Ketua FPI Sragen Mala Kunaifi bersitegang dengan Kapolres Sragen, AKBP Cahyo Widiarso, karena tidak dizinkan merazia atribut natal di dalam swalayan Mitra Sragen, Rabu (21/12/2016). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos) Ketua FPI Sragen Mala Kunaifi bersitegang dengan Kapolres Sragen, AKBP Cahyo Widiarso, karena tidak dizinkan merazia atribut natal di dalam swalayan Mitra Sragen, Rabu (21/12/2016). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)
Kamis, 22 Desember 2016 14:30 WIB Moh.Khodiq Duhri/Jafar Sodiq/JIBI/Solopos.com Sragen Share :

Ini Rekaman Detik-Detik Kapolres Sragen Hardik Ketua FPI

Kapolres Sragen berdebat dengan Ketua FPI Sragen yang hendak melakukan sweeping di Swalayan Mitra.

Solopos.com, SRAGEN – Beredar video Kapolres Sragen AKBP Cahyo Widiarso tampak menghardik ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Front Pembela Islam (FPI) Sragen, Mala Kunaifi. Insiden yang diberitakan Solopos.com Kamis (22/12/2016) ini sempat menjadi viral di kalangan publik media sosial (netizen).

Video kejadian menghebohkan itu diunggah akun Youtube Sukowati Channel, Rabu (21/12/2016). Akun ini menulis “Polisi berhasil menggagalkan sweeping atribut natal yang akan digelar FPI di Swalayan Mitra Sragen” di keterangan video.

Intinya kita hanya memastikan bahwasanya di dalam itu memang sudah tidak ada saudara saya (umat Islam) yang memakai atribut daripada orang-orang Nasrani. Itu tok, sudah,” kata Mala dalam pembukaan rekaman itu.

Tak berselang lama, Kapolres Sragen AKBP Cahyo mendatangi Mala dan mengajaknya berbicara. AKBP Cahyo lantas meminta Mala untuk meninggalkan lokasi.

Mala tak lantas memenuhi permintaan Kapolres Sragen. Dia justru meminta agar polisi ikut mengawal aksi mereka. Mala mengaku hanya ingin melihat keadaan di dalam.

Mendengar pernyataan Mala, AKBP Cahyo bereaksi dengan nada tinggi. “Enggak ada!” hardik AKBP Cahyo.

Pada saat yang sama, di tengah perdebatan keluar celetukan “tidak bisa diajak ngomong baik-baik ya.” Sayangnya tak jelas celetukan ini berasal dari mana.

Terlepas dari itu, pernyataan AKBP Cahyo ini lagi-lagi membuat Mala tetap bergeming.

“Tidak ada ormas yang bisa menggeledah dan merazia,” ujar AKBP Cahyo yang lantus dibantah Mala. “Hlo, bukan menggeledah, tidak razia ini. Kita Bukan razia, bukan geledah,” sahut Mala.

“Enggak ada saya bilang!” katanya sembari sesekali melempar senyum.

Mendapat respons demikian, Mala malah mengkonfrontasi AKBP Cahyo. Mala terus menegaskan bahwa dirinya hanya akan melihat-lihat keadaan di dalam.

Di lokasi yang sama, Anggota Polres Sragen lain, Ali ikut larus dalam perdebatan. Sosok berpangkat briptu itu tidak kalah tegasnya mendebat Mala yang tidak mau meninggalkan lokasi.

Ali mengatakan, Mala dan anggotanya tidak bisa bertindak melakukan pemeriksaan ke setiap toko di swalayan itu. “Itu nafsa-nafsi [urusan masing-masing]. Antum [kamu] enggak bisa ngelarang ranahnya pemilik toko. Antum itu gimana sih,” kata Briptu Ali.

Briptu Ali terus mendebat saat Mala hendak berbicara. “Rahmatan lil alamin-nya di mana, hah? Rahmatan lil alamin-nya di mana!” katanya lagi.

AKBP Cahyo sesekali masuk dalam perdebatan Mala dan Briptu Ali yang tampak berapi-api. “Nabi turun ke dunia untuk membuat manusia akhlakul karimah,” kata AKBP Cahyo menimpali Briptu Ali.

Setelah lama berdebat, anggota FPI akhirnya meninggalkan swalayan Mitra. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke swalayan Luwes di Jl. Raya Sukowati No. 386. Mereka sempat berhenti di depan Luwes, namun melihat banyaknya aparat yang menjaga swalayan ini mereka melanjutkan perjalanan ke arah timur.

Salah satu mobil yang ditumpangi rombongan FPI berhenti di depan salah satu toko modern di kawasan Nglorog. Polisi yang mengawal mereka ikut berhenti di sekitar lokasi. Namun, rombongan FPI itu berhenti bukan untuk merazia atribut natal di dalam toko modern itu. Mereka turun dari dalam mobil untuk mengganti ban belakang yang bocor.

Pantauan Solopos.com, sebelum mendatangi swalayan Mitra, rombongan anggota FPI Sragen mendatangi Gedung DPRD Sragen. Di sana mereka ditemui Kapolres dan Dandim Sragen Letkol (Inf) Denny Marantika.

Dalam pertemuan itu, Mala Kunaifi mengajak polisi dan TNI mengawal mereka masuk ke swalayan dengan maksud merazia atribut natal yang dikenakan kaum muslim. Akan tetapi, ajakan itu ditolak Kapolres dan Dandim.

Kapolres meminta FPI mengurungkan niat untuk merazia atribut natal di swalayan karena bukan kewenangan ormas untuk menggeledah pusat perbelanjaan. Keluar dari Gedung DPRD Sragen, rombongan anggota FPI menuju swalayan Mitra di Jl. Raya Sukowati No. 156c.

Pintu masuk swalayan itu sudah dijaga ketat polisi bersenjata laras panjang. Di depan pintu masuk, Mala kembali meminta polisi mengawal anggota FPI merazia atribut natal. Namun, ajakan itu kembali ditolak mentah-mentah oleh Kapolres. Hingga terjadi keributan tersebut.

lowongan pekerjaan
PT. TUMBAKMAS NIAGASAKTI, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Generasi Milenial dan Politik

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (14/11/2017). Esai ini karya Lukmono Suryo Nagoro, editor buku yang tinggal di Kota Solo. Alamat e-mail penulis adalah lukmono.sn@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Baru-baru ini lembaga think tank yang bermarkas di Tanah Abang, Jakarta, Centre for…