Warga Rembang yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menggelar aksi mengawal putusan Mahkamah Agung yang membatalkan SK Gubernur Jateng Tahun 2012 tentang izin lingkungan penambangan oleh pabrik semen, di Semarang, Jateng, Senin (19/12/2016). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo) Warga Rembang yang tergabung dalam Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) menggelar aksi mengawal putusan Mahkamah Agung yang membatalkan SK Gubernur Jateng Tahun 2012 tentang izin lingkungan penambangan oleh pabrik semen, di Semarang, Jateng, Senin (19/12/2016). (JIBI/Solopos/Antara/R. Rekotomo)
Rabu, 21 Desember 2016 15:50 WIB JIBI/Solopos/Antara Semarang Share :

PABRIK SEMEN PATI
Penolak Pabrik Semen Terancam Kriminalisasi

Pabrik semen di Pegunungan Kendeng, eks Keresidenan Pati kemungkinan membuat para penolaknya terancam kriminalisasi.

Solopos.com, SEMARANG — Warga pencinta kelestarian lingkungan hidup yang menolak pembangunan pabrik semen di Pegunungan Kendeng, eks Keresidenan Pati, Jawa Tengah (Jateng) dituduh didalangi pihak tertentu. Mereka selanjutnya terancan dikriminalisasi seiring desakan anggota Komisi VI DPR kepada polisi untuk melakukan proses hukum atas penolak eksplorasi Pegunungan Kendeng itu.

“Kami minta polisi turun tangan menyelidiki siapa di balik para penolak semen dan pihak yang bermain dalam konflik pabrik semen Rembang,” kata anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik Pangarso saat dihubungi Kantor Berita Antara melalui saluran telepon dari Semarang, Rabu (21/12/2016).

Komisi VI DPR RI membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, usaha kecil menengah, dan Badan Usaha Milik Negara. Menurut dia, investasi pendirian pabrik PT Semen Indonesia yang mencapai Rp4,9 triliun itu jumlahnya besar dan kalau dihentikan dapat merugikan keuangan negara.

Legislator asal Daerah Pilihan Jawa Tengah II itu mengaku sudah meninjau langsung pabrik PT Semen Indonesia di Rembang dan tidak ada alasan menghentikan operasional pabrik karena masyarakat di sekitar sangat mendukung pembangunan. “Kami sudah ke sana, saya tanya masyarakat semua mendukung kok, yang menolak cuma sedikit,” ujar politikus Partai Golongan Karya itu.

Legislator itu mengaku setuju dengan pernyataan Bupati Rembang Abdul Hafidz yang menyebut bahwa kompetitor berada di belakang berbagai aksi warga yang menolak pendirian dan beroperasinya pabrik semen di daerah setempat. Sama seperti Bupati Rembang Abdul Hafidz, Bowo juga tidak secara spesifik menyebut siapa kompetitor yang dimaksud dan hanya menyatakan bahwa saat ini beberapa pabrik semen swasta sudah mengajukan izin pendirian di Jateng.

“Pabrik semen mana saja mau berdiri silakan. Akan tetapi, dengan persaingan yang sehat dan pemerintah juga harus mendahulukan milik negara,” katanya.

Ia berpendapat bahwa Presiden Joko Widodo segera mengambil sikap terkait dengan polemik pendirian pabrik semen Rembang dan tidak membiarkan Kementerian BUMN dan Kementerian Lingkungan Hidup berjalan sendiri-sendiri. Selain itu, Presiden Jokowi menurut dia, juga tidak boleh membiarkan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebagai pihak yang disalahkan berbagai pihak.

Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah Masruhan Syamsurie mendukung pendirian semen Rembang karena kebutuhan semen saat ini sangat penting untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang sedang gencar dilaksanakan Presiden Jokowi dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. “Keberadaan pabrik semen juga membawa efek berantai yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Rembang,” ujarnya.

Kendati demikian, kata Masruhan, pemerintah harus menyelesaikan lebih dahulu polemik pendirian pabrik semen di Pegunungan Kendeng, wilayah eks Keresidenan Pati di tengah masyarakat.

KLIK dan LIKE di sini untuk lebih banyak berita Semarang Raya

 

LOWONGAN PEKERJAAN
WEDHANGAN GULO KLOPO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…