Tanah menumpuk di tepi saluran saluran irigasi di Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat, Klaten, yang dinormalkan dua pekan terakhir. Foto diambil Kamis (22/12/2016). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos) Tanah menumpuk di tepi saluran saluran irigasi di Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat, Klaten, yang dinormalkan dua pekan terakhir. Foto diambil Kamis (22/12/2016). (Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos)
Jumat, 23 Desember 2016 06:10 WIB Taufiq Sidik Prakoso/JIBI/Solopos Klaten Share :

PENGAIRAN KLATEN
Tak Mau Kebanjiran, Petani Bayat Berswadaya Normalkan Saluran Irigasi

Pengairan Klaten, saluran irigasi di Desa Tegalrejo, Bayat, dinormalkan karena sering meluap.

Solopos.com, KLATEN — Saluran irigasi di Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat, Klaten, sudah tak berfungsi dan kerap meluap membanjiri sawah di sekitarnya. Tak mau kebanjiran terus, petani setempat berswadaya menormalkan saluran irigasi itu agar kembali berfungsi dan tidak menyebabkan banjir.

Saluran itu berada di wilayah Dukuh Bulu yang berbatasan dengan Desa Kedungampel, Kecamatan Cawas. Normalisasi saluran sepanjang 2 kilometer (km) dilakukan selama dua pekan terakhir. Camat Bayat, Edy Purnomo, mengatakan normalisasi dilakukan menggunakan alat berat dari Kodim 0723/Klaten.

”Normalisasi merupakan hasil kesepakatan dua desa yakni Desa Kedungampel dan Tegalrejo. Kemudian diajukan melalui kecamatan dan difasilitasi dari Kodim. Pengerukan selesai Rabu [21/12/2016] sore,” kata Edy saat ditemui wartawan di sela-sela syukuran pengerukan saluran tersebut di Desa Tegalrejo, Kamis (22/12/2016).

Edy mengatakan sedimentasi saluran yang berhilir di Kali Mangu itu cukup parah. Saluran tersebut peninggalan zaman kolonial dan sebelumnya tak pernah dinormalkan. “Kondisinya sudah tidak berfungsi lagi. Ketinggian sedimen rata-rata 1 meter. Ada bagian badan sungai juga sudah ditumbuhi tanaman sehingga saluran menyempit,” kata Edy.

Tak berfungsinya saluran tersebut membuat lahan pertanian di sepanjang saluran itu kerap kebanjiran. Ia mencontohkan belum lama ini sawah seluas 25 hektare (ha) terendam air akibat luapan air dari saluran tersebut. “Dampaknya sawah kerap terendam air. Untuk musim hujan kali ini petani sudah dua kali tanam karena tanaman padi mati akibat terendam air,” urai dia.

Kades Tegalrejo, Tri Wiyono, mengatakan keinginan petani agar saluran tersebut dinormalkan sudah cukup lama disampaikan. Namun, lantaran berada di dua desa normalisasi harus berdasarkan kesepakatan antara dua pemerintah desa. “Normalisasi merupakan swadaya dari para petani. Harapannya normalisasi bisa terus dilakukan dan mendapat bantuan dari pemerintah,” katanya.

Salah satu petani, Robai, 62, membenarkan sebelum dinormalkan sawah yang ia garap kerap kebanjiran. Ia mencontohkan pada musim tanam kali ini sudah dua kali menanam karena tanaman padi mati terendam air. “Ini mau tanam kembali untuk kedua kalinya. Untuk satu kali tanam itu saya mengeluarkan biaya Rp1 juta untuk membeli benih padi, tenaga tanam, serta pemupukan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Tengah (Jateng), Sarwa Pramana, mengatakan melalui normalisasi tersebut diharapkan tak lagi terjadi luapan saluran irigasi hingga berimbas ke lahan pertanian. Ia meminta para petani ikut menjaga saluran yang sudah dinormalkan.

lowongan kerja
lowongan kerja Penerbit Ziyad, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…