Sabtu, 24 Desember 2016 19:20 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

PARKIR DI BANTUL
Wisatawan Keluhkan Tarif Parkir, Pemkab Angkat Tangan

Parkir di Bantul yang liar bertebaran saat libur panjang.

Solopos.com, BANTUL — Lemahnya komunikasi antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) memberikan celah munculnya parkir liar, terutama saat liburan panjang. Sayangnya, hal itu menyebabkan beberapa warga mengeluhkan tingginya tarif parkir yang harus mereka bayar.

Dari hasil penelusuran Harianjogja.com di lapangan, Kamis (22/12/2016) beberapa titik parkir menetapkan tarif hingga Rp10.000 untuk satu unit mobil.

“Ya sebenarnya sih tidak masalah, tapi tetap saja kami kaget. Mahal sekali,” aku Dimas Setiabudi, salah satu pengunjung asal Surabaya.

Wisatawan yang baru pertama mengunjungi objek wisata pantai di Bantul saat libur panjang itu mengaku terkejut dengan tarif parkir yang cukup tinggi tersebut. Ia mencoba membandingkannya dengan beberapa objek wisata di luar DIY yang pernah ia kunjungi saat libur panjang. “Di lokasi lain tak pernah saya ditarik setinggi ini,” ujarnya.

Kondisi itu dikhawatirkan akan memperburuk citra pariwisata Bantul yang kini tengah tumbuh. Diakuinya Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul Bambang Legowo, persoalan itu seolah menjadi masalah klise yang hingga kini belum bisa diatasi oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul.

Saat ditemui di kantornya, Jumat (23/12/2016) pagi, Bambang mengakui koordinasi antar SKPD dalam menyelesaikan persoalan parkir di objek wisata tersebut masih belum maksimal. Akibatnya, dalam membangun komunikasi dengan masyarakat pelaksana parkir pun menjadi terhambat.

Itulah sebabnya, ia membantah jika keberadaan parkir liar itu dikaitkan dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Satu-satunya Pokdarwis yang ada di Desa Parangtritis selama ini sudah berkomunikasi intens dengan pihak Dispar Bantul. “Jadi kalau ada parkir liar seperti itu, saya rasa itu oknum. Bukan kelompok,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Bantul Suwito pun mengaku tak berkutik menghadapi praktik parkir liar tersebut. Keterbatasan personel dinilainya menjadi penyebab pihaknya tak bisa maksimal dalam mengatasi persoalan tersebut.

Meski begitu, pihaknya terus melakukan sosialisasi masalah tarif parkir yang sesuai Perda, tidak hanya di jalan namun termasuk di kawasan destinasi wisata. Disinggung mengenai upaya penertiban, dia mengaku saat liburan Natal dan Tahun Baru 2017 ini, pihaknya belum bisa melakukan penertiban parkir itu.

“Kita belum bisa karena tenaga Dishub saya kerahkan di jalan,” katanya.

Dia tak menampik, tarif parkir di kawasan destinasi wisata yang mahal, namun hal itu juga kadang terjadi di objek wisata lain tak hanya di Bantul. Bahkan, dia sendiri mengaku pernah mengalami diminta tarif parkir yang mahal. Untuk menangani persoalan parkir itu, pihaknya mengaku, nantinya akan mencari lahan milik pemerintah di dekat destinasi wisata untuk dibangun lokasi parkir dengan tarif sesuai Perda.

“Nanti dibuat lokasi parkir terpadu dikelola oleh Dishub,” ungkapnya.

lowongan kerja
lowongan kerja YAYASAN AL-ABIDIN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Bung Karno, Lenso, Cha Cha Cakrabirawa

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Jumat (2/6/2017). Esai ini karya Albertus Rusputranto P.A., pengajar di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Alamat e-mail penulis adalah titusclurut@yahoo.co.uk Solopos.com, SOLO — Cakrabirawa adalah nama kesatuan pasukan penjaga Istana…