Limbah cucian PKL Malioboro meluber ke Jalur Pedestrian (IST) Limbah cucian PKL Malioboro meluber ke Jalur Pedestrian (IST)
Selasa, 27 Desember 2016 08:20 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENATAAN MALIOBORO
Sultan : PKL Tak Digusur, Tapi ..

Penataan Malioboro tidak hanya secara fisik, tetapi juga memperhatikan pengolahan limbah

Solopos.com, JOGJA — Upaya Pemda DIY menjadikan kawasan Malioboro sebagai sumbu filosofis yang nyaman bagi masyarakat tak luput dari cobaan. Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) penjual makanan menjadi kendala tersendiri dalam menjaga kebersihan paska-pembangunan proyek jalur pedestrian Malioboro tahap satu. Sejumlah pengunjung mendapati PKL di kawasan tersebut membuang limbah cucian di lantai traso pedestrian pada malam hari.

Baca Juga : PENATAAN MALIOBORO : Limbah Meluber ke Jalur Pedestrian

Berdasarkan sumber, pada libur panjang dua pekan lalu, terjadi kerusakan sekitar 12 titik bollard tabung di jalur pedestrian. Kerusakan itu terjadi karena diduga kuat terkena pinggiran roda as tengah PKL yang memaksa masuk melalui celah bollard. Selain itu, banyak pengunjung yang duduk di atas pot bunga.

Arsitek Proyek Revitalisasi Malioboro tahap satu Gono Santoso mengatakan, jalur pedestrian itu dibangun murni untuk pejalan kaki sehingga memang tidak disediakan tempat mencuci alat masak untuk PKL. Akantetapi, sejalan dengan penataan PKL yang akan dilakukan Pemda DIY, PKL bisa membuang limbah melalui selokan yang sudah disediakan terhubung dengan puluhan sumur resapan. Selain itu sebaiknya aktif membersihkan titik-titik selokan tersebut agar alirannya lancar.

“Karena kemarin waktu mau peresmian itu saja, kami harus menyedot sumur resapan itu karena lemaknya sudah penuh,” ungkap dia.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan, pihaknya tidak akan menggusur PKL Malioboro, namun hanya melakukan penataan. Ia berharap terutama kepada para PKL makanan untuk menjaga kebersihan. Serta menjaga kesehatan makanan, jangan sampai, kata Sultan, satu ember air untuk mencuci 30 piring atau mangkok. Jika hal itu dilakukan, maka tentu tidak higienis. Pihaknya tengah memikirkan terkait air bersih ini.

Sultan juga meminta kepada pemilik warung makan, jika ada sisa makanan, sebaiknya dimasukkan ke tempat sampah bukan langsung dibuang ke pot tanaman seperti yang sudah pernah terjadi. Sultan yakin para PKL yang berjualan memahami cara berjualan makanan higienis, sehingga harapannya tidak perlu mengingatkan lagi, tetapi sudah bisa mengendalikan sendiri.

“Ojo digrujugke neng tanaman seperti biasane, yo ojo [jangan dibuang di pot tanaman]. Karena sudah terlanjur biasa. Ini yang saya mohon, tidak usah diperingatkan, kita sudah bisa punya kesadaran, namanya hidup ini kita semua punya keinginan yang sama untuk itu. Oh ora kok, mergo ora ono uwong ben, aku nek ngguwang kene wae [membuang sampah seenaknya], saya kira [kebiasaan] itu tidak perlu, kita bisa saling menjaga,” ungkap Sultan.

lowongan pekerjaan
ADMINISTRASI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…