Komisi II DPRD Solo mengecek pengerjaan penataan Koridor Adi Seomarmo, Banyuanyar, Banjarsari, Kamis (22/12/2016). (JIBI/Solopos/Istimewa) Komisi II DPRD Solo mengecek pengerjaan penataan Koridor Adi Seomarmo, Banyuanyar, Banjarsari, Kamis (22/12/2016). (JIBI/Solopos/Istimewa)
Jumat, 23 Desember 2016 09:00 WIB Ivan Andimuhtarom/JIBI/Solopos Solo Share :

PEMBANGUNAN SOLO
Legislator Kecewa dengan Hasil Penataan Koridor Adi Soemarmo

Pembangunan Solo, anggota DPRD Solo kecewa dengan hasil pekerjaan proyek drainase dan jalur pedestrian Jl. Adi Soemarmo.

Solopos.com, SOLO — Para legislator di Komisi II DPRD Kota Solo kecewa dengan hasil pekerjaan rekanan Pemerintah Kota (Pemkot) Solo pada proyek perbaikan drainase dan jalur pedestrian di koridor Jl. Adi Soemarmo, Banyuanyar, Banjarsari.

Menjelang akhir tahun, masih banyak pekerjaan yang belum rampung. Anggota Komisi II DPRD Solo mengadakan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek tersebut pada Kamis (22/12/2016). Sekretaris Komisi II, Supriyanto, mengatakan proyek koridor Adi Soemarmo didanai senilai Rp1,3 miliar.

Ia menilai ada beberapa pekerjaan yang belum selesai misalnya pembuatan tempat lampu. “Cor beton untuk semacam lampu taman baru terpasang setengah dari jumlah seharusnya. Kami lihat jaringan kabel belum ada,” ujar dia saat ditemui Solopos.com seusai sidak, Kamis.

Supri juga menyoroti saluran drainase lama maupun baru yang masih tertutup. Padahal, drainase tersebut dimaksudkan menampung curahan air agar tidak menggenang di jalan.

“Kami juga melihat ada aspal yang ambles dan retak. Itu adalah bagian dari proyek. Saya pesimistis proyek itu bisa tuntas dalam dua pekan ke depan,” kata politikus Partai Demokrat tersebut.

Meski demikian, Komisi II berinisiatif menganggarkan proyek lanjutan penataan koridor Adi Soemarmo pada 2017. Ia menyebut dana Rp3 miliar siap dikucurkan untuk penataan sekaligus pembuatan tugu batas kota.

Ketua Komisi II DPRD Solo, Y.F. Sukasno, yang juga ikut dalam sidak mengutarakan keinginannya agar pelaksana proyek segera memperbaiki kekurangan dan bagian proyek yang belum selesai.  “Aspal yang ambles dan retak bisa membahayakan pengguna jalan. Kalau tidak segera diperbaiki bisa saja ban mobil membuatnya makin ambles. Itu kan bagian dari pekerjaan pengembalian kondisi jalan setelah pelaksana proyek memasang box culvert untuk drainase,” paparnya saat ditemui Solopos.com, Kamis.

Lebih lanjut, Sukasno menyayangkan perencanaan penataan koridor Adi Soemarmo. Menurutnya, sesuai garis sempadan jalan (GSJ), Pemkot Solo bisa memperlebar jalan utama dengan meminggirkan akses pedestrian sampai batas GSJ tersebut.

“Mengapa untuk jalur pedestrian sampai lebar 3 meter. Harusnya direncanakan, dengan selesainya jalur pedestrian, jalan tambah lebar. Pada 2017 kami minta Pemkot bekerja sama dengan Badan Pertanahan Negara [BPN] untuk mengetahui di mana batasnya. Itu jadi titik awal perencanaan,” ungkap politikus senior PDIP tersebut.

Ia menilai koridor Adi Soemarmo seharusnya lebih lebar karena jalan itu akan jadi akses keluar orang luar Solo yang melewati tol Solo-Kertosono. Pengembangan kawasan itu juga berkorelasi dengan pengembangan Solo bagian utara.

“Kami juga sidak ke Jl. Letjend Suprapto. Tinggal kurang inlet untuk drainase. Anggarannya dulu Rp3,6 miliar,” kata dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
Tegar Transport Hotel Paragon Solo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…