Rambu peringatan tanda bahaya di Pantai Selatan Yogyakarta. (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja) Rambu peringatan tanda bahaya di Pantai Selatan Yogyakarta. (Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 27 Desember 2016 08:55 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KECELAKAAN LAUT
Rambu dan Personel Tim SAR Minim, Siswi SMK Jadi Korban

Kecelakaan laut terjadi di Pantai Selatan Bantul

Solopos.com, BANTUL — Minimnya jumlah personel tim SAR dan rambu peringatan menjadi penyebab jatuhnya korban di lokasi pantai selatan Bantul. Hari terakhir libur Natal, Senin (26/12/2016) menjadi bukti kelemahan terbesar dalam aspek penyelamatan pengunjung objek wisata pantai. Khusnul Azizah, 18, siswi SMK Negeri Jetis asal Pringgolayan, Kotagede, Jogja ditemukan tak bernyawa setelah terseret ombak di Pantai Baru, Desa Poncosari, Kecamatan Srandakan, Senin (26/12/2016) siang.

Dwi Rias Pamudji, salah satu anggota Tim SAR Wilayah IV Bantul mengakui jatuhnya korban itu merupakan bukti bahwa pihaknya kini tengah kewalahan dalam melakukan pengamanan pantai. Terus melonjaknya jumlah pengunjung, terutama di wilayah kerja Tim SAR Wilayah IV tak diikuti dengan penambahan personel Tim SAR.

Dikatakannya, jumlah personel yang hanya 27 orang jelas tak sebanding dengan jumlah pengunjung yang harus mereka awasi sepanjang Laguna Pengklik, hingga Pantai Pandansimo. “Bayangkan saja, untuk mengawasi ribuan pengunjung di Pantai Baru saja, kami hanya diperkuat 7-8 orang. Kami harus terus bergerak mengingatkan pengunjung untuk tidak bermain air terlalu ke tengah,” keluhnya.

Diakuinya pula, kondisi palung laut di Pantai Baru memang terbilang berbeda dengan Pantai Parangtritis. Palung laut di Pantai Baru cenderung labil dan kerap berpindah-pindah tergantung arah ombak.

Kondisi itu diperparah dengan minimnya rambu peringatan di sepanjang Pantai Baru. Bahkan, menyambut libur akhir tahun ini, tak ada satu pun rambu peringatan terpasang. Diakui Dwi, empat buah rambu yang semula dipasangnya di titik palung yang rawan, kini sudah amblas tertelan abrasi. “Tak hanya rambu, shelter jaga Tim SAR pun sekarang juga rusak, kami terpaksa memindahkannya di sekitar sekretariat,” kata Dwi.

Terkait hal itu, Komandan Tim SAR Parangtritis Ali Sutanto membenarkan bahwa jumlah personel dan rambu peringatan adalah kendala terbesar yang dihadapi pihaknya saat ini. Sama dengan yang terjadi di Pantai Baru, dari total 6 buah rambu yang dipasangnya, kini hanya tersisa 2 buah saja.

“Sisanya hilang terseret ombak. Padahal, di sini [Pantai Parangtritis] ada tiga titik palung,” katanya.

Hanya saja, jika di Pantai Baru dibiarkan tanpa rambu, tidak dengan di Pantai Parangtritis. Menyambut lonjakan jumlah pengunjung di libur akhir tahun ini, pihaknya berinisiatif membuat rambu peringatan darurat berupa bendera warna merah bergambar tengkorak yang diikatkannya pada tiang bambu setinggi hampir 15 meter.

“Sadar tak sepenuhnya efetif, kami maksimalkan imbauan melalui pengeras suara dan pendekatan langsung ke pengunjung. Itulah sebabnya, 30 orang personel kami jelas kewalahan,” katanya.

lowongan kerja
lowongan kerja Guru, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…