Selasa, 27 Desember 2016 09:10 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

PERTANIAN SRAGEN
Data dari BRI Tak Sinkron, Kelompok Tani Kebingungan

Pertanian Sragen, program kartu tani di Sragen diduga salah sasaran.

Solopos.com, SRAGEN — Program kartu tani yang digulirkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah lewat Badan Pelaksana Penyuluhan (Bapeluh) Kabupaten Sragen membuat bingung kalangan ketua kelompok tani.

Data nama petani dan lahan yang diberikan ke Bank BRI untuk pembuatan rekening kartu tani berbeda alias tidak sinkron dengan data yang diserahkan kelompok tani. Persoalan tersebut mengakibatkan polemik di tingkat kelompok tani.

Mereka kesulitan mengidentifikasi nama-nama yang tercantum dalam daftar petani dari BRI Sragen. Data BRI itu menjadi acuan anggota kelompok tani untuk membuka rekening di BRI karena pembelian pupuk akan dilakukan lewat transaksi kartu tani di BRI.

Salah seorang pengurus kelompok tani di Wonokerso, Kedawung, Arjuno, 42, saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Senin (26/12/2016), menunjukkan daftar nama-nama 100-an petani plus setumpuk formulir persyaratan pembukaan rekening BRI. Arjuno belum menindaklanjuti data tersebut.

Dia menyampaikan nama-nama petani yang tercantum dalam data petunjuk teknis (juknis) dari BRI tidak sesuai dengan nama-nama yang diajukan ke Pemkab Sragen lewat rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK). Atas dasar itulah, dia menduga program kartu tani itu tidak tepat sasaran.

“Lihat Mbah Demes ini, jangankan suruh mengingat PIN kartu tani. Mengingat nama cucu atau anaknya saja lupa. Ada juga Simin, seorang perantauan di Jakarta. Simin itu tidak pernah menggarap sawah. Apa ya mau pulang hanya untuk buka rekening. Ada nama Andong tetapi dalam kelompok tani ini tidak ada nama itu. Ada juga nama dukuh menjadi nama orang, seperti Mbancak. Nama Mbancak itu ada dua,” tutur dia.

Anehnya lagi, Arjuno juga menemukan nama Joyo Marijo yang sudah meninggal dunia puluhan tahun lalu masih masuk daftar. Arjuno kesulitan mencari nama-nama yang tidak sesuai RDKK itu. Nama-nama petani yang diajukannya merupakan petani penggarap yang tergabung dalam kelompok taninya.

Ketua Kelompok Tani Sentosa Tegalrejo, Gondang, Harwito, juga kesulitan mencari nama-nama petani dalam daftar yang diterimanya dari BRI. Dia pun menyampaikan hal senada bahwa daftar dari BRI tidak sesuai dengan daftar pengajuan RDKK.

Dia membandingkan dua data itu yang sama namanya hanya 75%. Kebanyakan nama yang sama, kata dia, memiliki luasan lahan yang berbeda.

“Bahkan satu keluarga, tiga orang masuk daftar semua. Luas sawahnya seharusnya 8.000 m2 hanya tercatat 5.000 m2 tetapi total luasan sawahnya benar dalam satu kelompok tani, yakni 38 hektare. Jumlah petani kami itu ada 112 orang tetapi hanya 90 orang yang masuk daftar. Dari 90 nama itu, baru 30 nama yang menyerahkan salinan KTP [kartu tanda penduduk],” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bapeluh Sragen Muh. Djazairi menyampaikan program kartu tani biar berjalan dulu. Setelah itu, Djazairi berencana mengevaluasi program itu, khusus untuk sejumlah daerah yang bermasalah.

“Pendataan dilakukan penyuluh lapangan dibantu kepala desa dengan pendampingan kelompok tani. Yang bermasalah itu mana saja akan dievaluasi,” tambahnya.

Terpisah, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, menilai program kartu tani itu terkesan dipaksakan sehingga terjadi persoalan data di lapangan. Dia berharap ada win-win solution dari Bapeluh atau Pemkab untuk menyelesaikan masalah kartu tani itu.

Kalau ketua kelompok tani harus mendata dari pintu ke pintu sesuai daftar dari BRI Itu, kata dia, mestinya juga diperhatikan tenaganya. “Sebenarnya saya sudah berulang kali menyampaikan problem kartu tani kepada pembuat kebijakan. Tetapi sampai sekarang tidak ada respons. Seharusnya ada sikap yang bijaksana dari pemerintah,” kata Suratno yang juga Ketua Kelompok Tani Rahayu, Tunggul, Gondang.

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…