Ilustrasi prostitusi Ilustrasi Prostitusi (JIBI/Solopos/Reuters)
Sabtu, 24 Desember 2016 23:50 WIB Imam Yuda Saputra/JIBI/Semarangpos.com Semarang Share :

PROSTISUSI SEMARANG
Menjamurnya PSK di Jl. Imam Bonjol Jadi Perhatian Netizen

Protitusi di Kota Semarang, praktiknya diduga juga terjadi di seputar Jl. Imam Bonjol, tepatnya di depan Stasiun Poncol.

Solopos.com, SEMARANG Praktik prostitusi ilegal diduga terjadi di Kota Semarang, tepatnya di sekitar Stasiun Poncol. Keberadaan para wanita pekerja seks komersil (PSK) itu pun dituding meresahkan warga Semarang hingga menjadi perhatian netizen yang tergabung dalam Grup Facebook Media Informasi Kota (MIK) Semarang (Semar).

Keprihatinan netizen MIK Semar atas adanya praktik prostitusi ilegal yang terjadi di Jl. Imam Bonjol, tepatnya di sepanjang Stasiun Poncol hingga perempatan Hotel Oewa Asia itu kali pertama ditulis oleh pengguna akun Yudianto Trisaksono. Dalam tulisannya itu, pengguna akun Yudianto Trisaksono menyatakan keresahaan atas fenomen banyaknya PSK yang akrab beroperasi di Jl. Imam Bonjol. Ia juga menyatakan keprihatinan atas ketidakpedulian Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang yang terkesan membiarkan kondisi tersebut.

Lur sopo seng setuju semarang kota wisata syahwat lur… gak ono seng setuju to.. tapi maaf para PSK yang mangkal di jalan Imam Bonjol mulai dari stasiun Poncol sampe perempatan Hotel Oea Asia aman aman saya jarang di tertibkan…. mohon maaf pak Hendi.. kami sebagai warga resah drengan keberadaan para PSK di jlaan Imam Bonjol… [Kawan, siapa yang setuju anggapan Semarang kota wisata syahwat… Enggak ada yang setuju kan.. Tapi maaf para PSK yang menongkrong di sepanjang Jl. Imam Bonjol, mulai dari Stasiun Poncol hingga perempatan Hotel Oewa Asia aman-aman saja, jarang ditertibkan. Mohon maaf Pak Hendi, kami sebagai warga resah dengan keberadaan para PSK di Jl. Imam Bonjol],” tulis pengguna akun Yudianto Trisaksono di MIK Semar, Jumat (23/12/2016).

Keluhan pengguna akun Yudianto Trisaksono itu pun mendapat respons beragam dari member MIK Semar lainnya. Banyak dari para netizen yang menyesalkan keberadaan para PSK itu dan meminta aparat penegak hukum menertibkan. “Bukankah itu sudah ada sejak berpuluh tahun lalu? Terutama di daerah hotel itu atau dulu disebut daerah belakang Kebon,” ungkap pengguna akun Bambang Irawan Soenoko.

“Teman-teman luar kota yang berwisata ke Semarang juga resah lho. Enggak nyaman pas tau hotel yang ditempati ternyata jadi tempat banyak PSK melayani pelanggan,” tulis pengguna akun Teguh Riyadi.

“Mending dtmpt kan d satu wisma biar gk djln2, mesti co sing gk kuat iman dan uangnya jd resah hahahah,” tulis pengguna akun Umi Nurhayati.

Sebenernya dengan ada lokalisasi yg benar benar menyiapkan mereka untuk entas dari dunia malam itu dibutuhkan. Dengan melokalisir juga penyakit mudah dikontrol, jumlah mudah dikontrol, trus progam program pengentasan lebih mudah dijalankan. Trus orang yang mau datang juga pikir pikir karna pasti dianggap jelek. Klo dipingir jalan kan orang manapun bisa. Bahkan anak-anak bisa,” tulis pengguna akun Daniel Rahardjo.

Msok Semarang kalah ama Surabaya. Tumpas semua tempat lokalisasi. Jln mencari rejeky byk ok gak harus jadi wanita penghibur. 50 sak penyakite hahahaha,” ujar pengguna akun Eno Putra Alam.

Kendati demikian, tak jarang juga member MIK Semar yang tak mempermasalahkan keberadaan PSK di Jl. Imam Bonjol yang diduga kerap beroperasi dengan kedok sebagai tukang ojek itu. Beberapa di antara mereka bahkan mencibir pengguna akun Yudianto Trisaksono yang ikut campur mengurusi praktik prostitusi di Jl. Imam Bonjol, Semarang itu.

“Sebagian ada yang setuju juga om.. Banyak malahan… wkwkwkk,” tulis pengguna akun Alvarendra Tokokelontong Duniamaya.

@ts ojo d pndang sbeleh mata perempuan yg berprofesi kya gtu.. mreka jg pnya alasan dan prmasalahan hidup masing”… jgn cuma d lihat dr segi negatifnya tp jg ad sisi positifnya… mgkin TS wong sugeh uripe wis pling kpenak..,” tulis pengguna akun Phil Kecetit.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

lowongan kerja
lowongan personalia, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


1

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…