kebaya putih bordir senada Size (M) LD 94CM P: 78 PL: 55 harga 134000
Sabtu, 24 Desember 2016 02:40 WIB Kusnul Isti Qomah/JIBI/Harian Jogja Sleman Share :

EKONOMI KREATIF
Kesulitan Cari Regenerasi Perajin Bordir

Anak-anak muda lebih tertarik dengan pekerjaan yang membutuhkan proses cepat dan mendapatkan hasil yang cepat pula.

Solopos.com, SLEMAN-Kerajinan bordir merupakan salah satu ciri khas Kabupaten Kudus. Produknya pun sering dipasarkan ke DIY sebagai pasar potensial baik melalui pameran maupun pemesanan. Namun, para perajin bordir merasa kesulitan mendapatkan regenerasi.

Perajin bordir dari Kabupaten Kudus sekaligus pemilik Dahlia Bordir Sa’adah mengatakan, ia mulai merasa prihatin karena jarnag sekali anak muda yang mau mewarisi kerajinan ini. Ia menilai, anak-anak muda lebih tertarik dengan pekerjaan yang membutuhkan proses cepat dan mendapatkan hasil yang cepat pula.

“Bahkan, saya sampai buka kursus gratis enggak ada yang masuk. Sumber daya manusianya menipis karena anak muda kurang berminat,” kata dia kepada Harian Jogja ketika menggelar pameran di Hartono Mall, Sleman beberapa waktu lalu.

Ia berharap, kesadaran anak muda bisa tergugah setelah melihat potensi yang dimiliki. Saat ini pun ada cara membordir dengan menggunakan komputer meskipun hasilnya tetap tidak bisa menyamai buatan tangan.

Ia menjelaskan, bordir identik dengan kebaya. Namun, penerapan bordir sebetulnya tidak terbatas pada kebaya saja tetapi bisa pada sepatu, tas, taplak, sandaran kursi, tempat tisu, dan lainnya. Motif yang digunakan ada berbagai macam meskipun kebanyakan memakai bunga. “Ada juga motif burung, abstrak, dan juga motif lainnya,” papar dia.

Harga jual setiap produk bermacam-macam. Untuk rompi di kisaran Rp200.000 hingga Rp825.000. Untuk baju mulai dari Rp200.000 hingga jutaan rupiah tergantung dari tingkat kerumitan. Pengerjaan membutuhkan waktu dua minggu hingga satu bulan tergantung dari kerumitan motif bordir. Bahan kain yang digunakan ada beberapa pilihan misalnya katun, ceruti, hingga sutera. Untuk warna, akan disesuaikan dengan daerah tujuan.

“Sasaran pasarnya bermacam-macam. Ada anak muda dan juga ibu rumah tangga. Bordir enggak hanya bisa digunakan orang tua saja,” kata dia.

Bupati Kudus Musthofa mengaku, pertumbuhan ekonomi kreatif di Kudus cukup bagus dan perlu selalu didorong. Pemerintah berperan aktif dalam memajukan misalnya melalui program bantuan, pelatihan, dan pendampingan. Pemerintah juga ikut serta untuk memastikan regenerasi sehingga warisan budaya tetap bisa dilestarikan.

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…