Pohon roboh menimpa mobil setelah didera angin kencang di kawasan Blotongan, Salatiga, Jateng, Kamis (8/11/2016) (Facebook.com-Asihbudi Lestari) Pohon roboh menimpa mobil setelah didera angin kencang di kawasan Blotongan, Salatiga, Jateng, Kamis (8/11/2016) (Facebook.com-Asihbudi Lestari)
Selasa, 27 Desember 2016 00:40 WIB Abdul Hamid Razak/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

PENGHIJAUAN SLEMAN
Jangan Tebang Pohon Sembarangan

Warga diharapkan tidak sembarangan memotong pepohonan tersebut.

Solopos.com, SLEMAN- Tingginya curah hujan dan angin kencang di wilayah Sleman memang perlu diantisipasi. Angin kencang bisa menyebabkan pohon tumbang. Meski begitu, warga diharapkan tidak sembarangan memotong pepohonan tersebut.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Purwanto menjelaskan, beberapa titik dilakukan operasi rabas pohon oleh petugas BLH. Upaya tersebut dilakukan jika pohon tersebut dinilai membahayakan masyarakat. Seperti di jalan Kabupaten, wilayah Gamping. “Selain operasi rutin, pohon yang kami pangkas juga berdasarkan pengajuan dari masyarakat. Misalnya rantingnya sudah rimbun atau dahannya sudah tidak kuat lagi. Itu bisa membahayakan masyarakat,” kata Purwanto, Senin (26/12/2016).

Selain jalan Kabupaten, beberapa titik pemangkasan juga dilakukan di Pangukan dan Depok. Tujuannya untuk mengurangi beban pohon agar kasus-kasus pohon tumbang bisa diminimalisasi. “Kami antisipasi agar pohon tidak roboh selama musim penghujan. Apalagi seringkali hujan turun disertai angin kencang,” jawabnya.

Dia mengingatkan agar warga kooperatif melakukan pemangkasan pohon. Dia berharap agar pohon-pohon yang rindang tidak asal ditebang. Pohon, katanya, adalah penghasil oksigen dan penyimpan air yang ideal. Jika ditebang secara asal justru akan merugikan banyak pihak. Apalagi kawasan Sleman merupakan kawasan konservasi air sehingga penghijauan tetap harus dilestarikan.

“Jadi tolong jangan melakukan penebangan pohon secara asal. Terlebih untuk pohon yang berfungsi sebagai resapan air dan perindang. Kami berharap warga juga sadar jika Sleman merupakan kawasan konservasi air,” katanya.

Untuk itu, Purwanto menghimbau jika warga akan melakukan penebangan pohon untuk mengajukan izin. Terutama bagi pohon yang berada di kawasan jalan kabupaten wilayah Sleman. Pohon-pohon ini merupakan milik dan wewenang p
Pemkab. Dia mengaku masih menjumpai warga yang acuh tak acuh dengan aturan tersebut. Mereka menebang pohon dengan alasan kepentingan pribadi dan ekonomi.

“Untuk menebang pohon, warga mengajukan izin ke BLH. Jika izin diberikan mereka harus menyumbangkan sejumlah bibit pohon sebagai gantinya. Pengajuan izin juga untuk menjaga keamanan selama proses penebangan dilakukan. Yang jelas penebangan dan rabas-rabas itu wewenang pemerintah,” tandasnya.

Kepala Bagian Pembangunan Desa Condong Catur Murdiyanta mengaku meminta izin ke BLH agar dilakukan pemangkasan pohon beringin di depan Balai Desa Condongcatur. Pengajuan pun diajukan sejak April lalu. Prosesnya dinilai lama karena BLH melakukan survei lebih dulu sebelum dieksekusi. “Waktu disurvey memang belum dinilai membahayakan, tapi ranting sudah terlalu rendah. BLH baru melakukan pemangkasan bulan ini,” katanya.

CAD Operator, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


Iklan Cespleng
  • MOBIL DIJUAL TERIOS TS’2008,Mulus/Gagah R18,Comp AC Baru,Silver,125JtNego, Hub=085640166830 (A001…
  • LOWONGAN CR SALES Konveksi,Wanita,Usia 24-38Th,Gaji Pokok+Uang Makan+Bensin+Bonus.Hub:DHM 082134235…
  • RUMAH DIJUAL DIJUAL RUMAH Sederhana,Jl,Perintis Kemerdekann No.50(Utara Ps.Kabangan)L:12×7 Hub:081…
Lihat Semua Iklan baris!

Kolom

GAGASAN
Kemanusiaan Keluarga Polk

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/9/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO¬†— Persekusi terhadap warga Rakhine etnis Rohingya di Myanmar…