Tiga anak bermain catur di depan tenda pengungsian kebakaran di pendapa bekas TK Taman Putra Mangkunegaran, Minggu (25/12/2016) siang. (Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos) Tiga anak bermain catur di depan tenda pengungsian kebakaran di pendapa bekas TK Taman Putra Mangkunegaran, Minggu (25/12/2016) siang. (Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos)
Minggu, 25 Desember 2016 21:40 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

KEBAKARAN SOLO
Begini Kondisi Korban Kebakaran Tumenggungan di Tempat Pengungsian

Kebakaran di Tumenggungan, Timuran, Solo, membuat sejumlah keluarga kehilangan harta benda.

Solopos.com, SOLO — Kompleks bekas KB/TK Taman Putra Mangkunegaran di Kampung Tumenggungan RT 004/RW 001 Kelurahan Timuran, Kecamatan Banjarsari, dipadati warga, Minggu (25/12/2016). Sembilan keluarga terdampak kebakaran mengungsi di tempat itu sejak Jumat (23/12/2016) lalu.

Siang itu, mereka dibantu seratusan orang dari pengurus rukun tetangga, rukun warga, petugas linmas, pengurus karang taruna, lembaga pemberdayaan masyarakat kelurahan (LPMK), pembina kesejahteraan keluarga (PKK), bahu-membahu membersihkan bekas kebakaran dari kompor yang lupa dimatikan di salah satu rumah warga.

Era, 50, bersimpuh di tikar yang digelar di depan satu dari tiga tenda pengungsian berbentuk kubah putih berukuran 3 meter x 5 meter. Dia baru saja dijenguk kerabatnya. Suami Era rebahan di dalam tenda setelah kerja bakti. Sedangkan dua putrinya memilah pakaian sumbangan donatur.

Di sebelah Era, buku pelajaran yang separuhnya terbakar menumpuk. Buku-buku itu milik anak bungsunya yang masih kelas VI SD. “Ya tinggal ini. Surat berharga sempat diselamatkan sama kasur selembar. Suami pas memadamkan api kepikiran menyelamatkan kasur yang sudah basah kuyup. Ternyata berguna. Bisa dipakai kami bertujuh,” ucap ibu tujuh anak ini.

Saat musibah terjadi Era sedang keluar rumah, hanya ada suami, dua anak, serta dua cucunya. Sumber api berada di belakang rumahnya melumat ludes hunian yang mayoritas dari kayu jati itu. “Habis semua. Lima unit mesin jahit yang setiap hari saya pakai usaha, bahan jahitan pelanggan, kulkas, televisi, laptop, buku punya anak-anak,” beber dia.

Meskipun menanggung kerugian cukup besar, Era tak henti mengucap syukur karena seluruh anggota keluarganya selamat. Sejak rumahnya terbakar, bantuan makanan, minuman, pakaian, juga tak berhenti mengalir. Dukungan moral datang bergantian dari kerabat maupun tetangganya. Dia pun tak sabar ingin lekas menata hidup setelah rumahnya diperbaiki.

Di sudut lain tempat pengungsian itu, Eli Sutanti, 71, duduk di kursi plastik sembari menyantap sepiring nasi dengan lauk bakmi kuah yang dimasak ibu-ibu PKK Timuran. Senyumnya merekah saat kerabatnya bertandang.

Kepriye bude?” sapa perempuan itu dengan mata berkaca-kaca. Alih-alih menampakkan wajah sedih, nenek sebelas cucu itu tegar. “Alhamdulillah, masih bisa tidur di kasur dan makan kenyang,” jawabnya.

Dia menunjukkan sudut pendapa terbuka yang kini menjadi tempat tinggal sementara keluarganya. Tiga kasur pegas ditata berjajar dengan sofa yang bisa dilipat menjadi pembaringan.

Lima tikar ditata mengelilingi tempat tidur tersebut. Tumpukan baju-baju, majalah, sepatu, rak, hingga meja dan kursi yang selamat dari kebakaran diletakkan di sana-sini. Untuk menghalau angin, dia menempatkan lemari dan partisi ruangan.

Eli bersama dua anak serta dua cucunya enggan menempati tiga tenda darurat dari Palang Merah Indonesia (PMI) Solo yang disediakan bagi pengungsi. “Mending begini saja. Enggak gerah seperti tinggal di tenda. Cucu saya enggak betah panas. Tidur pun kipas angin harus menyala seperti itu,” ujarnya.

Ibu lima anak yang rumahnya terhitung paling jauh dari sumber api dibandingkan korban kebakaran lainnya ini mengaku tak sempat menyelamatkan barang di dua kamar tidur dan ruang makan. Dia berharap bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya.

Sekretaris LPMK Timuran, Suyanto, mengatakan setelah kebakaran warga bersama aparat pemerintah kelurahan langsung berkoordinasi untuk fokus pada rehabilitasi pascabencana. “Perwakilan warga dan kelurahan bergerak membantu warga di sini yang kurang beruntung. Ada yang mengumpulkan dana, membuka dapur umum, dan bersih-bersih. Kami juga sedang mengusulkan rehab rumah ke pemerintah,” jelasnya.

Lurah Timuran Marnoto mengaku belum bisa menaksir total kerugian yang menghanguskan delapan rumah warganya lantaran masih fokus rehabilitasi bencana. Untuk memulihkan trauma 15 anak-anak korban bencana kebakaran, dia mengajukan bantuan psikologis ke UMS.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Lebaran dan Wartawan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (23/6/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Lebaran tinggal menghitung jam. Semua sibuk menyambut. Tak terkecuali barisan juru…