Anggota Brimob Polda Metro Jaya menjaga lokasi penggerebekan dan penembakan terduga teroris di Setu, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/12/2016). (JIBI/Solopos/Antara/Muhammad iqbal)
Rabu, 21 Desember 2016 22:00 WIB Muhammad Khadafi/JIBI/Bisnis Peristiwa Share :

BOM TANGSEL
Teroris Lokal Diduga Makin Kuat dengan Basis ISIS di Filipina

Bom Tangsel menjadi peringatan bagi penegak hukum. Sel teroris lokal diduga semakin kuat jika ISIS membangun basis di Filipina Selatan.

Solopos.com, JAKARTA — Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo meminta penegak hukum berkerja ekstra mengawasi jaringan terorisme dalam negeri. Tertangkapnya terduga kelompok teroris dengan bom yang masih aktif di Tanggerang Selatan, Rabu (21/12/2016) membuktikan bahwa sel terorisme dalam negeri masih aktif.

“Mereka terus mencari ruang untuk merusak ketahanan nasional. Luar biasa mereka sudah berani mengincar istana negara,” kata Bambang, Rabu.

Dia juga meminta penegak hukum memerhatikan komunikasi jaringan sel terorisme dalam negeri dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Dia menduga sel-sel terorisme dalam negeri masih aktif dan diduga akan semakin kuat jika ISIS membangun basis di Asia Tenggara.

Hal itu, kata Bambang, sempat diungkapkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmanto saat bertemu dengan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dua pekan lalu. Gatot mengingatkan bahaya terorisme semakin dekat karena kelompok ISIS memilih Filipina Selatan untuk membangun basisnya.

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Duterte mengemukakan bahwa ISIS akan mendirikan kekhalifahan baru di empat negara Asia Tenggara, yakni Filipina, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Apabila Filipina Selatan menjadi basis ISIS, perairan di wilayah itu akan dimanfaatkan untuk suplai persenjataan dan peralatan lain yang dibutuhkan ISIS.

Saat ini kelompok Abu Sayyaf masih sibuk membajak dan meminta uang tebusan. Tidak tertutup kemungkinan mereka akan memperkuat aktivitas ISIS. Jika tidak ditangkal sejak dini, ketahanan nasional akan menghadapi ujian yang berat.

Selain itu, berdasarkan pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Ppolhukam) pada akhir Oktober 2016, ada 53 warga negara Indonesia (WNI) simpatisan ISIS kembali ke tanah air. Masalah ini sudah dilaporkan kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius.

“Pertanyaannya mereka kembali untuk apa? Menjalani kehidupan normal atau untuk mewujudkan rencana ISIS membangung kekhalifahan di Asia Tenggara,” ujarnya.

Di luar itu semua, Bambang mengapresiasi Datasemen Khusus (Densus) 88 atas penangkapan teroris beberapa waktu terakhir. Namun, hal itu jangan sampai membuat kepolisian malah berpuas diri dan lengah.

LOWONGAN PEKERJAAN
WEDHANGAN GULO KLOPO, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…