Sejumlah suporter Leicester City menggunakan topeng berwajah Jamie Vardy. (Reuters / Carl Recine)
Selasa, 27 Desember 2016 23:00 WIB Hanifah Kusumastuti/JIBI/Solopos Inggris Share :

LIGA INGGRIS
Protes FA, Leicester Pakai 30.000 Topeng Vardy

Liga Inggris diwarnai dengan hukuman untuk Jamie Vardy.

Solopos.com, LONDON — Leicester City tidak main-main dalam upaya mereka membebaskan Jamie Vardy dari sanksi larangan tiga laga. The Foxes bersama dengan para fans memberi dukungan untuk Vardy dengan mengenakan topeng si pemain.

Bomber Leicester tersebut diusir keluar lapangan ketika sedang berebut bola dengan pemain Stoke City, Mame Biram Diouf pada 17 Desember 2016 lalu. Saat itu, wasit Craig Pawson dengan sembrono memberi kartu merah langsung kepada Vardy. Alhasil, Vardy harus absen pada tiga pertandingan berikutnya.

Kubu Leicester pun menilai sanksi kepada Vardy terlalu berlebihan. The Foxes, julukan Leicester, sebenarnya sudah mengajukan banding. Namun banding mereka pun ditolak Federasi Sepak Bola Inggris (FA).

Leicester tetap tidak terima dengan keputusan itu. Juara bertahan Liga Premier Inggris itu kembali melakukan protes atas hukuman yang diperoleh Vardy. Cara yang dipakai Leicester sebagai bentuk protes dilakukan secara unik.

Mereka menyediakan 30.000 topeng dengan wajah Jamie Vardy saat laga melawan Everton pada Boxing Day di King Power Stadium, Leicester, Senin (26/12/2016) malam WIB. Ini menjadi momentum tepat menyuarakan dukungan kepada Vardy mengingat Chairman FA, greg Clarke, dijadwalkan hadir pada pertandingan ini.

Pemilik Leicester, Vichai Srivaddhanaprabha, dengan tegas menilai hukuman yang diberikan kepada Vardy tidak adil. Apalagi, Vardy akan menjalani sanksi tiga laga itu ketika Leicester sedang melakoni periode sibuk pada Natal dan Tahun Baru.

Selain absen melawan Everton, penyerang berusia 29 tahun itu tidak bisa membela The Foxes meladeni West Ham United pada malam Tahun Baru dan Middlesbrough pada 2 Januari. “Saya kecewa dengan keputusan yang tidak adil dari wasit kepada Vardy dan lebih kecewa lagi karena banding kami ditolak. Keputusan semacam ini merusak atmosfer menawan di Liga Premier,” ujar pengusaha asal Thailand tersebut.

LOWONGAN PEKERJAAN
Bagian Legal, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Elite Oligarki dalam Demokrasi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/12/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Dari manakah asal elite politik Indonesia pascareformasi ini? Sejak awal masa reformasi elite…