Situs Warungboto (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja) Situs Warungboto (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Senin, 26 Desember 2016 01:40 WIB Ujang Hasanudin/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

WISATA JOGJA
Baru Diresmikan, Situs Warungboto Ramai Wisatawan

Situs Warungboto dijadikan tempat bagi wisatawan untuk swafoto.

Solopos.com, JOGJA-Situs Warungboto yang baru diresmikan setelah selesai dipugar pada Jumat, pekan lalu sudah banyak dikunjungi wisatawan. Wisatawan yang didominasi anak-anak mudah menjadikan situs yang berlokasi di Jalan Veteran, Umbulharjo (barat Gembiraloka Zoo) itu untuk obyek swafoto.

“Saya tahu situs ini dari teman, tempatnya bagus untuk foto-foto, hampir sama dengan Taman Sari,” kata Esti Hadiani, 22, salah satu pengunjung Situs Warungboto, Minggu (25/12/2016).

Esti tidak sendirian. Mahasiswi Universitas Ahmad Dahlan itu membawa keluarga dan teman-temnnya ke Warungboto untuk mengisi liburan. Beberapa wisatawan lainnya terlihat berswafoto di lorong-lorong situs yang konon bekas pemandian putri-putri pada zaman dahulu.

Bangunan situs seluas sekitar 2.750 meter persegi itu memang hampir sama dengan Taman Sari, di Kecamatan Kraton. Terdapat kolam yang di sekeliling kolam ada empat lorong.

Situs Warungboto merupkan Pesanggrahan Rejowinangun yang dibangun pada 1785 Sultan Hamengku Buwono II. Proses pembangunannya ketika HB I masih bertahta. Saat ini situs tersebut masih dalam proses pemugaran oleh Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) DIY. “Sebenrnya luas Situs Warungboto sampai 3.344 meter persegi sampai pinggir Kali Gajah Wong,” kata Kepala BPCB DIY, Winston Mambo.

Winston mengatakan tahun depan pihaknya akan melakukan pemugaran tahap II di bagian belakang situs. Dari hasil kajiannya bagian belakang situs adalah kolam. Namun ia belum bisa menyebutkan berapa luasan kolamnya karena masih dalam penelitian.

Menurut dia, situs Warungboto sebelum diresmikan pun biasanya ramai digunakan untuk foto pre wedding. Ia meminta untuk foto pre wedding agar ada rekomendasi dari BPCB, karena terkait dengan penggunaan perlatan yang bisa saja merusak bangunan cagar budaya.

“Misalnya tidak diperkenankan menggunakan sepatu yang alasnya tidak lentur,” kata Winston. Penggunaan sepatu high heels atau sepatu hak tinggi, kata Winston, harus dibuka saat masuk. “Boleh digunakan pas foto saja [tidak untuk jalan-jalan di sekitar situs],” ujar dia.

Selain itu, ia juga meminta pengunjung untuk mematuhi aturan yang sudah tersedia. Pengunjun dilarang mencorat-coret tembok situs dan dilarang memanjat bangunan karena bisa merusak bangunan situs.

Winston menambahkan selain memugar Pesanggrahan Rejowinangun, BPCB DIY berencana memugar 12 pesanggrahan lainnya secara bertahap. Total 13 pesanggrahan yang akan dipugar itu berdasarkan dari data Rerenggan Kraton.

Lowongan Pekerjaan
SD dan SMP AL-KAUTSAR, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…