan penolak eksistensinya saling berhadapan.

Solopos.com, SEMARANG — Perwakilan pendukung dan penolak berdirinya pabrik semen di Pegunungan Kendeng, eks Keresidenan Pati, Selasa (27/12/2016), saling berhadap-hadapan saat menggelar aksi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah (Jateng) di Kota Semarang.

Aparat gabungan dari Polrestabes Semarang dan Satuan Polisi Pamong Praja Provinsi Jawa Tengah berupaya menjaga jarak agar kedua kelompok tidak bentrok. Jarak antara kubu pendukung dan penolak pabrik PT Semen Indonesia yang menggelar aksi tersebut hanya sekitar 50 m.

Para pendukung pabrik semen yang datang ke Gubernuran Jateng terlihat membawa spanduk dan poster bertuliskan tekad mereka membela sampai mati pabrik semen di eks Keresidenan Pati itu. Para pendukung pabrik semen yang menyebut diri sebagai Laskar Brotoseno dan Aliansi Budaya Masyarakat Jateng Untuk Rembang Bersatu itu dengan kesamaptaan mereka menampilkan berbagai tarian daerah.

Wahyudi selaku koordinator pendukung pabrik semen memandang perlu adanya pabrik semen di Rembang karena membawa manfaat dan berdampak positif terhadap kehidupan sosial ekonomi dan budaya bagi masyarakat setempat. “Untuk itu, kami mendukung Jateng untuk maju dan mengajak warga Rembang bersatu menuju kesejahteraan dan kemakmuran,” katanya.

Sementara itu, puluhan penolak pabrik semen yang difasilitasi Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dan didominasi kalangan perempuan melantunkan shalawat sambil duduk di trotoar sambil berpayungan. Berbeda dengan kesan meluap-luapkan emosi yang ditampilkan para pendukung pabrik semen, warga yang tak ingin lingkungan hidup mereka rusak gara-gara eksploitasi terhadap Pegunungan Kendeng itu tampak lebih tenang.

Meski demikian, Wahyudi sebagaimana dikutip Kantor Berita Antara, menyebut aksinya sebagai simpatik. Dengan unjuk rasa yang dilakukan para pendukung pabrik semen di eks Keresidenan Pati itu Wahyudi berharap kegaduhan di Rembang bisa segera berakhir dengan baik dan pabrik semen dapat secepatnya beroperasi.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

lowongan kerja
lowongan kerja guru, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…