Ilustrasi proyek pembangunan perumahan (Paulus Tandi Bone/JIBI/Bisnis) Ilustrasi proyek pembangunan perumahan (Paulus Tandi Bone/JIBI/Bisnis)
Selasa, 20 Desember 2016 23:20 WIB Bernadheta Dian Saraswati/JIBI/Harian Jogja Kota Jogja Share :

PROPERTI JOGJA
Kondisi Ekonomi Lemah & Teror Bom, Daya Beli Turun

Properti Jogja untuk beberapa waktu ini sempaat menurun.

Solopos.com, JOGJA — Melemahnya kondisi ekonomi Indonesia disebut-sebut menjadi pemicu menurunnya daya beli masyarakat terhadap produk properti. Pengembang pun berharap tahun depan ada angin segar yang memulihkan bisnis mereka.

Manager Marketing and Business Investment PT Aryaguna Putra Heru Agung Prabowo mengatakan, dari sisi kunjungan konsumen ke kantor maupun ke pameran untuk mengetahui informasi produk propertinya terbilang turun. Biasanya, kata Heru, setiap hari selalu ada orang yang datang untuk mengggali informasi.

“Kalau kantor kami sebenarnya masih stabil tetapi memang jangka waktunya yang agak panjang. Jangkanya tidak seintens dulu. Dulu hampir tiap hari ada yang datang untuk tanya-tanya produk. Sekarang hanya sedikit, dua bulan baru ada yang datang lagi,” katanya saat dihubungi Solopos.com, Senin (19/12/2016).

Selain kondisi ekonomi yang belum stabil, penurunan penjualan properti juga dipengaruhi amnesti pajak yang sedang bergulir saat ini. Program pengampunan pajak tersebut membuat pengusaha besar menahan uangnya untuk sementara waktu.

Adanya aksi teror bom yang terjadi akhir-akhir ini juga berpengaruh terhadap properti. Sejauh ini memang aksi terorisme tidak menyerang Jogja secara langsung meski beberapa waktu lalu ditemukan benda asing yang diduga bom di kawasan Ring Road Utara. “Properti di Jogja akan terus naik kecuali kalau terorisnya terjadi di Jogja. Kalau di luar Jogja pun juga kena imbasnya karena yang disasar adalah kota besar sementara Jogja adalah salah satunya [kota besar],” katanya. Hal ini membuat kekhawatiran bagi kalangan pengembang.

Ia tidak menampik bahwa kondisi yang terjadi selama 2016 ini membuat pengembang cukup panik. Tidak hanya pengembang, tetapi juga para blogger yang harus mengikatkan sabuk lebih ketat lagi untuk menghadapi bisnis properti tahun depan. Ia hanya memprediksi mulai Januari 2017 nanti tanda-tanda pemulihan bisnis properti akan terlihat. Masyarakat akan kembali bergairah untuk membeli produk perumahan.

Sementara itu, Direktur PT Arofa Utama, Ichwan menyebut tren bisnis properti tahun ini memang agak menurun. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti meningkatkan harga tanah yang tak terkendali, kecenderungan konsumen yang menahan diri untuk berinvestasi, proses perizinan yang relatif ketat, harga rumah yang tinggi, dan kemampuan daya beli konsumen yang terbatas.

Menurut prediksinya, pada tahun depan akan terjadi perbaikan bisnis properti. “Ada pengaruh dari kebijakan penurunan Pajak Penghasilan (PPh) dan konsumen juga sudah mulai beradaptasi dengan perkembangan harga properti,” katanya.

lowongan pekerjaan
PT. Astra International Tbk-isuzu, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Darmanto Jatman Bercerita Jawa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (15/01/2018). Esai ini karya Bandung Mawardi, seorang kritikus sastra. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com. Solopos.com, SOLO–Rumah dalam pemahaman peradaban Jawa adalah ruang hidup untuk menjadikan manusia ada dan berada. Pemahaman itu menunjukkan konstruksi…