Sejumlah orang membawa Kebo Ketan menuju lapangan Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren, dalam Upacara Kebo Ketan, Minggu (18/12/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com) Sejumlah orang membawa Kebo Ketan menuju lapangan Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren, dalam Upacara Kebo Ketan, Minggu (18/12/2016). (Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com)
Senin, 19 Desember 2016 23:05 WIB Abdul Jalil/JIBI/Madiunpos.com Madiun Share :

Bupati Ngawi Minta Alas Begal dan Alas Dares Jadi Lahan Konservasi Alam

Bupati Ngawi mengusulkan Alas Begal dan Alas Dares jadi lahan konservasi.

Solopos.com, NGAWI — Bupati Ngawi, Budi Sulistyono, meminta Perum Perhutani mengubah lahan pertanian di kawasan Sendang Marga dan Sendang Ngiyom di Alas Begal dan Alas Dares, Kecamatan Widodaren, sebagai lahan konservasi alam. Hal ini supaya lahan tersebut bisa menjadi kawasan resapan air yang efektif.

“Lahan di sekitar Sendang Marga dan Sendang Ngiyom saat ini banyak yang dijadikan lahan pertanian. Padahal sebenarnya itu adalah lahan konservasi alam,” kata Budi seusai mengikuti acara Upacara Ketan di lapangan Desa Sekarputih, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Minggu (18/12/2016). Baca juga: Ribuan Orang Ikuti Upacara Kebo Ketan di Ngawi

Budi menuturkan nantinya tanah seluas 1 km persegi di dekat sendang itu akan diubah menjadi lahan konservasi. Sedangkan petani yang menggarap sawah itu akan diberi tempat lain untuk bercocok tanam.

Budi juga mengapreasiasi kegiatan seni upacara Kebo Ketan yang digagas Baramantyo Prijosusilo itu. Dia menilai kegiatan itu penuh nilai tradisi dan budaya. Dalam kegiatan itu juga disinggung nilai-nilai untuk merawat dan melestarikan lingkungan.

“Acara ini untuk mengembalikan budaya syukur, budaya gotong royong dan Mas Bram mempunyai ide berupa seni budaya yang diwujudkan dalam acara Upacara Kebo Ketan ini,” jelas dia.

Menurut dia, budaya gotong royong yang selama ini dijunjung masyarakat saat ini semakin memudar. Selain itu, dalam upacara ini juga ditampilkan kegiatan syukur kepada Tuhan yang disimbolkan dalam bentuk persembahan.

“Salah satu nilai budaya gotong royong yang disampaikan pada kegiatan ini yaitu acara ini diselenggarakan bersama-sama. Seperti pembuatan replika kebo ketan yang ditaburi 2 kuintal ketan. Ini juga hasil dari gotong royong,” terang dia.

Lebih lanjut, Budi meminta Upacara Kebo Ketan bisa diselenggarakan pada tahun-tahun berikutnya. Kegiatan ini untuk mengampanyekan budaya gotong royong dan mencintai lingkungan.

Sutradara Upacara Kebo Ketan, Bramantyo Prijosusilo, menuturkan salah satu pesan yang ingin disampaikan lewat Upacara Kebo Ketan yaitu ajakan untuk mencintai dan melestarikan lingkungan. Menurut dia, saat ini kondisi alam di berbagai daerah sudah mengkhawatirkan dan salah satunya di Kecamatan Widodaren yang juga semakin mengkhawatirkan.

lowongan kerja
lowongan personalia, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


3

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…