Suasana gerbang masuk sisi barat di Benteng Vastenburg, Solo, Jumat (26/2/2016). Pemkot Solo berencana merevitalisasi jembatan dan gerbang sisi barat tersebut sesuai dengan desain asli yang tersimpan di Belanda. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos) Suasana gerbang masuk sisi barat di Benteng Vastenburg, Solo, Jumat (26/2/2016). Pemkot Solo berencana merevitalisasi jembatan dan gerbang sisi barat tersebut sesuai dengan desain asli yang tersimpan di Belanda. (Ivanovich Aldino/JIBI/Solopos)
Senin, 19 Desember 2016 23:15 WIB Mahardini Nur Afifah/JIBI/Solopos Solo Share :

CAGAR BUDAYA SOLO
Kompleks Benteng Vastenburg Diusulkan Dilabeli Kota Lama

Cagar budaya Solo, sejarawan mendorong Pemkot melabeli kawasan Benteng Vastenburg sebagai kota lama.

Solopos.com, SOLO — Kalangan sejarawan mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memberikan label kota lama untuk kawasan seputar kompleks Benteng Vastenburg. Pelabelan itu sebagai bagian strategi penyelamatan kawasan cagar budaya yang diharapkan bisa menjadi pijakan agar pembangunan ke depan tidak melenceng dari morfologi kota.

Akademisi Prodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto, mengemukakan kota lama atau kawasan fisik yang mengawali pertumbuhan Kota Bengawan ditandai pendirian Benteng Groofmoedigheid (Vastenburg) pada 1745. “Dalam sebuah laporan tertanggal 31 Desember 1745 disebutkan benteng yang dibangun VOC sebagai sarana pertahanan ini sudah berdiri. Pada masa itu Keraton Solo masih bambu-bambu,” terang dia saat ditunjuk menjadi pembicara utama seminar Heritage dan Perubahan Kota di Balai Soedjatmoko, Senin (19/12/2016).

Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Solo ini menjelaskan dirunut dari sejarahnya, dinamika perkembangan kota tidak beranjak dari pusat kota lama. Pada 1791, dalam dokumen sejarah disebutkan Benteng Vastenburg mulanya menjadi penanda keberadaan komunitas kulit putih di Solo. Di benteng tersebut terdapat tempat tinggal perwira dan pejabat politik kompeni.

Menginjak 1821, ketika Kota Solo diduduki Deandels, wajah kota mulai berubah seiring pergantian strategi pertahanan militer dari terpusat menjadi teritorial. Dalam peta 1821 yang dipaparkan di seminar, tergambar mulai ada pembangunan infrastruktur militer di luar Benteng Vastenburg antara lain pembangunan barak kavaleri di Kestalan dan barak artileri di Setabelan.

“Kantor Residen yang sebelumnya berdiri di dalam benteng juga mulai dibangun di luar atau sebelah barat Benteng Vastenburg. Selain itu muncul kompleks permukiman Eropa di selatan Kali Pepe dan sarana hiburannya yang dikenal sebagai Societeit,” jelasnya.

Susanto mengutarakan dalam peta 1832 perkembangan kawasan seputar kota lama semakin pesat dan mengarah ke kota modern seusai perang Diponegoro. Hal itu ditandai dengan berdirinya gereja Gereformeerde Kerk pada 1832 dan diikuti bangunan lain.

Beberapa bangunan di sekeliling Benteng Vastenburg pada masa itu antara lain Nederlandsch Handel Maatschappy pada 1850, De Javasche Bank Agentschap Soerakarta pada 1867 (sekarang gedung lama Bank Indonesia), Societeit Harmonie pada 1874 (sekarang jadi ruko Jl. Arifin), Kantor Telepon pada 1893, Hotel Slier pada 1894 (sekarang menjadi gedung baru Bank Indonesia), hingga Pasar Gede pada 1930.

“Benteng Vastenburg saat itu sangat canggih dan menjadi landmark Kota Solo. Bagian depannya dilintasi trem dan sempat menjadi bagian pusat kota modern pada masanya,” ujar dia.

Bermodal fakta sejarah tersebut, Susanto berharap ke depan kawasan kompleks Benteng Vastenburg mendapatkan label kota lama dari Pemkot Solo. Ia khawatir kawasan aset cagar budaya tersebut bakal digerus pembangunan seiring bertumbuhnya kebutuhan lahan komersial strategis di pusat kota.

Dia mengakui penetapan kawasan kota lama di kompleks Benteng Vastenburg tidak gampang terkait status kepemilikan lahan yang dikuasai banyak pemilik. Namun, Susanto yakin komitmen pemerintah bisa merampungkan persoalan klasik penyelamatan aset cagar budaya itu. Setelah pelabelan Kota Lama Solo, dia berharap arah pengembangan kawasan seputar kompleks Benteng Vastenburg arif dan tidak mengabaikan aspek kesejarahan.

Sejarawan muda, Heri Priyatmoko, yang hadir dalam diskusi tersebut sependapat penyelamatan kawasan kompleks Benteng Vastenburg diupayakan lewat pelabelan kota lama. “Penyelamatan kawasan seputar Benteng Vastenburg penting agar tidak diutak-atik. Di sana masih ada heritage kampung Belanda Loji Wetan, gedung DHC ’45, gedung BI, dan sebagainya,” ujar dia.

lowongan pekerjaan
Carmesha Music School, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

Koboi Samas Akhirnya Ditangkap

Polisi menangkap penembak brutal di Pantai Samas. Solopos.com, BANTUL— Sempat jadi buron, pelaku penembakan terhadap wisatawan di Pantai Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Minggu (15/10/2017), akhirnya tertangkap. Pelaku yang bernama Eko Dwi Prasetya, 34, warga Kulonprogo itu ditangkap oleh jajaran…