Suasana di Restoran Social Kitchen yang berlokasi di Jl Abdul Rahman Saleh No 1, Banjarsari Solo, Rabu (1/5/2013). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos) Suasana di Restoran Social Kitchen yang berlokasi di Jl Abdul Rahman Saleh No 1, Banjarsari Solo, Rabu (1/5/2013). (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)
Selasa, 20 Desember 2016 13:22 WIB Rini Y/Irawan Sapto A/JIBI/Solopos Peristiwa Share :

Inikah Alasan Resto Sosial Kitchen Solo Disweeping?

Resto Social Kitchen Solo disweeping oleh sekelompok massa berjubah.

Solopos.com, SOLO — Resto Social Kitchen Solo yang terletak di Stabelan, Banjarsari Solo belakangan jadi perhatian publik setelah aksi sweeping, Minggu (18/12/2016) dini hari oleh sekelompok massa.

Resto yang beroperasi sejak Mei 2013 ini memanfaatkan bangunan rumah berarsitektur kolonial lama ini menempati kawasan dekat Monumen 45 Banjarsari yang kini menjadi ruang terbuka hijau. Resto Social Kitchen boleh dibilang restoran elite dengan harga-harga cukup menggigit.

Pengalaman Solopos.com saat santap malam di restoran itu pada pertengahan Mei lalu, resto dengan menu chinnesse food dan western ini menyajikan ruang-ruang makan yang privat. [Baca juga: Penjelasan Direktur Social Kitchen Soal Konsep Restoran]

Beda halnya dengan restoran lain yang biasanya menata kursi dan meja berjajar di ruang berukuran besar, Social Kitchen juga menawarkan ruang-ruang privat untuk menikmati santapan.

Ukuran ruang privat ini bervariasi tergantung kocek konsumen. Semakin luas ukuran ruangannya maka kocek yang dirogoh makin dalam. Fasilitas dalam ruangan memang lumayan bikin nyaman, selain meja kursi yang tertata rapi juga tersaji pesawat televisi ukuran besar sebagai “teman” bersantap.

Ruang-ruang privat ini banyak dimanfaatkan oleh konsumen dari kalangan keluarga, perusahaan untuk menjamu relasi hingga para remaja. Layanan para pelayan pun bak layanan hotel. Mereka dengan sigap akan datang dan mengambil piring-piring bekas makanan, cukup dengan kita melambaikan tangan.

Dalam beberapa bulan terakhir, Social Kicthen menambah layanan bar yang memanfaatkan bagian teras samping resto tersebut. Bar yang buka hingga dini hari itu menyajikan live music dan minuman beralkohol.

Warga Mengeluh

Warga RT 002/RW 003 Kelurahan Stabelan, Banjarsari, mengeluhkan operasional restoran di wilayah mereka yang beroperasi hingga larut malam bahkan dini hari.

Salah satu warga RT 002/RW 003 Kelurahan Stabelan, S, 45, merasa terganggu dengan operasional restoran di dekat rumahnya yang kerap memperdengarkan suara musik begitu keras hingga larut malam bahkan dini hari. Dia menyebut suara musik keras tersebut mengganggu jam istirahat warga.

“Suara musiknya sampai menggetarkan kaca rumah saya. Bentuknya restoran tapi untuk dugem. Hal itu rasa sudah tidak sesuai. Suara musik keras bahkan kerap terdengar hingga menjelang subuh pada pukul 03.30 WIB,” kata S yang enggan disebut nama terangnya saat menyambangi Griya Solopos, Minggu (18/12/2016) malam.

S menyampaikan gangguan yang dikeluhkan warga bukan hanya suara musik yang begitu keras, melainkan juga sikap para pengunjung restoran tersebut. Menurut dia, para pengunjung restoran kerap kali menggeber kendaraan begitu keras saat hendak pulang dari restoran. S menyebut beberapa kali pengunjung bahkan terlibat dalam perselisihan atau konflik.

“Warga jelas usul restoran ditutup. Pada Mei lalu saya sempat mengirim surat pemberitahuan kepada Pemkot. Warga mengeluh karena restoran beroperasi hingga larut malam dan mengganggu jam istirahat warga. Tapi sepertinya tidak ada tanggapan. Sampai sekarang tidak pernah ada petugas yang datang untuk mengkonfirmasi ke warga. Operasional restoran juga masih saja mengganggu,” jelas S.

Sweeping

S enggan disebut namanya karena khawatir mendapat ancaman dari pihak-pihak terkait. Dia berharap Pemkot segera ambil tindakan untuk mendengar aspirasi warga Stabelan terkait operasional restoran di Jl. Abdul Rahman Saleh itu. Sementara itu, S menceritakan terjadi keributan di restoran yang dikeluhkan warga tersebut pada Minggu sekitar pukul 01.45 WIB.

“Ada keramaian. Ada aksi dari laskar ke restoran. Saya tidak tahu pasti kejadiannya seperti apa. Mungkin mereka juga terganggu dengan apa yang terjadi di restoran itu. Yang jelas warga Stabelan meminta pemerintah untuk bisa menindaklanjuti keluhan warga. Apa betul operasional restoran tersebut sudah sesuai aturan? Kami merasa tidak pas,” jelas S.

Berdasarkan informasi yang beredar, terjadi aksi sweeping yang dilakukan oleh Laskar Umat Islam Solo (LUIS) di pada Minggu pukul 01.45-02.35 WIB. Sekitar 90 orang terlibat dalam aksi tersebut. Saat dimintai konfirmasi, pejabat humas LUIS, Endro Sudarsono, membenarkan LUIS menyambangi Social Kitchen pada Minggu dini hari. Namun, menurut dia, bukan dalam aksi sweeping.

Endro mengatakan anggota LUIS datang ke Social Kitchen untuk menyodorkan surat permohonan penutupan Sosial Kichen karena dugaan penyalahgunaan izin. “Kami datang baik-baik hanya dengan satu mobil. Saat kami mau bertemu pengelola, tiba-tiba ada masa datang dan masuk ke ruangan. Masa aksi di luar kendali LUIS. Rencana kami ke sana kemungkinan bocor dulu,” kata Hendro melalui sambungan telepon.

Kasus sweeping Social Kitchen kini ditangani Polda Jateng. Hari Senin (19/12/2016) malam Polda Jateng menangkap lima orang yang terlibat dalam aksi tersebut.

lowongan kerja
lowongan kerja SMK Daarul Hidayah Sukoharjo, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…