Aksi diam bentuk solidaritas pelajar di Tugu Jogja, yang tergabung dalam Aliansi Pelajar Jogja atas peristiwa klitih dan kekerasan antar pelajar yang terjadi beberapa waktu lalu, Minggu (18/12/2016). ( Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Aksi diam bentuk solidaritas pelajar di Tugu Jogja, yang tergabung dalam Aliansi Pelajar Jogja atas peristiwa klitih dan kekerasan antar pelajar yang terjadi beberapa waktu lalu, Minggu (18/12/2016). ( Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Kamis, 22 Desember 2016 10:20 WIB Arif Wahyudi/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

KEKERASAN JOGJA
Klitih Pelajar Terjadi karena Persoalan Ini?

Kekerasan Jogja untuk kenakalan remaja dapat diatasi dengan beberapa cara

Solopos.com, JOGJA — Tim Advokasi Pelajar Korban Kekerasan DIY mengajak semua elemen untuk tanggap mengatasi kejahatan klithih yang sedang marak di Jogja lewat komitmen gerakan bersama. Tim tersebut menyatakan, pemberantasan klithih tidak bisa hanya melibatkan aparat penegak hukum saja, dalam hal ini kepolisian.

Dekan Fakultas Hukum UAD Rahmat Muhadjir Nugroho menyoroti kinerja para guru dalam fenomena berkembangnya aksi kekerasan yang dilakukan para pelajar sekolah ini. Rahmat melihat banyak guru sekarang juga sibuk dengan dunianya sendiri sehingga hak pendidikan siswa terabaikan. Terkadang guru juga kurang peka ketika para siswanya terlibat dalam organisasi geng sekolah yang berpotensi memupuk permusuhan antar sekolah.

“Guru jangan hanya sibuk dengan upaya mencari sertifikasi atau uji kompetensi guru saja. Sedianya guru harus peka, ada enggak geng pelajar tersebut. Kalau ada otoritas harus segera membubarkan,” jelasnya, Selasa (21/12/2016)

Rahmat pun menggariskan, masing-masing pimpinan sekolah harus menjadi garda terdepan untuk menjaga perdamaian antar sekolah. Artinya baik kepala sekolah, guru hingga ketua OSIS harus berani membuat kesepakatan damai apabila para siswanya terindikasi ada permusuhan dengan sekolah lain.

“Misalnya sekolah A dan B ini sudah menjadi musuh bebuyutan. Mata rantai permusuhan ini harus diputus. Caranya didamaikan secara resmi. Otoritas sekolah dan ketua OSIS punya kunci besar dalam hal ini,” jelas dia.

Peran alumni pun juga bisa dimaksimalkan menurut dia. Dalam hal ini alumni bisa memberikan arahan yang baik bagi para adik tingkatnya.

Sementara itu forum yang beranggotakan para akademisi perguruan tinggi serta praktisi hukum itu pun menyoroti kinerja kepolisian.
Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Trisno Rahardjo menyatakan, terkait aksi klithih yang sedang marak itu sedianya bisa diminimalisasi oleh polisi.

Trisno meyakini, sebenarnya kepolisian punya cukup data dan informasi hanya saja belum dimaksimalkan.

“Mengapa saya katakan itu karna setelah kejadian yang merenggut nyawa siswa SMA Muhamadiyah 1 Jogja, selang sehari ada upaya kekerasan serupa di Kulonprogo. Tapi polisi bisa menggagalkan,” paparnya.

Dari fakta tersebut, jelas dia, artinya kepolisian memailiki jaringan kuat untuk pencegahan. Hanya saja tidak dimaksimalkan.

Dalam kesempatan itu tim advokasi juga menegaskan komitmennya akan mengawal kasus kekerasan yang menyebabkan meninggalnya siswa SMA Muhi sampai tuntas.

“Harapan kami kejaksaan bisa memeriksa serta mengumpulkan bukti sehingga optimal. Advokasi juga kami lakukan di luar pengadilan lewat forum pencegahan agar aksi teror ini tidak terjadi lagi,’ tegas Trisno.

lowongan kerja, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply



2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…