Sultan HB X dan GKR Hemas berfoto bersama sejumlah penulis buku Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas di The Karaton Ballroom, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel, Rabu (21/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja) Sultan HB X dan GKR Hemas berfoto bersama sejumlah penulis buku Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas di The Karaton Ballroom, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel, Rabu (21/12/2016). (Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja)
Rabu, 21 Desember 2016 18:20 WIB Holy Kartika N.S/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

Buku Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas Diluncurkan

Buku Memaknai Tumbuk Ageng GKR Hemas diluncurkan

Solopos.com, JOGJA- Buku tentang Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas, permaisuri Keraton Yogyakarta diluncurkan. Buku ini menjadi penanda usia ke 64 GKR Hemas.

Buku ini menceritakan sepak terjang GKR Hemas dalam bidang advokasi, pemberdayaan dan dalam membangun pluralisme di Jogja.

“Terlebih ia telah memasuki tumbuk ageng [usia 8 windu/64 tahun]. Kalau tidak ada dokumen tertulis, siapa yang akan tahu sepak terjang beliau?” kata Ketua Panitia, Faraz Umayan, di tengah peluncuran buku Memaknai Tumbuk Ageng GKR HemasĀ  di The Karaton Ballroom, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel, Rabu (21/12).

Bak sebuah Negeri Dongeng, seorang ratu akan dikelilingi para pelayan kerajaan dan hidup mewah di istana yang megah. Namun, kesan ratu yang umumnya demikian tak tampak pada sosok Gusti Kanjeng Ratu Hemas.

“Jangan dibayangkan Bu Ratu [sapaan GKR Hemas] itu seperti Ratu Elizabeth. Dia itu anak tentara yang terbiasa apa-apa sendiri,” beber Sultan HB X ketika memberikan testimoni di tengah peluncuran buku Memaknai Tumbuk Ageng GKR HemasĀ  di The Karaton Ballroom, Royal Ambarrukmo Yogyakarta Hotel, Rabu (21/12).

Kendati hanya membacanya secara singkat, kumpulan kisah dalam buku hijau setebal kurang lebih 272 halaman itu menampilkan cerita menggelitik bagi GKR Hemas. Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI itu merasa tersanjung diberikan ruang sebagai simbol.

“Seharusnya tidak mesti ada simbol untuk diri saya. Saya terkesan dengan yang disampaikan mereka [penulis] bagaimana melihat peran-peran saya itu menjadi simbol yang dapat diharapkan masyarakat. Ternyata saya masih menjadi acuan beberapa perempuan,” jelas GKR Hemas.

Selengkapnya, di Harian Jogja versi cetak edisi Kamis (22/12/2016).

lowongan pekerjaan
SALESMAN/GIRL, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…