Pembalap muda Solo, Diptya Oktadewa, bersiap mengikuti balapan di Kejuaraan Internasional Karting, Singapore Turf Club (SCT) Rok Club 2016 di KF1 Karting Circuit, Kranji, Singapura, November 2016. (Istimewa) Pembalap muda Solo, Diptya Oktadewa, bersiap mengikuti balapan di Kejuaraan Internasional Karting, Singapore Turf Club (SCT) Rok Club 2016 di KF1 Karting Circuit, Kranji, Singapura, November 2016. (Istimewa)
Rabu, 21 Desember 2016 11:30 WIB Chrisna Chanis Cara/JIBI/Solopos Balap Share :

Pembalap Muda Solo Ini Enggan Ikuti Jejak Rio Haryanto

Diptya Oktadewa tak ingin berlaga di F1 seperti Rio Haryanto.

Solopos.com, SOLO — Diptya Oktadewa ternyata enggan mengikuti jejak Rio Haryanto yang membalap di ajang Formula 1 (F1). Pembalap muda asal Solo yang baru saja bersinar di Kejuaraan Internasional Karting, Singapore Turf Club (STC) Rok Club 2016 itu memiliki impian lain yakni menjadi pembalap touring.

Saat ini sang pembalap yang akrab disapa Dio itu tengah mengikuti sesi latihan di Sirkuit Sentul, Bogor. Latihan sudah digeber sejak pekan lalu untuk persiapan mengikuti ajang Rok Club 2017. Seri balapan pertama akan digelar di Sentul pada 22 Januari 2017. “Iya ini kami sedang intens latihan. Persiapan untuk race tahun depan,” ujar Dicky Septiawan, mentor Dio saat dihubungi Solopos.com, Selasa (20/12/2016).

Dio, 14 tahun, mengawali karier balapannya tahun ini dengan mengikuti kejuaraan gokart di Singapura. Di ajang perdananya itu, Dio langsung merebut juara ketiga di seri Singapura. Namanya pun mulai dihubung-hubungkan dengan Rio Haryanto, pembalap asal Solo yang sukses menembus ajang F1.

Namun Dicky menampik peluang anak asuhnya berkarier di jalur yang sama dengan Rio. “Ekspektasi itu terlalu tinggi. Butuh dana yang amat besar untuk menyokong hal itu,” tutur mantan pembalap road race kawakan era 90-an tersebut.

Dicky melihat tak mudah mencari sponsor untuk pembalap di Indonesia. Padahal untuk merangkak ke F1, pembalap perlu melalui sejumlah ajang seperti GP3 dan GP2. Hal itu juga dilakukan Rio Haryanto sebelum menembus kursi Manor Racing musim ini. Rio butuh enam tahun untuk bisa membalap di ajang jet darat sejak mengikuti GP3 pada 2010.

“Jadi saya lebih mengarahkan Dio agar menjadi pembalap touring. Ajang itu juga tak kalah prestisius jika Dio mampu menembus Asia Touring Car atau kejuaraan serupa di Eropa,” ujarnya.

Dengan talenta yang dimiliki Dio, Dicky optimistis dua atau tiga tahun lagi anak asuhnya itu dapat mengikuti kejuaraan touring internasional. Untuk tahun depan, pihaknya masih fokus menjuarai Rok Cup 2017 yang berisi 15 seri balapan. Rok Cup digelar di sejumlah negara seperti Indonesia, Singapura, Taiwan dan Tiongkok.

lowongan kerja
lowongan kerja SALES SMARTFREN, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

senin 5 juni

Kolom

GAGASAN
Etika dan Hukum di Media Sosial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (9/6/2017), Agus Riewanto, pengajar Fakultas Hukum UNS Solopos.com, SOLO–Baru saja kita melihat fenomena tindakan persekusi, yakni tindakan pemburuan secara sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga kemudian disakiti atau diintimidasi dan dianiaya karena mengekspresikan…