Puluhan warga Desa Pleret berhadap-hadapan dengan aparat kepolisian saat melakukan aksi demo atas polusi asap pabrik briket di Pleret, Panjatan pada Selasa (27/12/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja) Puluhan warga Desa Pleret berhadap-hadapan dengan aparat kepolisian saat melakukan aksi demo atas polusi asap pabrik briket di Pleret, Panjatan pada Selasa (27/12/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)
Selasa, 27 Desember 2016 23:55 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

DEMONSTRASI KULONPROGO
Warga Pleret : Mangan Lawuh Asap, Turu Karo Asap

Demonstrasi Kulonprogo terjadi di depan pabrik briket

Solopos.com, KULONPROGO — Puluhan warga Desa Pleret, Panjatan melakukan aksi demo di depan pabrik arang briket milik PT Truva Pasifik pada Selasa (27/12/2016). Kedatangan ini buah atas kekesalahan warga atas polusi asap produksi pabrik yang semakin mengganggu.

Warga datang dengan membawa spanduk serta toa dan berorasi di depan pabrik yang sedang beroperasi tersebut. Aksi tersebut mendapatkan pengawalan ketat dari puluhan personil Polres Kulonprogo yang berjaga sejak pagi. Muji, salah satu warga Dusun 2, Pleret yang ikut dalam aksi mengatakan asap pabrik membuat lahan pertaniannya tak lagi produktif selama beberapa tahun terakhir.

Selain itu, asap yang turun sepanjang hari mengganggu semua kegiatan warga. Asap yng datang dengan partikel kecil serupa debu tersebut juga terbukti membuat sesak nafas dan kesulitan bernafas.

“Bahkan balita anak tetangga diungsikan karena matanya tidak bisa melek terkena asap,”ujarnya di sela-sela aksi.

Menurutnya, perwakilan pabrik briket ekspor tersebut sempat menawarkan untuk membeli lahannya yang terkena dampak polusi. Namun harga yang ditawarkan dianggap tidak memadai, hanya berkisar Rp350.000 per meter. Muji mengatakan sawahnya seharusnya bisa dihargai Rp1juta per meter.

Sebanyak 5 perwakilan warga kemudian menemui manajemen pabrik untuk menyampaikan keluhannya. Namun, massa yang menunggu tak sabar dan sempat terjadi aksi dorong antara warga dan aparat sesaat. Edi Kuswanto, salah satu perwkilan warga, mengatakan asap semakin parah beberapa waktu belakangan karena adanya penambahan cerobong asap pabrik.

“Mangan lawuh asap, turu karo asap [Makan berlauk asap, tidur bersama asap],”ujarnya geram. Menurutnya, asap paling parah mempengaruhi Dusun 4,5,2 Pleret dan juga mengganggu sejumlah aktivitas di institusi kesehatan dan pendidikan.

Warga meminta agar pabrik ditutup sementara perbaikan dilakukan atas cerobong asap tersebut.Selain itu, harus ada perjanjian resmi terkait perbaikan tersebut termasuk harus ada persetujuan warga jika pabrik ingin dibuka kembali. Jangka waktu perbaikan sendiri diserahkan kepada pabrik namun warga ingin pembenahan bisa dilakukan paling tidak dalam 2 minggu.

Leave a Reply


3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…