Aktivitas pedagang dan pengunjung Sunday Market Manahan, Solo, Minggu (18/12/2016). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos) Aktivitas pedagang dan pengunjung Sunday Market Manahan, Solo, Minggu (18/12/2016). (Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos)
Minggu, 18 Desember 2016 19:40 WIB Irawan Sapto Adhi/JIBI/Solopos Solo Share :

PENATAAN PKL SOLO
Lapak Kosong Sunday Market Jadi Rebutan

Penataan PKL Solo, puluhan PKL Sunday Market Manahan yang mendapat tempat di bawah velodrome memilih berjualan di lokasi lain.

Solopos.com, SOLO — Puluhan pedagang kaki lima (PKL) Sunday Market Manahan, Solo, enggan menempati lapak di bawah velodrome kompleks Stadion Manahan. Setiap Minggu mereka berebut lahan kosong di lokasi yang strategis.

Ketua Serikat Pedagang Minggu Pagi Manahan (SPMPM), Joko Santoso alias Yuli de Santos, mengatakan PKL yang memperoleh lapak di bawah velodrome kerap rebutan lapak di tempat lain yang dinilai lebih strategis. Menurut dia, PKL yang memperoleh lapak di bawah velodrome sering mengeluh tidak laku. Mereka ingin pindah.

“Banyak pedagang yang enggan berjualan di bawah velodrome. Dagangan mereka tidak laku. Jarang ada pengunjung yang berjalan sampai di bawah velodrome. Maka dari itu pedagang yang dapat jatah lapak di bawah velodrome kerap rebutan tempat agar bisa berjualan di lapak lain yang ditinggal pergi atau libur pemiliknya,” kata Yuli saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (18/12/2016).

Yuli menyebut PKL boleh menempati lapak milik PKL lain asal tidak sedang digunakan atau kosong. PKL akan dikenai kewajiban membayar retribusi sesuai ukuran lapak yang dimanfaatkan tersebut.

Menurut dia, para PKL Sunday Market telah memahami peraturan pemanfaatan lapak di kompleks Stadion Manahan. PKL telah memperoleh lapak masing-masing yang dibagikan Pemkot Solo setelah program penataan.

“Saya yakin pedagang sudah paham soal peraturan penggunaan lapak. Pedagang tidak boleh sembarangan menggunakan lapak yang tersedia. Meski pun kosong, pedagang harus meminta izin kepada pemiliknya atau memberitahukan kepada petugas. Jangan sampai pedagang saling berebut lapak,” tutur Yuli.

Yuli mengakui SPMPM sempat terlibat dalam penghitungan lapak kosong di Sunday Market. Menurut dia, ada sekitar 30 lapak kosong di Sunday Market. Yuli menyebut sebagian besar lapak yang kosong berada di bawah velodrome.

Dia menuturkan banyak PKL yang memperoleh lapak di bawah velodrome telah pindah berjualan ke lapak lain yang tidak lagi digunakan pemiliknya. “Ada lapak kosong di sejumlah bagian. Namun, lapak-lapak tersebut sudah digunakan pedagang yang awalnya memperoleh lapak di bawah velodrome. Saya tidak mengetahui secara pasti apa penyebab lapak di sejumlah bagian itu bisa kosong. Mungkin saja pemiliknya memilih berjualan di luar Sunday Market, mengingat Sunday Market sempat diliburkan cukup lama,” kata Yuli.

Salah satu PKL Sunday Market, Darmadi Satrowiyono, 48, mengaku omzetnya mulai kembali pulih setelah progran penataan pada Agustus lalu. Dia berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tetap mengizinkan ribuan PKL Sunday Market berjualan di kompleks Stadion Manahan selamanya.

“Sebenarnya kami masih ada rasa khawatir. Semoga saja pemerintah mengizinkan kami berjualan di kompleks Stadion Manahan untuk seterusnya. Penataan pedagang sudah bagus. Pengunjung sudah ramai lagi,” kata Darmadi.

Sebuah mobil masuk di area Sunday Market di kompleks Stadion Manahan, Minggu (18/12) pagi. Sejumlah PKL menilai Sunday Market sudah kembali ramai pengunjung.

Bagian Sirkulasi SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…