Ilustrasi mayat Ilustrasi (JIBI/Harian Jogja/Antara)
Minggu, 25 Desember 2016 16:40 WIB Tri Rahayu/JIBI/Solopos Sragen Share :

KISAH TRAGIS
2 Perantau Asal Sumberlawang Sragen Tewas di Septic Tank

Kisah tragis dialami dua perantau asal Sumberlawang, Sragen, yang meninggal dunia saat bekerja menguras septic tank.

Solopos.com, SRAGEN — Riyanto, 31, dan Ari Wibowo, 17, warga Dukuh Tanjungsari RT 006, Desa Jati, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, meninggal dunia saat bekerja menguras septic tank di sebuah proyek di Jakarta, Sabtu (24/12/2016) pukul 11.00 WIB. Jenazah keduanya diterima keluarga mereka pada Minggu (25/12/2016) sekitar pukul 11.00 WIB

Mereka dimakamkan di permakaman umum dukuh setempat pada pukul 14.00 WIB. Bayan Desa Jati, Sariman Harto Mulyono, 57, ikut mengurus jenazah mereka. Sariman juga yang menyampaikan kabar duka itu kepada keluarga mereka.

Sariman saat dihubungi Solopos.com, Minggu siang, menyampaikan Riyanto dan Ari Wibowo masih bersaudara karena orang tua mereka saudara kandung. Riyanto merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Pagi Hadiwiyono, 59, dan Kaminen, 57.

Sementara Ari Wibowo adalah bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sunarto, 48, dan Sadiyem, 48. Riyanto merantau ke Jakarta sejak sekitar 10 tahun lalu. “Ari Wibowo baru 2-3 bulan ikut Riyanto. Ari baru lulus SMA belum lama ini. Mereka bekerja di sebuah PT [perseroan terbatas]. Saya tidak tahu nama PT-nya,” ujar dia.

Sariman mengisahkan kronologi peristiwa yang menimpa kedua warganya itu. “Informasinya, mereka merantau ke Jakarta ikut PT. Mereka bekerja menguras septic tank. Saat pekerjaan hampir selesai, salah satu dari mereka memotret hasil pekerja dengan posisi agak ke bawah. Hasil potretan itu akan dijadikan laporan kepada atasan. Saat itulah muncul gas dari dalam septic tank itu. Yang satunya ikut turun. Mereka berdua ditemukan tidak bernyawa di dalam septic tank itu,” ujarnya.

Kedalaman septic tank, kata Sariman, hanya tiga meter tetapi ukuran lebarnya tidak diketahui. Orang tua Riyanto dan Ari Wibowo semula hanya diberi tahu anak mereka mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit di Jakarta.

“Informasi awal itu untuk menenangkan orang tua mereka agar tidak terlalu shock. Akhirnya, saat Subuh tadi, kami yang datang ke rumah orang tua korban untuk mengisahkan peristiwa sebenarnya,” tambah Sariman.

Begitu mendengar cerita Bayan Sariman, kedua orang tua Riyanto dan Ari Wibowo tak hanya shock tetapi pingsan. “Yang semaput [pingsan] itu tidak hanya ibu mereka tetapi juga bapak mereka. Ya, yang namanya orang tua kan pasti sedih mendengar anak mereka meninggal dunia. Biaya pemulangan jenazah ditanggung oleh PT,” tuturnya.

Sementara itu, Kapolsek Sumberlawang AKP Sugiyarto mewakili Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso belum menerima kabar tentang pemulangan dua perantauan asal Tanjungsari, Jati, Sumberlawang. Demikian pula Kasatreskrim AKP Supadi juga belum menerima kabar tentang peristiwa itu.

lowongan pekerjaan
NSC FINANCE KARTASURA, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Wacana Lama Densus Antikorupsi

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (20/10/2017. Esai ini karya Hafid Zakariya, Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Universita Islam Batik (Uniba) Solo. Alamat e-mail penulis adalah hafidzakariya@gmail.com. Solopos.com, SOLO — Rencana pembentukan Detasemen Khusus Antikorupsi yang digulirkan kembali oleh…