Tak hanya dodol, Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) Tunggak Semi menyediakan varian olahan lidah buaya lainnya seperti madu, selai, kripik, dan cendol, (7/12/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja) Tak hanya dodol, Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) Tunggak Semi menyediakan varian olahan lidah buaya lainnya seperti madu, selai, kripik, dan cendol, (7/12/2016). (Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja)
Minggu, 18 Desember 2016 13:20 WIB Sekar Langit Nariswari/JIBI/Harian Jogja Kulon Progo Share :

UMKM KULONPROGO
Dodol, Es Krim hingga Teh Lidah Buaya, Mau?

UMKM Kulonprogo berupa olahan lidah budaya menjadi panganan alternatif.

Solopos.com, KULONPROGO — Olahan lidah buaya awam dikenal sebagai kuliner asal Pontianak, Kalimantan Barat. Kini, masyarakat Kulonprogo dapat memperoleh varian olahan aloe vera ini di rumah produksi Kelompok Asuh Keluarga Binangun (KAKB) Tunggak Semi, Kedundang, Temon.

Rumah produksi sekaligus gerai penjualan ini tepatnya berlokasi di Dusun Kedundang 3 RT 18 RW 7, Kedundang, Temon. Selain dodol lidah buaya, Siwidati, Ketua KAKB Tunggak Semi mengatakan kelompok juga menyediakan selai, sirup, madu, keripik, dan teh. Untuk kebutuhan atau acara khusus, mereka juga bisa menyediakan cendol, es krim, dan puding lidah buaya.

“Es buah lidah buaya juga kami sediakan di kedai tak jauh dari sini,”ujarnya kepada Harianjogja.com awal Desember lalu.

Beragam makanan tersebut dijual dengan harga yang terjangkau mulai dari kisaran Rp1.000 hingga Rp75.000 tergantung jenis produk. Siwi mengatakan harga paling mahal dibandrol untuk produk madu lidah buaya karena menggunakan saripatinya sehingga prosesnya lebih sulit dan bahan yang dibutuhkan jauh lebih utama. Harga paling murah dikenakan untuk produk keripik lidah buaya kemasan kecil yang dijual di warung-warung sederhana.

Selain olahan makanan, kelompok ini juga menyediakan bibit dan tanaman lidah buaya bagi yang berminat. Siwi menjelaskan jika usaha kuliner ini dirintis ketika ia mendapatkan pelatihan di Pontianak sekitar 2 tahun silam.

“Diajari cara mengolahnya karena sana [Pontianak] kan gudangnya lidah buaya,”ujar ibu 2 anak ini. Ilmu yang didapatnya kemudian dikembangkan hingga menjadi usaha ekonomi dengan omzet Rp20juta per bulan.

Saat ini, produknya sudah dipasarkan ke berbagai toko-toko dan swalayan di Kulonprogo dan sejumlah daerah di Jogja. Adapula, reseller produk ini yang tersebar di kota-kota lain seperti Bandung, Jakarta, Bali, dan Bogor. Namun, jika ingin mendapatkan produk lengkapnya maka berkunjung ke rumah produksinya merupakan pilihan tepat. Untuk produksi, kelompok ini menghabiskan bahan baku mentah sebanyak 300 kilogram per bulan.

Siwi menerangkan jika daya tarik produknya ialah manfaat untuk kesehatan. Paling tidak, lidah buaya bermanfaat untuk melancarkan pencernaan, penyakit maag, dan panas dalam. Menurut dia, daya tarik lainnya sebenarnya bagi kecantikan meski belum bisa direalisasikan dalam bentuk produk olahan oleh kelompoknya.

Ridho Junianto, salah satu pembeli, mengatakan jika olahan kuliner dari lidah buaya ini memang benar terasa menyegarkan.

“Rasanya adem, meskipun keripik kan sebenarnya gorengan,”ujarnya.

Selain itu, keripik lidah buat yang dibelinya juga terasa gurih. Harganya pun dirasa ramah di kantong sehingga tidak memberatkan bagi mahasiswa sepertinya.

Ia juga mencicipinya es lidah buaya yang kebetulan disediakan di rumah produksi tersebut. Istimewanya, es itu juga dilengkapi dengan potongan segar lidah buaya. Ridho mengaku terkejut karena lidah buaya itu terasa kenyal dan bebas dari getah yang yang biasanya menempel di pelepahnya.

lowongan kerja
lowongan kerja PT.MATARAM MANDIRI, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ramadan di Bumi Pancasila

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (7/6/2017). Esai ini karya M. Zainal Anwar, dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Alamat e-mail penulis adalah zainalanwar@gmail.com Solopos.com, SOLO–Di bawah ideologi Pancasila, menjalani puasa Ramadan di Indonesia menyajikan kemewahan luar…