Seorang karyawan bengkel merangkai klakson multinada yang belakangan menjadi tren dengan bunyi telolet di bengkel Formula Jaya, Klaten, Senin (26/12/2016). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Seorang karyawan bengkel merangkai klakson multinada yang belakangan menjadi tren dengan bunyi telolet di bengkel Formula Jaya, Klaten, Senin (26/12/2016). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Senin, 26 Desember 2016 21:40 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

DEMAM TELOLET
Banyak Permintaan, Bengkel di Klaten Sampai Kehabisan Stok Klakson Telolet

Demam telolet, bengkel di Klaten kehabisan stok klakson telolet saking banyaknya permintaan.

Solopos.com, KLATEN — Demam klakson multinada atau yang dikenal telolet memberi berkah ke para pemilik bengkel di wilayah Klaten. Jumlah pesanan meningkat hingga para pemilik bengkel kehabisan stok.

Salah satu pemilik bengkel mobil, Maryono, mengatakan banyaknya pesanan klakson telolet sudah terjadi sebulan terakhir. Hal itu berimbas pada kosongnya stok klakson.

“Sudah sekitar sepekan ini kosong. Ini kami juga menunggu datangnya stok baru. Stok dari Jakarta juga terbatas,” kata pemilik bengkel Lik E tersebut saat ditemui wartawan di bengkelnya di wilayah Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Senin (26/12/2016).

Ia menjelaskan sejak demam telolet melanda hampir setiap hari ada saja warga yang memesan pemasangan klakson tersebut. Dalam sehari, permintaan pemasangan klakson telolet bisa mencapai tiga unit.

“Kalau setiap harinya tidak pasti. Tetapi, rata-rata ada pemasangan sampai tiga unit dalam sehari. Kalau sebelum ramai telolet, jarang-jarang ada yang memasang klakson tersebut,” ungkapnya.

Jenis klakson yang ia jual beragam mulai klakson yang menggunakan tekanan udara hingga sumber energi listrik. Jenis klakson telolet dijual dengan harga Rp350.000 hingga Rp1 juta.

“Kalau yang menggunakan tabung [bersumber tekanan udara] itu bisa sampai Rp1 juta. Kalau yang biasa [bersumber energi listrik] ada Rp350.000 dan Rp650.000. Biasanya yang memasang itu bus, truk, serta kendaraan pribadi. Kalau yang ramai yang seharga Rp650.000,” ujar dia.

Sementara itu, pemilik bengkel lainnya, Anton, juga tak menampik belakangan ramai permintaan pemasangan klakson itu. “Tetapi, untuk saat ini tidak ada stok karena mengikuti aturan pemerintah juga,” ungkap pemilik bengkel Anugerah Prima Motor di Desa Karanganom, Klaten Utara, tersebut.

Pemilik bengkel lainnya, Budi, juga menjelaskan demam klakson telolet sebenarnya sudah ada sejak tiga tahun lalu. Ia mengatakan pernah mendapat permintaan pemasangan klakson telolet hingga 10 unit dalam sehari.

“Kalau sekarang juga tidak pasti. Terkadang sehari bisa dipasang sampai tiga,” urai dia.

Budi juga menuturkan ada berbagai jenis klakson telolet. Terkait klakson yang ia jual, harganya beragam mulai dari Rp400.000-Rp2 juta. “Ada yang langsung terhubung dengan satu jenis suara saja, ada juga yang disambungkan dengan modul sendiri untuk dapat menghasilkan suara beragam,” kata pemilik bengkel Formula Jaya di Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, tersebut.

Budi mengatakan stok klakson ia dapatkan dari distributor di Jakarta serta Surabaya. Ia menuturkan selain sopir truk dan bus pemesan berasal dari pengemudi kendaraan pribadi. “Kalau stok saya tidak kehabisan. Sekali datang lima sampai 10 unit,” katanya.

 

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
ISI Bukan Kampus Zombi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (23/8/2017). Esai ini karya Aris Setiawan, dosen di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah segelas.kopi.manis@gmail.com Solopos.com, SOLO¬†— Institut Seni Indonesia (ISI) Solo segera dipimpin rektor baru. Rektor Sri Rochana Widyastutieningrum…