Pohon pisang raja seribu yang tumbuh di Dusun Mojo, Desa Sigit, Kecamatan Tangen, menjadi pusat perhatian warga sekitar. Foto diambil Sabtu (17/12/2016). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos) Pohon pisang raja seribu yang tumbuh di Dusun Mojo, Desa Sigit, Kecamatan Tangen, menjadi pusat perhatian warga sekitar. Foto diambil Sabtu (17/12/2016). (Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos)
Minggu, 18 Desember 2016 18:15 WIB Moh. Khodiq Duhri/JIBI/Solopos Sragen Share :

KISAH UNIK
Pohon Pisang Bertandan 2 Meter di Sragen Jadi Buruan Penggemar Selfie

Kisah unik ini terjadi di Sragen di mana ada pisang bertandan sepanjang 2 meter.

Solopos.com, SRAGEN  — Cerita ini bermula pada awal 2016 lalu. Suwar, 53, mengikuti iring-iringan pengantin menuju Mondokan, sebuah kecamatan di ujung utara Bumi Sukowati.

Warga Dusun Mojo, RT 008, Desa Sigit, Kecamatan Tangen, Sragen, saat itu penasaran dengan bibit pohon pisang yang tumbuh di pekarangan warga di Mondokan. Bibit pohon pisang itu belum pernah dilihatnya.

Warga setempat menyebutnya pohon pisang raja seribu. Penasaran dengan jenis buahnya, Suwar memberanikan diri meminta satu bibit pohon pisang itu untuk dibawa pulang.

Oleh Suwar, bibit pohon pisang itu kemudian ditanam di depan rumahnya. Seiring berjalannya waktu, bibit pohon pisang itu tumbuh dewasa. Hingga pada November lalu, jantung pohon pisang itu mulai tumbuh diikuti munculnya bakal buah pisang yang masih kecil membentuk gugusan.

Pertumbuhan tandan pisang itu tidak seperti tandan pisang pada umumnya. Dalam waktu dua bulan, tandan pisang itu tumbuh memanjang hingga dua meter. Meski nyaris menyentuh tanah, belum ada tanda-tanda pertumbuhan tandan pisang itu akan berhenti.

“Kalau pisang pada umumnya hanya memiliki tandan sepanjang kurang dari 1 meter. Tandan pisang ini tumbuh hingga 2 meter dan masih bisa bertambah lagi panjangnya,” papar Suwar saat ditemui wartawan di rumahnya, Sabtu (17/12/2016).

Keunikan pohon pisang itu mengundang perhatian warga sekitar. Pohon pisang itu menjadi buah bibir. Warga terus berdatangan untuk melihat langsung pohon pisang itu. Mereka bahkan menjadikan pisang itu sebagai latar belakang untuk berfoto selfie.

“Hampir tiap hari ada warga yang datang untuk melihat pohon pisang ini. Sebagian dari mereka juga meminta bibit pohon pisang ini untuk dibawa pulang,” terang Wadi, 70, warga setempat.

Sumanto, 43, mengaku datang dari Tangen untuk melihat pohon pisang itu. Dia penasaran dengan pohon pisang yang banyak dibicarakan warga akhir-akhir ini. “Tadi saya sempat berfoto selfie untuk kenang-kenangan bersama pisang unik ini,” kata Sumanto.

lowongan pekerjaan
garment, informasi selengkapnya KLIK DISINI
Loading...

Kolom

GAGASAN
Sapa Salah Seleh

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (17/11/2017). Esai ini karya Tito Setyo Budi, esais, sastrawan, dan budayawan yang tinggal di Sragen. Alamat e-mail penulis adalah titoesbudi@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Ada pepatah tua dalam khazanah budaya Jawa, yaitu sapa salah seleh. Artinya,…