Ilustrasi (ghananewsagency.com) Ilustrasi (ghananewsagency.com)
Minggu, 18 Desember 2016 16:40 WIB Bony Eko Wicaksono/JIBI/Solopos Sukoharjo Share :

HIV/AIDS SUKOHARJO
63 ODHA Meninggal Dunia dalam 3 Tahun

HIV/AIDS Sukoharjo, dalam tiga tahun terakhir ada 63 ODHA yang meninggal dunia di Sukoharjo.

Solopos.com, SUKOHARJO — Sebanyak 63 pengidap atau orang dengan HIV/AIDS (ODHA) meninggal dunia selama kurun waktu tiga tahun terakhir di Sukoharjo. Mereka ditemukan dalam kondisi jumlah virus HIV/AIDS di tubuh cukup banyak atau stadium akhir AIDS.

Hal ini disampaikan Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sukoharjo, Bambang Sudiyono, di sela-sela puncak peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) di Alun-alun Satya Negara, Sukoharjo, Minggu (18/12/2016). Menurut Bambang, masyarakat tidak tahu virus HIV/AIDS telah masuk ke dalam tubuhnya selama bertahun-tahun.

Setelah muncul gejala-gejala AIDS seperti diare dan berat badan turun drastis, para pengidap HIV/AIDS baru terdeteksi saat berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. “Artinya, kesadaran masyarakat yang pernah melakukan hubungan berisiko dengan berganti-ganti pasangan untuk melakukan voluntary counselling and testing [VCT] sangat minim. Hal ini menjadi perhatian serius dan fokus penanganan pencegahan penularan virus HIV/AIDS pada 2017,” kata dia, Minggu.

Hanya satu cara untuk mengetahui status kesehatan masyarakat berisiko tinggi yakni melakukan VCT. Masyarakat bisa mengakses klinik VCT di 12 puskesmas dan rumah sakit di Kabupaten Jamu. Karena itu, petugas kesehatan dibantu warga peduli AIDS (WPA) bakal menggalakkan VCT di wilayahnya masing-masing.

Bambang meyakini masih ada pengidap HIV/AIDS yang belum terdeteksi petugas kesehatan. “Saat ini, tren penyebaran HIV/AIDS tak hanya menyasar kalangan populasi kunci melainkan masyarakat. Tak sedikit buruh, sopir, bahkan petani yang terjangkit virus HIV/AIDS,” terang dia.

Selama periode Januari-November 2016 ditemukan 85 pengidap baru virus HIV/AIDS. Mereka tersebar di 12 kecamatan se-Sukoharjo. Pengidap baru virus HIV/AIDS terbanyak terdapat di Kecamatan Polokarto yakni 22 orang. Artinya, penularan virus HIV/AIDS tak hanya di wilayah perkotaan melainkan perdesaan.

Bambang menyarankan calon pengantin melakukan VCT untuk mengetahui status kesehatannya. “Kami belum ada regulasi yang mengatur mengenai pencegahan penularan HIV/AIDS jadi tak bisa memaksa. Hanya sebatas menyarankan karena VCT bersifat sukarela dan rahasia.”

Sementara itu, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sukoharjo, Suryono, tak memungkiri masih ada stigma di masyarakat bahwa ODHA bisa menularkan virus apabila terjadi kontak fisik sehingga mereka dikucilkan. Padahal, penularan virus HIV/AIDS melalui cairan tubuh, darah, atau air susu ibu yang positif terjangkit HIV/AIDS.

Suryono menambahkan bakal mengoptimalkan mobil VCT yang berkeliling ke perdesaan. “Populasi kunci tetap menjadi fokus utama VCT untuk memutus mata rantai penularan virus HIV/AIDS. Namun, masyarakat berisiko tinggi juga menjadi sasaran VCT,” kata dia.

Harian Umum SOLOPOS, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Kota Penyair Perlawanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (16/8/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, novelis dan esais yang tinggal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 1982,…