Giyah, 62, nenek-nenek asal Slahung, Ponorogo, sudah hampir 50 tahun menjadi pengrajin gerabah, Rabu (21/12/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Giyah, 62, nenek-nenek asal Slahung, Ponorogo, sudah hampir 50 tahun menjadi pengrajin gerabah, Rabu (21/12/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Kamis, 22 Desember 2016 16:08 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Nenek-Nenek asal Ponorogo Ini Mampu Membuat 30 Kendil Per Hari

Seorang perempuan berusia 63 tahun mampu membuat 30 gerabah jenis kendil per hari.

Solopos.com,  PONOROGO — Meski usianya sudah renta, nenek Giyah, 63, tidak pernah menyerah. Ia terus berusaha mencukupi perekonomian keluarganya dengan membuat gerabah. Setiap hari, Giyah bisa menghasilkan 30 gerabah jenis kendil dari kedua tangannya sendiri.

Di rumahnya di RT 001/RW 002, Dusun Krajan, Desa Gombang, Kecamatan Slahung, Ponorogo, itu ratusan gerabah yang sudah jadi maupun setengah jadi tertumpuk rapi. Ratusan gerabah itu menunggu untuk diambil tengkulak dan dijual kembali di pasar.

Ratusan gerabah yang setengah jadi juga menumpuk di dalam rumah dan siap dibakar. Pembakaran ratusan gerabah itu ditunda sebulan karena kondisi cuaca yang sering hujan.

“Kalau musim hujan seperti sekarang ya sulit untuk membakarnya, karena tempat pembakarannya kan di luar,” jelas dia kepada Madiunpos.com di rumahnya, Rabu (21/12/2016).

Giyah menuturkan proses produksi gerabah itu paling berat saat pembakaran karena tergantung cuaca. Pada musim kemarau, pembuatan gerabah hingga selesai bisa dilakukan cukup satu hari. Tetapi, saat musim penghujan pembakaran tertunda hingga sebulan.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, selama ini dirinya mengandalkan tanah liat dari Ringinanom, Kecamatan Sambit. Satu pikap tanah liat biasanya seharga Rp250.000. Biasanya bahan baku satu pikap itu bisa untuk membuat seribuan gerabah dengan berbagai ukuran.

Harga kendil besar itu Rp6.000/buah dan kendil kecil Rp2.500/buah. Biasanya setiap bulan para tengkulak mengambil gerabah yang sudah jadi itu lalu dijual ke pasar.

“Keuntungannya saya enggak pernah menghitung. Yang penting bahan baku ada dan saya masih bisa membuat gerabah, ya jalan. Keuntungan saya juga enggak tahu berapa,” terang Giyah.

Dia mengaku sudah hampir 50 tahun menjadi pengrajin gerabah. Hasil dari penjualan gerabah itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai sekolah anak-anaknya.

Giyah senang menjalani pekerjaannya ini tanpa ada rasa lelah. Namun, keahliannya sebagai pengrajin gerabah itu tidak diwarisi ketiga anaknya yang kini memilih bekerja di luar negeri atau luar kota sebagai buruh.

“Anak-anak saya tidak mau melanjutkan usaha ini. Padahal sebenarnya kalau ditekuni, usaha ini bisa menghidupi keluarga,” ujar dia sambil terus menghaluskan gerabah.

Giyah mengaku sangat mencintai pekerjaannya ini dan menikmatinya. Apalagi, ketika produknya itu bisa bermanfaat bagi banyak orang.

Lowongan Pekerjaan
PT. Sejati Cipta Mebel, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Isu Kemiskinan di Jawa Tengah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (8/8/2017). Esai ini karya Edy Purwo Saputro, dosen di Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah E.Purwo.Saputro@ums.ac.id.  Solopos.com, SOLO–Pemilihan gubernur Jawa Tengah 2018 telah memanas dengan munculnya sejumlah kandidat dari sejumlah…