Mbah Kardi di samping andong miliknya yang terparkir di depan rumahnya di Dusun Keyongan Lor, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Jumat (16/12/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja) Mbah Kardi di samping andong miliknya yang terparkir di depan rumahnya di Dusun Keyongan Lor, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Jumat (16/12/2016). (Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja)
Sabtu, 17 Desember 2016 22:17 WIB Irwan A. Syambudi/JIBI/Harian Jogja Bantul Share :

KISAH INSPIRATIF
Mbah Kardi, Sang Kusir Andong yang Menuai Simpati

Kisah inspiratif datang dari Mbah Kardi, kusir andong yang memberikan penghasilan untuk perempuan yang mengaku tersenggol andongnya

Solopos.com, BANTUL– Mbah Kardi ,87, seorang kusir andong mendapatkan simpati dari sejumlah orang setelah andong miliknya bersenggolan dengan sebuah motor dan diminta ganti rugi oleh pengendara motor.

Pada Kamis (15/12/2016) sekitar jam 10.00 WIB, Mbah Kardi mengantar penumpang pertamanya pada hari itu, dari kawasan Pojok Benteng Wetan menuju kawasan Malioboro. Penumpang pertamanya itu kemudian memberikan Rp30.000, sebagai upah jasa andongnya.

Pagi itu Mbah Kardi melewati rute yang biasa dia tempuh dengan andongnya, yakni melalui Jalan Pabelan di sebelah selatan Pasar Beringharjo. Kuda penarik andongnya itu dia arahkan untuk melewati padatnya jalan yang kerap dilewati oleh wisatawan maupun orang-orang yang hendak berbelanja.

Dengan sangat hati-hari dia mengendarai andong dari arah timur menuju barat, melewati kepadatan lalu lintas. Namun tak diketahuinya dan tak juga disangka, seorang perempuan yang sedang berboncengan mengendarai motor trail terjatuh. Perempuan itu mengaku terjatuh akibat tersenggol bagian belakang andong Mbah Kardi.

“Saya tidak tahu karena hanya melihat depan tidak memperhatikan bagian belakang. Kendalinya ada di kuda bagian depan, karena tempatnya juga sempit,” ujarnya kepada Solopos.com, saat di temui dikediamannya di Dusun Keyongan Lor, Desa Sabdodadi, Kecamatan Bantul, Jumat (15/12/2016).

Mbah Kardi tak benar-benar tak mengetahui jika lanju andongnya tersebut telah mengakibatkan seorang pengendara motor terjatuh. Dia baru mengetahui setelah seorang tukang becak memberitahunya dan memintanya untuk berhenti. “Heh berhenti dulu andongmu itu nyerempet orang,” kata Mbah Kardi menirukan seorang tukang becak.

Mengetahui hal itu, dia lantas menghentikan laju andongnya. Mbah kardi juga kemudian menurunkan penumpangnya di kawasan Jalan Pabelan. Dia memutar balik andongnya menghampiri perempuan yang terjatuh itu.

Perempuan itu mengaku terjatuh akibat tersenggol bagian belakang andongnya. Sang perempuan yang terjatuh lantas meminta pertanggungjawaban dari Mbah Kardi. Dia meminta sejumlah uang untuk biaya pijat, karena merasakan sakit setelah terjatuh tersenggol andong.

Tanpa pikir panjang Mbah Kardi mengeluarkan uang Rp30.000 hasil upah dari penumpang pertamanya itu. “Untungnya saya sudah dapat penumpang dan dapat uang Rp30.000,” kata Mbah Kardi. Dia kemudian menawarkan uang Rp20.000 kepada peremuan itu, Rp10.000 sisanya dia maksudkan untuk uang saku saat pulang ke Bantul.

Mendengar penawaran Mbah Kardi, perempuan itu tak sepakat. Dia meminta seluruh uang yang dimiliki oleh Mbah Kardi agar diberikan. Mbah Kardi akhirnya mengalah,  dia mengiklaskan uang hasil kerjanya hari itu untuk diserahkan seluruhnya.

Tanpa memegang uang sepeserpun, Mbah Kardi kemudian memarkir andongnya di kawasan Malioboro berniat mencari penumpang untuk sekedar mendapatkan uang untuk bekal pulang.

Namun setelah lama menunggu tak juga mendapatkan penumpang, sejumlah orang kemudian mendatanginya. Mereka mengaku mengetahui kejadian yang menimpa Mbah Kardi itu melalui salah satu postingan seseorang dari grup Facebook Info Cegatan Jogja.

Karena simpatik melihat keikhlasan Mbah Kardi, sejumlah orang yang mendatanginya siang itu dan memberinya sejumlah uang. “Ada yang kasih Rp100.000 ada yang juga Rp50.000. Lalu ada juga yang datang lagi memberikan makanan,” katanya.

Berbekal uang pemberian itu, Mbah Kardi yang sudah sejak 1972 menjadi kusir andong itu akhirnya pulang. Dia menempuh waktu sekitar satu jam untuk dapat sampai ke rumah.

Diakuinya seberapapun yang uang yang didapat, saat sudah jam tiga atau jam empat sore dia pasti langsung pulang. “Ya meskipun pulang tak membawa apa-apa karena seringnya blong [tak dapat penumpang]. Sampai rumah saya usahakan tak sampai matahari tengelam,” ujarnya.

Tubuhnya yang semakin renta menjadi kendala untuk bisa seperti kusir lain, bekerja hingga larut malam. Mbah Kardi tak pernah memaksakan tubuhnya, jika sudah ada rasa sakit yang dia rasakan dari bagain tubuhnya, entah itu punggung atau kaki maka ia akan istirahat.

Dalam satu pekan, dia hanya mampu bekerja tiga hingga empat hari. Meskipun ramai saat musim liburan tak membuatnya tergiur mencari penumpang. Jika tubuhnya ingin istirahat, maka dia tidak akan berangkat untuk bekerja. “Saya bekerja tidak pasti, kalau terasa lelah ya saya tidak berangkat,” ujarnya.

Sementara itu Istrinya, Mbah Tuminah juga mengatakan bahwa kondisi Mbah Kardi kini sering mengeluh sakit, entah kecapaian atau masuk angin sering dialami suaminya itu. “Kalau tidak bekerja biasanya dia mencari rerumputan untuk pakan kudanya,” Kata Mbah Tuminah.

Pakan kuda tidak hanya rumput saja, harus dicampur dengan dedak. Perhari rata-rata harus mengeluarkan Rp35.000 untuk memberi makan kuda. Sementara penghasilan Mbah Kardi diakui istrinya tak menentu. Sehingga sering kali untuk kebutuhan sehari-hari dia mengandalkan anaknya yang bekerja sebagai supir di Jakarta.

LOWONGAN KERJA
DR. NORMA AESTHETIC CLINIC, informasi selengkapnya KLIK DISINI

Leave a Reply

Kolom

GAGASAN
Nasib Pengarang pada Hari Lebaran

Gagasan ini dimuat Solopos edisi Rabu (21/6/2017). Esai ini karya Anindita S. Thayf, seorang penulis novel dan cerita pendek yang tinggal di Sleman, DIY. Alamat email penulis adalah bambu_merah@yahoo.com. Solopos.com, SOLO–Ada sajak pendek Sitor Situmorang berbunyi: Malam Lebaran / bulan…