Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Jumat, 23 Desember 2016 02:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENATAAN MALIOBORO
Sultan Minta Jangan Ada Tenda Biru Menutupi Peti

Sultan minta keindahan Malioboro tetap terjaga dan berharap tidak ada lagi tenda biru PKL yang menutupi peti di jalur pedestrian.

Solopos.com, JOGJA – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan kawasan Jalur Pedestrian Malioboro yang telah selesai pada proyek tahap pertama, Kamis (22/12/2016) petang. Sultan minta keindahan Malioboro tetap terjaga dan berharap tidak ada lagi tenda biru milik pedagang kaki lima (PKL) yang menutupi peti di jalur pedestrian.

Sebelum tiba di lokasi peresmian tepatnya di depan Gedung DPRD DIY, Sultan bersama sejumlah pejabat Forkompimda berjalan menyusuri sepanjang Malioboro dari Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur menuju ke utara depan Gedung DPRD DIY. Di sepanjang jalan, Sultan dikerumuni ratusan warga yang ingin berjabat tangan. Selama perjalanan, Raja Ngayogyakarta itu mengecek sejumlah fasilitas street furniture, termasuk berkomunikasi dengan penyandang disabilitas menanyakan perihal kenyamanan fasilitas.

“Saiki jajal dicoba kepiye, kiro-kiro2 apane sing kurang,” ucap Sultan saat berkomunikasi dengan salahsatu penyandang disabilitas tuna netra bernama Ahmad Sholeh. Sultan meminta Ahmad untuk merasakan tactile yang terpasang pada traso.

“Ini sudah bagus,” jawab Ahmad di tengah kerumunan ratusan pengunjung.

Selain Ahmad, ada seorang penyandang disabilitas menggunakan kursi roda saat berbincang dengan Sultan, mengeluhkan sempitnya jarak antar bollard bulat seperti di depan Malioboro Mall. Sultan langsung mengecek bollard tersebut agar bisa segera ditindaklanjuti.

Sebelum meminta kepada warga Jogja maupun pendatang ikut mengkritisi selama proses pembangunan. Dengan banyak masukan maka hasilnya akan lebih baik sehingga masyarakat merasakan keamanan dan kenyamanan Malioboro. “Silahkan mengkritisi, tetapi jangan sampai baru mengkritisi setelah semua jadi ini yang repot,” ucap Sultan.

Sultan berjanji tidak akan menggusur PKL, karena PKL menjadi ciri khas Malioboro. Namun ia meminta agar PKL menaati arahan dinas terkait, salahsatunya dengan tidak meninggalkan peti yang ditutupi terpal. Melihat fakta barang yang ditinggal dengan ditutupi terpal, sebaiknya semua barang dagangan tidak perlu harus dibawa. Stok barang harus disediakan secukupnya. Sultan punya pemikiran khusus PKL tersebut, utamanya saat revitalisasi sisi barat dibangun sistem underground sebagai penyimpanan barang. Sehingga tidak ada lagi peti yang ditutupi terpal yang justru menganggu kerapian ruang terbuka Malioboro.

“Bagaimana kalau [warung/toko] tutup itu tidak ada tenda biru lagi nggo nutup peti. Soalnya nanti sudah [dibangun] bagus, begitu para PKL tutup [jualannya] ada peti-peti yang dikrukupi tenda biru, ya percuma,” ungkap Sultan.

Kepala Dinas PUP-ESDM DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan, jalur pedestrian Malioboro yang diresmikan itu dengan panjang 910 meter dan luas. 10.700 meter. Terpasang 32 unit lampu budaya, 94 unit tempat sampah, serta terpasang 115 kursi sandar dan 54 kursi tanpa sandar. Selain itu street furniture lainnya, bollard tabung 413 unit, bollard bulat 68 unit. Kemudian 71 pohon Asam Jawa, sembilan pohon Gayam dan pohon Perdu Soka yang terpasang pada 917 meter dengan bungan warna-warni seperti merah dan jingga. Ia meminta kepada pengunjung agar tidak melakukan corat coret di kawasan Malioboro. Karena belum lama ini sudah ditemukan tempelan poster iklan.

“Dari sekian banyak proyek yang kami tangani, ini [Malioboro] paling berat, karena sosialisasi tidak pernah selesai selalu ada permintaan baru. Saya yakin permintaan, saran, kritik ini karena kecintaan mereka semua terhadap Malioboro,” kata Rani.

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Lebaran dan Wartawan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (23/6/2017). Esai ini karya Heri Priyatmoko, dosen Ilmu Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah heripri_puspari@yahoo.co.id. Solopos.com, SOLO–Lebaran tinggal menghitung jam. Semua sibuk menyambut. Tak terkecuali barisan juru…