Rombongan Majelis Ta'lim se-Potorono saat menggelar kirab budaya di Dusun Mertosanan Wetan, Jumat (16/12) sore. (Harian Jogja/Arief Junianto) Rombongan Majelis Ta'lim se-Potorono saat menggelar kirab budaya di Dusun Mertosanan Wetan, Jumat (16/12) sore. (Harian Jogja/Arief Junianto)
Minggu, 18 Desember 2016 06:20 WIB Arief Junianto/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

Arak-arakan Salawat dan Gunungan Jadi Puncak Perayaan Maulid Nabi di Potorono

Arak-arakan digelar warga Potorono sebagai perayaan Maulid Nabi

Solopos.com, BANTUL– Kirab budaya adalah hal biasa yang dilakukan oleh warga dusun di manapun tempatnya. Tapi jika dilakukan ratusan anggota Majelis Ta’lim, kirab itu jelas tampak berbeda.

Jika biasanya mereka tampak khusyu’ mengaji di mushalla, tidak dengan kali ini. Lebih dari 400 orang anggota majelis ta’lim se-Desa Potorono tumpah ruah di Dusun Mertosanan Wetan, Jumat (16/12/2016) sore.

Empat ekor kuda terlihat tenang. Tapi tidak dengan dengan keempat pengendaranya. Mereka terlihat sedikit panik. “Maklum, Mas. Kami ini baru sekali ini naik kuda,” kata Agung Noviantoro, koordinator acara yang juga salah satu dari empat penunggang kuda itu.

Keempat penunggang itu tampak canggung ketika didapuk sebagai pemimpin rombongan. Di belakangnya, ratusan anggota majelis ta’lim berarak sambil mengumandangkan beragam shalawat. “Ini adalah kali pertama kami menggelar acara ini,” tambah Agung sambil terus membenarkan posisi duduknya di atas pelana.

Kirab Gunungan Ageng. Begitu Agung menyebutnya. Kirab yang memang baru digelarnya tahun ini sekilas tampak seperti kirab budaya pada umumnya. Gunungan raksasa yang memuat hasil bumi masyarakat serta arak-arakan adalah hal biasa dalam setiap acara budaya macam begini.

Tapi yang membuat beda dari kirab budaya pada umumnya adalah pesertanya kali ini dari kalangan anggota majelis ta’lim. Setidaknya ada 3 kelompok majelis ta’lim se-Potorono yang sengaja ambil bagian. Ketiga kelompok majelis ta’lim itu masing-masing adalah Subanul Muslimin, Nurul Ilmi, dan Sabilul Huda.

Tepat pukul 16.00, rombongan mulai bergerak. Rute sepanjang lebih dari 3 kilometer mengitari Balai Desa Potorono harus mereka jalani sambil terus mengumandangkan shalawat. “Ini adalah bentuk rasa syukur kami,” tambah Agung.

Memang, kirab itu digelar bukan sekadar perayaan belaka. Selain memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, kirab itu juga dimaksudkannya sebagai salah satu media perekat persaudaraan, terutama antar umat Islam.

Selama ini, majelis ta’lim adalah kelompok yang cukup ikonik di Potorono. Tak hanya aktif dalam kegiatan keagamaan saja, mereka juga terbilang cukup aktif di beberapa kegiatan sosial kemasyarakat.

Itulah sebabnya, dengan adanya kirab itu, Agung berharap bisa semakin mendekatkan kelompok majelis ta’lim dengan masyarakat. “Jadi tidak hanya berguna bagi kalangan kami sendiri, tapi juga berguna bagi masyarakat luas,” cetus Agung.

Itulah sebabnya, ia yang sehari-harinya bertugas sebagai anggota Polri itu merintis dibentuknya Majelis Subanul Musllimin selama 4 tahun terakhir. Ia berharap, majelis yang berisikan para pemuda itu bisa menularkan virus positif terhadap masyarakat luas.

Nyaris satu jam, ratusan arak-arakan kirab tiba di tempat semula. Dua gunungan besar yang memuat hasil bumi warga diletakkan rapi. Tak lama ratusan warga yang berbaur dengan peserta kirab segera berebut gunungan hasil bumi itu. “Gerebeg gunungan itu adalah puncak acara ini. Sebagai bentuk syukur kami atas semua hasil yang dianugerahkan Tuhan,” ucapnya.

Inisiatif majelis ta’lim itu jelas menjadi angin segar bagi kerukunan warga Potorono. Tak hanya melestarikan budaya saja, kegiatan itu diharapkan bisa menjadi simbol kerukunan umat beragama di Potorono.

“Saya harap kegiatan ini bisa diselenggarakan tiap tahun. Potorono adalah desa. Jadi sebisa mungkin kegiatan seperti ini ya melibatkan semua warga desa, tidak dusun per dusun,” kata Kepala Desa Potorono Prawata.

Setidaknya, kegiatan yang digelar Majelis Ta’lim se-Potorono itu sekaligus menegaskan citra Potorono yang agamis dan relijius. Dengan terbangunnya pondasi relijius yang kuat, Prawata percaya, kualitas sosial kemasyarakatan juga akan terbangun dengan sendirinya.

lowongan kerja
lowongan kerja AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

rabu 31 mei

Kolom

GAGASAN
Ketahanan Psikologis Mencegah Pelajar Bunuh Diri

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (5/6/2017). Esai ini ditulis Ahmad Saifuddin, dosen di Institut Agama Islam Negeri Surakarta dan Sekretaris Lakpesdam PCNU Kabupaten Klaten. Alamat e-mail penulis adalah ahmad_saifuddin48@yahoo.com Solopos.com, SOLO–Pada Sabtu (3/6/2017) saya terkejut ketika membaca Harian…