Kepala Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, Agustanto, yang diganjar penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara oleh Presiden Jokowi. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos) Kepala Desa Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, Agustanto, yang diganjar penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara oleh Presiden Jokowi. (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)
Senin, 26 Desember 2016 23:40 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

Ini Kisah Kades Brojol Sragen yang Diganjar Penghargaan oleh Presiden

Kades Brojol, Agustanto, mendapat penghargaan dari Adhikarya Pangan Nusantara dari Presiden.

Solopos.com, SRAGEN — Kepala Desa (Kades) Brojol, Kecamatan Miri, Sragen, Agustanto, mendapat penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Penghargaan itu diserahkan Presiden di Istana Negara, 7 Desember lalu. Penghargaan itu diberikan kepada Agus atas peran sertanya sebagai pembina ketahanan pangan di Desa Brojol sejak menjabat sebagai kades pada 2013 lalu.

Agus dianggap berhasil memperjuangkan ketahanan pangan setelah mengaktifkan kembali lumbung padi yang sempat mati suri selama 23 tahun. “Lumbung padi itu adalah peninggalan ayah saya. Lumbung padi itu dibangun sebagai cadangan makanan saat paceklik datang. Namun, selama 23 tahun, lumbung padi itu mati suri,” terang Agus kepada Solopos.com, Senin (26/12/2016).

Agus mengakui sebagian besar lahan pertanian di Desa Brojol tandus atau kritis. Petani setempat mengandalkan hujan untuk mencukupi kebutuhan air di lahan pertanian mereka.

Rata-rata petani bisa tanam padi dua kali dalam setahun. Akan tetapi, sebagian besar musim tanam kedua gagal panen karena kurangnya pasokan air.

“Gagal panen itu terjadi saat padi mulai menguning. Pada saat padi mulai menguning, mestinya butuh pasokan air. Namun, apa daya petani kesulitan air. Meski bisa tanam dua kali, rata-rata petani bisa panen sekali dalam setahun,” papar Agus.

Guna mengantisipasi musim paceklik, Agus membangun 18 lumbung padi di 18 RT. Lumbung padi itu bisa digunakan untuk menyimpan cadangan gabah. Agus juga membangun lumbung padi induk yang dikelola perangkat desa.

Satu petani bisa menyimpan 25 kg gabah kering di lumbung tersebut. Apabila musim paceklik datang, gabah itu bisa diambil petani untuk dikonsumsi. Gabah itu juga bisa diambil petani saat dibutuhkan untuk pembibitan.

“Lumbung padi di tiap RT berukuran 3 meter x 6 meter bisa menampung 5-6 ton gabah, sementara lumbung padi induk berukuran 10 meter x 7 meter bisa menampung 20 ton gabah. Semua lumbung padi itu kami bangun permanen di tanah kas desa. Kami juga membangun poskamling di bagian teras lumbung itu. Dengan begitu, lumbung itu aman dari pencuri,” papar Agus.

Dalam dua tahun terakhir, terdapat dua proyek pembangunan embung air di Desa Brojol. Pemdes Brojol berencana menambah embung lagi pada tahun depan.

Agus mengakui keberadaan embung itu bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan air bagi petani. “Selain menggalakkan pembangunan embung, kami juga membangun tiga sumur dalam pada tahun ini. Tahun depan kami berencana menambah 10 unit sumur dalam. Semua anggaran berasal dari dana desa,” jelas Agus.

lowongan pekerjaan
Hotel Margangsa, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…