Arif, 4, anak penderita hydrocephalus asal Desa Selodoko, Kecamatan Ampel, Boyolali, digendong ibunya, Surti, belum lama ini. (JIBI/Solopos/Istimewa) Arif, 4, anak penderita hydrocephalus asal Desa Selodoko, Kecamatan Ampel, Boyolali, digendong ibunya, Surti, belum lama ini. (JIBI/Solopos/Istimewa)
Selasa, 27 Desember 2016 21:40 WIB Aries Susanto/JIBI/Solopos Boyolali Share :

Hydrocephalus Bikin Kepala Anak Boyolali Ini Membesar hingga 3 Kali Ukuran Normal

Seorang anak balita dari keluarga tak mampu di Ampel, Boyolali, menderita hydrocephalus.

Solopos.com, SOLO — Seorang anak balita asal Desa Selodoko, Kecamatan Ampel, Boyolali, Arif, 4, membutuhkan uluran tangan para dermawan. Anak semata wayang dari pasangan Surti dan Harno tersebut mengalami gangguan pada aliran cairan di otaknya atau biasa disebut hydrocephalus.

Salah satu sukarelawan yang selama ini mendampingi keluarga Arif, Subarjo, mengatakan kondisi Arif sudah cukup mengkhawatirkan. Kepalanya membesar hingga tiga kali ukuran kepala normal anak seusianya.

Setiap digendong, kepala Arif harus ditopang tangan orang tuanya karena terlalu berat untuk anak seusia Arif menopang kepalanya sendiri yang membesar itu. Bahkan, selaput di bagian otaknya sudah pecah sehingga besar kemungkinan tak lagi bisa dioperasi.

“Kondisinya sudah cukup serius. Selaput sudah pecah yang berakibat otak mengecil dan sudah enggak ada harapan untuk dioperasi,” ujar Subarjo saat dihubungi Solopos.com, Selasa (27/12/2016).

Kehidupan ekonomi keluarga Arif, menurut Subarjo, terbilang pas-pasan. Ayahnya tukang cari rumput untuk ternak sapi tetangganya. Rumah yang mereka tempati saat ini berada di lahan milik kas desa alias menumpang.

Untuk membantu ekonomi keluarga, Surti menyambi membuka usaha jasa pencucian baju. “Arif ini anak satu-satunya. Gara-gara sakit inilah, orang tua Arif masih trauma memiliki anak lagi,” papar dia.

Subarjo mengatakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga Arif sejumlah dermawan datang memberikan bantuan. Kabar yang menggembirakan, saat ini biaya pengobatan Arif sudah dijamin oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. “Semua yang mengurus BPJS adalah teman-teman sukarelawan,” terangnya.

Meski biaya sudah ditanggung BPJS, biaya operasional sehari-hari masih ditanggung sendiri. Itulah sebabnya, kata Subarjo, keluarga Arif membutuhkan uluran tangan untuk biaya operasional yang tak ditanggung BPJS.

“Biaya berobat dan operasi bisa gratis, namun biaya transportasi ke rumah sakit, makan minum selama tak kerja, dan biaya lainnya kan belum ada yang memikirkan. Nah, ini menjadi tanggung jawab kita bersama,” ujar pria yang tak mau disebutkan identitas komunitasnya itu.

Subarjo mengaku sangat salut dengan ketegaran orang tua Arif. Meski kepala anak mereka mengalami kelainan, mereka sama sekali tak malu mengajaknya ke pasar atau bermain bersama para tetangga.

“Ayah ibunya sangat total kasih sayangnya. Saya terharu melihat ketegaran keluarga Arif,” paparnya.

lowongan kerja
lowongan kerja Oasis Resto, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…