Ilustrasi. Warga menumpang becak saat melintas di Jalan Malioboro, Jogja. (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto) Ilustrasi. Warga menumpang becak saat melintas di Jalan Malioboro, Jogja. (JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto)
Senin, 26 Desember 2016 00:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENATAAN MALIOBORO
Keren, Tapi Cari Parkir Muter Tiga Kali

Kendaraan pribadi mengular di sepanjang jalan Malioboro mereka sebagian besar mencari parkir.

Solopos.com, JOGJA – Sejumlah pengunjung mengapresiasi penataan Malioboro tahap pertama. Meski demikian, mereka mengeluhkan susahnya mencari parkir terutama di saat akhir pekan. Pada libur Natal, Minggu (25/12/2016) pengunjung jalur pedestrian Malioboro kembali membludak.

Pantauan Harian Jogja, Minggu (25/12) siang sejumlah ruas jalan menuju kawasan Malioboro dipadati kendaraan. Dari arah Jalan Mangkubumi, petugas kepolisian mengalihkan arus dari bawah jembatan Kleringan menuju Stadion Mandala Krida. Penumpukan itu terjadi di bawah jembatan karena pertemuan dua jalur dari Jalan Pasar Kembang dan Jalan Mangkubumi.

Kendaraan pribadi mengular di sepanjang jalan Malioboro mereka sebagian besar mencari parkir. Rata-rata berbelok ke timur menuju Jalan Perwakilan di selatan Gedung DPRD DIY namun banyak yang penuh. Selain itu ada pula yang berbelok ke timur di Jalan Suryatmajan, namun seringkali parkir sudah penuh sehingga kendaraan kembali ke Jalan Mataram untuk kembali lagi memulai rute masuk ke Malioboro.

Fenomena itu dialami oleh Ratna, 40, warga Kelurahan Tegalreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap kemarin. Ia harus berputar sebanyak tiga kali memasuki Jalan Malioboro hanya untuk mencari parkir untuk mobil pribadi yang mengangkut keluarganya. Selama 45 menit ia hanya berusaha mencari parkir. Tetapi, perjuangannya terbayarkan ketika tiba di Jalur Pedestrian Malioboro dengan tatanan yang rapi seperti saat ini.

“Keren sekarang [Malioboro], beda banget sama dulu. Tapi parkirnya, muter tiga kali lewat sini [depan DPRD DIY] baru dapat itu saja karena ada yang turun [dulu] mencarikan [tempat parkir],” ucapnya saat ditemui Harian Jogja di depan DPRD DIY, Minggu (25/12) kemarin.

Ratna bersama keluarganya tampak tak menyia-nyiakan kedatangannya ke jalur pedestrian dengan wajah baru itu. Berkali-kali keluarga ini mengabadikan kesinggahannya di Malioboro, mulai dari duduk di bangku, berpegangan bollar dan pose lainnya. Ia mengaku, terakhir kali ke Malioboro pada 2015 silam, saat kawasan itu masih kumuh dengan banyak bertebaran tempat parkir. “Makanan ada, oleh-oleh ada [PKL], tinggal SDM-nya [pemerintah] nanti bagaimana mempertahankan ini agar tetap rapi,” ucap dia.

Di pojok lain kawasan jalur pedestrian yang telah selesai digarap di tahap pertama, ada keluarga lain yang duduk memenuhi tempat duduk bersandar. Mereka adalah keluarga Warsito, 45, asal Tanjung Priok, Jakarta Utara. Ia datang ke Jogja secara khusus untuk mengunjungi jalur pedestrian yang telah diresmikan pekan lalu. Awalnya ia menginap di sebuah hotel kawasan Jalan Magelang, pada Sabtu (24/12) sempat datang ke Malioboro menggunakan mobil juga mengeluhkan susah parkir.

Agar mudah menjangkau Malioboro, pada Minggu (25/12) memutuskan pindah di sebuah hotel kawasan Malioboro. Sehingga ia cukup dengan jalan kaki bersama istri dan dua anaknya untuk ke Malioboro. “Kalau ditata seperti ini, Malioboro makin ngangenin,” ucapnya.

Lain lagi dengan Sigit, 38, warga Giripeni, Wates Kulonprogo. Ia berharap Malioboro diperbanyak dengan pepohonan agar jika siang hari ada perindang. Karena masih ada beberapa spot yang memang belum banyak pepohonan. Oleh karena itu, kata dia, sejumlah pohon yang kini ditanam bersamaan dengan penataan harus dijaga dengan baik. “Termasuk sampah juga, tapi itu kesadaran pengunjung. Yo piye lah pokoke ben ora ono sampah entah ada petugas yang keliling memantau atau bagaimana,” ungkap pria yang datang untuk nongkrong bersama anaknya ini kemarin.

Lowongan Pekerjaan
Staf IT Rumah Sakit Mata Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Penurunan PTKP

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (4/8/2017). Esai ini karya Muhammad Aslam, seorang praktisi perpajakan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah aslam_boy@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Target penerimaan pajak yang sering tidak tercapai selalu menjadi perhatian khusus pemerintah dari tahun…