Aning Widianti memeragakan cara menggunakan busur panah yang dibuat suaminya, Joko Triyanto di Dusun Ngulakan, Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Foto diambil pada Juli lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja) Aning Widianti memeragakan cara menggunakan busur panah yang dibuat suaminya, Joko Triyanto di Dusun Ngulakan, Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Foto diambil pada Juli lalu. (Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 23 Desember 2016 15:20 WIB Rima Sekarani I.N./JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

UKM KULONPROGO
Hapus Persepsi Panahanan Mahal, Joko Produksi Busur Murah

UKM Kulonprogo kali ini mengenai olahraga panahan

Solopos.com, KULONPROGO — Olahraga panahan selama ini kurang diminati masyarakat karena dianggap memerlukan alat yang mahal. Salah satu Pengurus Kabupaten (Pengkab) Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kulonprogo bernama Joko Triyanto kemudian berusaha membuat busur panah yang jauh lebih murah, tetapi tetap layak untuk latihan bermain panahan.

Joko membuat busur panah dan beberapa aksesoris pendukung lain di rumahnya, Dusun Ngulakan, Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo. Menurutnya, belum banyak orang yang melakoni pekerjaan itu di DIY. “Saya juga baru mulai dua tahun yang lalu,” kata Joko kepada Solopos.com, beberapa waktu lalu.

Joko memulai usaha tersebut karena dia dan Perpani Kulonprogo ingin membuat panahan tidak lagi dianggap sebagai olahraga eksklusif. Mereka berusaha menciptakan busur panah dengan harga yang terjangkau. Hal itu setidaknya membuat masyarakat mau berlatih panah. Mereka bahkan diperbolehkan mencoba secara cuma-cuma dengan menggunakan alat yang Perpani Kulonprogo sediakan.

“Dulu ada yang ingin ikut panahan tapi lalu menghilang setelah dikasih tahu butuh alat seharga Rp6 juta,” ungkap dia.

Joko membuat busur panah dari kayu mahoni dan pipa pralon. Dia mendesainnya dalam berbagai ukuran karena disesuaikan dengan kondisi pemain, yaitu mulai dari anak-anak hingga dewasa. Dalam sehari, dia dan beberapa rekannya bisa menyelesaikan empat sampai lima unit per hari. Alat itu kemudian kebanyakan dijual di Jogja dan sekitarnya seharga Rp500.000 per unit. Ada pula yang dijual ke wilayah Jawa Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Bali, Riau, hingga Papua. Permintaan umumnya berasal sari kalangan pelatih, klub panahan, dan sekolah yang memiliki ekstrakurikuler panahan.

Soal kualitas, Joko mengaku kualitas produk impor jelas tetap jauh lebih baik. Meski begitu, hal itu tidak masalah karena busur panahnya memang hanya untuk berlatih teknik dasar panahan, bukan dipakai dalam kejuaraan yang menuntut akurasi tinggi. “Ini khusus untuk latihan teknik saja, bukan akurasi.

Selain busur panah, Joko juga memproduksi aksesoris olahraga panahan, seperti pelindung dada, pelindung jari, tas panah, dan lainnya. Istrinya, Aning Widianti, sering membantunya membuat aneka aksesoris itu. “Sekarang semakin banyak yang tertarik belajar panahan karena alatnya lebih murah,” ujar Aning.

lowongan kerja
lowongan kerja griya bambu kuning, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


1

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…