Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo (tiga dari kiri), memukul kentungan menandai peluncuran aplikasi Petani Jateng di Jatiyoso, Karanganyar, Minggu (18/12/2016). (Kurniawan/JIBI/Solopos) Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo (tiga dari kiri), memukul kentungan menandai peluncuran aplikasi Petani Jateng di Jatiyoso, Karanganyar, Minggu (18/12/2016). (Kurniawan/JIBI/Solopos)
Senin, 19 Desember 2016 01:00 WIB Kurniawan/JIBI/Solopos Karanganyar Share :

PERTANIAN KARANGANYAR
Gubernur Ganjar Luncurkan Aplikasi Petani Jateng di Jatiyoso

Pertanian Karanganyar, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meluncurkan aplikasi untuk petani.

Solopos.com, KARANGANYAR — Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ganjar Pranowo, meluncurkan aplikasi Petani Jateng di Lapangan Belang, Desa Tlobo, Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, Minggu (18/12/2016) siang.

Peluncuran aplikasi tersebut ditargetkan bisa membantu usaha di sektor pertanian, terutama para petani gurem. Aplikasi Petani Jateng menyediakan layanan konsultasi masalah, informasi harga pupuk, harga berbagai komoditas pertanian, cuaca, serta informasi lainnya.

Aplikasi Petani Jateng bisa diunduh di layanan Play Store di telepon seluler (ponsel). Peluncuran aplikasi tersebut dihadiri Dirut Bank Jateng Supriyatno, Direktur Bisnis Bank Jateng Pujiyono, Bupati Karanganyar Juliyatmono, serta petani di Kecamatan Jatiyoso. Dalam paparannya, Gubernur mengatakan petani di Jateng didominasi petani kelas gurem yang kepemilikan lahannya kurang dari satu hektare.

Setiap saat mereka direpotkan mencari pupuk, alat-alat dan mesin pertanian, bantuan benih, hingga pemasaran berbagai komoditas. Kondisi tersebut, menurut Ganjar, menjadi alasan diluncurkan aplikasi Petani Jateng.

Penggunaan teknologi informasi diharapkan bisa membantu setiap aktivitas petani. Petani mana pun bebas mengunggah produk atau komoditas pertanian mereka untuk dijual.

“Tidak usah pakai tengkulak. Tengkulaknya panjenengan sendiri. Lah ini kebiasaan yang akan kami dorong sehingga kesejahteraan petani naik. Kami harapkan provider bisa mendukung ini, buat BTS sebanyak-banyaknya, sebelum berlaku kebijakan baru,” tutur dia.

Ganjar menjelaskan teknologi informasi bila digunakan dengan tepat akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Dia mencontohkan sistem pendidikan di daerah-daerah pelosok di Australia. Pemerintah Australia tidak membuat sekolah di daerah-daerah pelosok.

Untuk melayani pendidikan masyarakat di pelosok digunakan sistem belajar jarak jauh. Dengan menggunakan komputer dan jaringan informasi, guru mendampingi anak belajar. “Persoalan diselesaikan dengan jaringan telekomunikasi, hasilnya luar biasa,” terang Ganjar.

Kejadian serupa terjadi beberapa bulan lalu di Kabupaten Purworejo, Jateng. Ganjar mengisahkan ada warga yang mengeluhkan adanya penyakit yang menyerang pohon pepaya california. Yang bersangkutan mengirim SMS ke SMS Center Ganjar.

“Saya jawab, oke. Setelah itu SMS yang bersangkutan saya teruskan ke penyuluh pertanian dan Dinas Pertanian. Tidak sampai satu jam, yang bersangkutan terkejut karena didatangi penyuluh sambil bilang, sampeyan tadi lapor Pak Gubernur ya?” kisah dia.

Dirut Bank Jateng, Supriyatno, mengatakan aplikasi Petani Jateng merupakan terobosan untuk membantu petani, tidak hanya di Jateng, tapi juga Indonesia. Melalui aplikasi itu petani mudah mengakses pasar dan mendapat solusi dari persoalan yang dihadapi.

Ihwal sedikitnya petani yang melek teknologi ponsel, Supriyatno menyatakan akan melakukan pendampingan. Bank Jateng telah menyiapkan gadget untuk diberikan kepada petani. “Persoalan ini akan kita urai satu-satu. Kita sudah sediakan gadget-nya,” terang dia.

Solusi yang sama akan dilakukan terhadap persoalan lemahnya jaringan Internet di sejumlah daerah. Kecamatan Jatiyoso dipilih sebagai tempat peluncuran aplikasi Petani Jateng untuk membuktikan seberapa jauh aplikasi tersebut bisa diterapkan.

LOWONGAN PEKERJAAN
SUMBER BARU LAND, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Kolom

GAGASAN
Hantu Komunisme Masih Menakutkan Anda?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/12/2017). Esai ini karya Ahmad Djauhar, Ketua Dewan Redaksi Harian Solopos dan Wakil Ketua Dewan Pers. Alamat e-mail penulis adalah eljeha@gmail.com. Solopos.com, SOLO–”Communism? Nyet… nyet… nyet…[Komunisme? Tidak… tidak… tidak…].” Begitulah komentar orang Rusia…