Penyerahan pataka JIFFINA disaksikan Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam peluncuran JIFFINA 2017 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sleman, Selasa (27/12/2016) malam. (Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah) Penyerahan pataka JIFFINA disaksikan Gubernur DIY Sri Sultan HB X dalam peluncuran JIFFINA 2017 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sleman, Selasa (27/12/2016) malam. (Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah)
Rabu, 28 Desember 2016 18:55 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

JIFFINA Kedua Digelar di Jogja, Ini Alasannya

Pameran di Jogja berupa Jogjakarta International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) Jawa Bali akan digelar Maret 2017

Solopos.com, JOGJA-Penyelenggaraan Jogjakarta International Furniture and Craft Fair Indonesia (JIFFINA) Jawa Bali kedua ini tetap memilih DIY sebagai tempat terselenggaranya karena merupakan daerah tujuan wisata kedua di Indonesia setelah Bali.

Arus keluar masuk orang mewarnai lalu lintas baik udara maupun darat dengan motivasi melancong dan berbisnis. Selama ini, penerbangan internasional masih terbatas, tetapi arus keluar masuk orang sangat tinggi.

“Bayangkan apabila bandara internasional di Kulonprogo kemudian jadi pada 2019, arus keluar masuk barang dan orang akan semakin meningkat, sehingga ekonomi DIY akan semakin tumbuh,” tutur Ketua Panitia JIFFINA 2017 Endro Wardoyo, dalam peluncuran JIFFINA 2017 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Sleman, Selasa (27/12/2016) malam.

DIY juga diyakini akan menjadi kota modern dengan infrastuktur yang saling menghubungkan baik dengan Jakarta maupun dengan kota-kota lainnya. Momentum inilah yang ditangkap oleh penyelenggara JIFFINA 2017, untuk menjadikan tahun sebelum beroperasinya Bandara Internasional baru sebagai tahun-tahun penyiapan dan pematangan.

Alhasil, ketika bandara internasional sudah resmi dibuka maka para pelaku usaha di bidang furniture dan kerajinan akan menjadi stakeholder yang menentukan arus ekspor impor di DIY. Ia menyebutkan, DIY mempunyai faktor pendukung bagi tumbuhnya industri mebel dan kerajinan sebagai penyumpang ekspor terbesar setelah produk tekstil dan kulit olahan.

Perwakilan dari Forum JIFFINA Jawa Bali David R Wicahyo mengatakan, industri kerajinan ini merupakan industri yang strategis karena mampu menyerap banyak tenaga kerja. Ia menyebutkan, untuk industri mebel, tercatat mampu menyerap 2,5 juta tenaga kerja.

“Kita ini memiliki banyak kelebihan misalnya keunikan, bahan lokal, ketrampilkan sumber daya manusia. Tapi, kalau kita tidak bisa memanfaatkan dengan baik kelebihan itu, maka akan jadi penghambat di pasar global dan era Masyarakat Ekonomi ASEAN [MEA],” jelas dia.

Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan, produk dari DIY memiliki daya saing yang tinggi. Namun, untuk mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi lagi, pengusaha harus berani melirik pasar yang lebih luas yang selama ini belum digarap. “Perluas penetrasi pasar ke Spanyol, Rusia, Eropa Timur, India, Turki, dan Amerika Latin,” ungkap dia.

lowongan kerja
lowongan kerja CV. M M, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…