Ilustrasi Ilustrasi
Sabtu, 17 Desember 2016 05:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share :

KISAH TRAGIS
Lengah, Pasangan Ini Kehilangan Anak Balitanya karena Tersetrum Listrik

Duka mendalam dialami pasangan Andar dan Fitri karena keduanya tidak menyangka kehilangan buah hatinya begitu cepat.

Solopos.com, GUNUNGKIDUL – Orang tua di Gunungkidul harus lebih waspada dan terus melakukan pengawasan terhadap anak, terutama yang masih balita. Pasalnya jika lengah bisa berakibat fatal seperti yang dialami pasangan Andar Setiawan,34, dan Fitri Khusnul Qotimah,30, warga Desa Bleberan, Kecamatan Playen.

Keduanya harus kehilangan buah hatinya, Ahmad Adnan Mustofa,4,dikarenakan tersengat aliran listrik pada Kamis (15/12/2016) siang. Tokoh Masyarakat Desa Bleberan, Sultonah mengatakan, duka mendalam dialami pasangan Andar dan Fitri karena keduanya tidak menyangka kehilangan buah hatinya begitu cepat. Penyebab kematian juga tragis karena korban meninggal saat bermain-main listrik tanpa sepengetahuan orang tua.

“Kebetulan saat kejadian, di rumah korban ada kegiatan memerbaiki rumah. Saat jam Shalat Dhuhur tiba para pekerja pergi beribadah, lha di kesempatan ini digunakan Adnan untuk bermain-main. Celakannya yang dijadikan bahan mainan adalah aliran listrik dengan menggunakan sebuah obeng,” kata Sultonah kepada wartawan, Jumat (16/12/2016).

Dia menjelaskan, kejadian ini baru diketahui saat korban dalam kondisi tergeletak di lantai. Melihat kejadian itu, keluarga pun berusaha memberikan pertolongan dengan membawa Adnan ke rumah sakit. Sayangnya uapaya ini tak membuahkan hasil karena ia meninggal saat diperjalanan. “Sekarang [kemarin] jenazah sudah dikebumikan,” kata wanita yang menjabat sebagai Wakil Ketua PKK Desa Bleberan ini.

Sementara itu, Panit Humas Polres Gunungkidul mengaku belum mendengar laporan adanya balita yang tewas tersengat listrik di Desa Bleberan, Playen. Namun demikian, jika berita tersebut benar adanya ia berharap agar peristiwa itu menjadi pelajaran bersama, terutama dalam upaya pengawasan terhadap anak. “Saya minta para orang tua di Gunungkidul lebih berhati-hati lagi karena jika lengah bisa berakibat fatal,” kata Ngadino.

Menurut dia, pengawasan tidak hanya sebatas untuk anak-anak balita. Namun pengawasan harus dilakukan terhadap seluruh anak hingga mereka yang mulai beranjak dewa. Ngadino berpendapat, upaya ini penting selain memastikan kondisi buah hati dalam keadaan baik, juga menjauhkan dari aksi kekerasan atau eksploitasi terhadap anak. “Saat ini kasus kekerasan anak banyak terjadi. Salah satu upaya pencegahan bisa dilakukan dengan melakukan pengawasan dengan berkelanjutan,” katanya.

lowongan kerja, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply


2

Kolom

GAGASAN
Melawan Hoax Marketing

Gagasan Solopos, Jumat (3/2/2017), Ginanjar Rahmawan, dosen Bisnis dan Kewirausahaan STIE Surakarta yang juga mahasiswa S3 Community Development for SME’s UNS Solo. Beralamat email di rahmawan@stiesurakarta.ac.id. Solopos.com, SOLO — Minggu lalu, 8 Januari 2017, masyarakat anti hoax mendeklarasikan gerakan melawan…