Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Bangku taman di Pedestrian Malioboro depan Gedung DPRD DIY menarik wisatawan untuk berswa foto di momen libur panjang Maulud Nabi, Senin (12/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 22 Desember 2016 07:40 WIB Sunartono/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PENATAAN KOTA JOGJA
Arsitek Minta Handarbeni Terhadap Malioboro

Arsitek yang juga desainer kawasan Malioboro meminta semua pihak memiliki rasa handarbeni terhadap Malioboro agar tetap terjaga.

Solopos.com, JOGJA – Gubernur DIY dijadwalkan akan meresmikan kawasan jalur pedestrian Malioboro yang selesai pembangunan proyek tahap pertama pada Kamis (22/12/2016) sore. Arsitek yang juga desainer kawasan Malioboro meminta semua pihak memiliki rasa handarbeni terhadap Malioboro agar tetap terjaga.

Proyek revitalisasi Malioboro pada tahap satu dengan nilai kontrak sebesar Rp13,9 miliar yang menjangkau antara Hotel Inna Garuda hingga Hotel Mutiara kawasan timur Malioboro dengan panjang sekitar 537 meter. Sedangkan proyek tahap kedua yang kini masih berjalan dengan nilai Rp9,7 miliar dari kawasan Hotel Mutiara hingga Pasar Beringharjo. Desainer proyek ini adalah Ardhyasa Fabrian Gusma yang memenangkan sayembara pada 2014 silam. Hingga kini ia masih aktif terlibat dalam memantau proyek tersebut.

Gusma berharap kepada semua pihak untuk memiliki rasa handarbeni atau rasa memiliki terhadap Malioboro pasca diresmikan sebagai ruang publik. Bekal rasa memiliki itu diharapkan semua pihak dapat aktif terlibat menjaga ruang publik agar tetap nyaman dan bersih pasca pembangunan. “Tidak hanya dari pengguna ruang, tetapi juga PKL, pemilik toko tetapi juga komunitas yang keluar pada malam hari [harus saling menjaga],” terangnya kepada Harian Jogja, Rabu (21/12).

Pemuda yang telah memenangkan 19 kali sayembara penataan kota ini juga berharap kepada pihak terkait agar memaksimalkan penambahan fasilitas ruang publik Malioboro. Pengadaan street furniture seperti bangku dan lainnya sebaiknya ditambah, sehingga euforia masyarakat terhadap ruang publik dapat terpenuhi di tahap awal.

Selain itu, penataan Malioboro tahap saat ini sejatinya masih dalam fase pertengahan. Karena masih ada penataan titik nol dan ruang lainnya di kawasan tersebut. “Jadi mohon kerjasama dari seluruh dan segenap pihak yang terkait dengan Malioboro agar dapat membantu mensukseskan penataan Malioboro sebagai ruang publik yang nyaman,” ujar arsitek berusia 27 tahun ini.

Kepala Dinas PUP-ESDM DIY Rani Sjamsinarsi mengatakan, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono dijadwalkan meresmikan jalur pedestrian Malioboro tahap pertama tepatnya di depan Gedung DPRD DIY, sekitar pukul 16.00 WIB. Sejalan dengan pelaksanaan tahap kedua, maka 2017 akan dilakukan pengadaan gerobak khusus PKL Malioboro. Pihaknya telah memiliki tiga desain untuk gerobak PKL. Desain itu berdasarkan jenis makanan yang dijual. Ketiganya pernah dipamerkan dalam salahsatu pameran di Benteng Vredeburg beberapa waktu lalu.

“Peresmian besok [sore ini] dilakukan dengan menyalakan lampu. Sebelum [meresmikan] Malioboro, Ngarso Dalem meresmikan [gedung] Pracimasono lebih dahulu,” terang wanita yang juga Penjabat Sekda DIY ini.

Penjabat Walikota Jogja Sulistyo menyatakan, pihaknya akan mendorong UPT Malioboro untuk bisa secara bersama-sama menjaga jalur pedestrian Malioboro. Agar tetap nyaman dinikmati masyarakat seperti wisatawan. “Kami akan maksimalkan UPT Malioboro untuk menjaga supaya pedestrian yang sudah dibangun Provinsi ini supaya bisa digunakan warga dengan nyaman dan enak,” ungkap dia.

LOWONGAN PEKERJAAN
Taman Pelangi Jurug, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…